Dirga. Bukankah nama itu terbaca begitu merdu? Setiap pagi aku dekat sekali dengan punggungnya, tak sampai sepanjang jari-jariku. Seringkali aku mencoba memberanikan diri untuk memeluk pinggangnya, tapi setiap kali juga tak terjadi. Suara derum mesin motor tak sekeras suara detak jantungku. Hembusan angin tak semenderu embusan nafasku. Merahnya kepiting rebus tak semerona merahnya wajahku. kuharap dia tak melirikku dari kaca spion. Apa yang terjadi denganku? Seluruh dunia pasti bahwa aku jatuh cinta. Namun kenapa bisa seheboh ini? Karena akhirnya cintaku berbalas. Dunia serasa jungkir balik dan hari berlalu lebih menarik.
Aku telah mengenalnya sejauh ingatanku bekerja. Orangtuaku adalah pasangan guru, yang pada zaman dahulu adalah benar-benar seorang pahlawan tanpa tanda jasa, apalagi orang tuaku hanyalah guru swasta. Bayangkan yang pegawai negeri saja pahlawan tanpa tanda jasa, apalagi yang guru swasta. Mereka berangkat selalu bersamaku dan pulang jauh setelahku, hampir bebarengan dengan sang mentari.
Apa ada orangtua yang tega meninggalkan anaknya di rumah sendirian? Tidak, mereka tidak akan tega, orangtua pasti akan mencari pembantu untuk menjaga anaknya kala mereka bekerja seharian. Tapi bagaimana dengan mereka yang tak punya cukup uang untuk membayar pembantu? Mereka tak punya banyak pilihan, mereka akan menitipkannya ke orang lain. Seperti itulah nasibku. Aku dititipkan kepada seorang ibu single parent berjarak dua rumah dari rumahku. Bik Minah namanya.
Bik Minah punya seorang anak, jauh lebih tua dariku, berselisih lima tahun. Dialah Dirga. Seperti keluarga baru pada umumnya, rumah yang kami tempati adalah rumah baru, berada di kompleks perumahan baru. Belum banyak keluarga yang tinggal di perumahan ini, belum banyak anak-anak kecil yang ada. Satu-satunya yang kukenal adalah Dirga. Kemana-mana ia pergi, aku ikut. Apapun permainan yang ia lakukan, aku juga. Dimana dia berada, disitulah aku. Tak terpisahkan.
Waktu berjalan cepat. Ia tumbuh sebagai pemuda tampan sebagaimana mestinya. Sedang aku malah kebalikan dari dia, aku tumbuh menjadi cewek yang tak sebagaimana mestinya, cewek tomboy. Seleraku sama dengannya, kaos denim, celana jins komprang, sepatu sporty sampai kepada gaya rambut. Kupotong rambutku sama dengan dia, pendek model laki-laki. Saat ada teman perempuan sebaya, semuanya telah terlambat, aku sudah sukses menjadi cewek tomboy.
Aku merasakan mens ku pertama bebarengan dengan aku merasakan sakit hati pertama kalinya. Dirga mengenalkan seorang cewek padaku yang ia akui sebagai pacarnya. Sehari aku ngeblank, esoknya dadaku sakit dan nangis sendiri, lusanya aku baru tahu sebabnya. Temanku di sekolah bilang aku patah hati, sakit hati, cemburu dan lain sebagainya. Aku yang masih kecil belum tahu apa-apa menyadari cinta saat cinta itu pergi. Mengenal patah hati sebelum jatuh hai. Kepada Dirga. Dirga yang kini bersama cewek lain. Cewek yang jauh berbeda dariku.
Ia tetap memperlakukanku sama seperti biasanya. Tapi semua perlakuan sama itu terasa sangat berbeda bagiku. Apa yang salah? Kurasa ini semua karena aku tak ingin perlakuan sama, aku ingin sebuah perlakuan yang lebih darinya. Perlakuan yang ia tujukan kepada pacarnya. Menyuapi dengan lembut, menemani mengerjakan PR, berjalan bergandengan tangan. Hal-hal sederhana namun romantis. Tidak seperti ini, ia berjalan di depanku dan aku melangkah dengan cepat supaya mampu membuntutinya.
Cewek itu berambut panjang. Ah, aku juga bisa, meski butuh waktu dua tahun tapi akhirnya rambutku panjang juga. Cewek itu berdandan cantik dengan lipstik semerah maruun. Dia bisa, maka aku pasti bisa. Tidak mudah memang, awalnya belepotan yang lebih mirip badut. Tapi aku tak menyerah, sampai akhirnya aku bisa memakai make up dan baju ala-ala perempuan modern. Dress dan sepatu ber-hells. Namun, mengapa Dirga masih belum memperhatikanku juga? Ia malah berkata padaku kalau aku telah berubah dan menjadi dewasa. Sejak itu hubunganku dengannya semakin merenggang dan berjarak. Jarak yang lebih nyata daripada jarak fisik.
Tapi semuanya berubah, seminggu kemarin Dirga putus dengan pacarnya. Betapa aku bahagia saat itu. Seperti dapat undian berhadiah. Maaf ya Dirga, waktu kamu sedih aku sebenarnya tertawa dalam hati. Hanya percayalah padaku, itu tangisanmu yang terakhir kalinya, bersamaku, tak akan aku biarkan kamu bersedih lagi.
Dunia lebih indah. Dunia terasa mundur diwaktu aku dan dia selalu bersama, bermain dan pergi kemana saja berduaan. Waktu kembali berlalu dengan cepat didorong rasa bahagia. Dia tak pernah menyatakan cinta padaku, tapi apalah artinya kalau kita sudah selalu keluar bersama. Senyum hangatnya kembali utuh, utuh tak dibagikan kepada cewek lain selain aku.
Hari ini hari paling bahagia, tadi sewaktu ia menjemputku ia mengajakku keluar nanti malam. Malam minggu. cowok dan cewek keluar bersama. Apa lagi kalau bukan pacaran? benar tidak. Mulai dari motor, sekolah, sampai pulang rumah, aku tak bisa berhenti tersenyum. Hampir gila rasanya.
"Sudah siap?" Katanya saat menjemputku. Dirga berkemeja dengan celana jins dan sepatu sporty putih. Aku bisa membayangkan tampannya wajahnya meski tertutup helm full-face.
"Siapp!!" jawabku cepat yang memang dari tadi telah menunggui di depan pintu rumah. Stand by.
"Kemana kita kak?" tanyaku ketika sudah duduk di jok motornya.
"Ke ulang tahunnya temanku. Agak aneh kalau harus berangkat sendirian. Kamu mau kan menemaniku?"
Aku mengangguk dan sepeda pun meluncur. Pada dasarnya aku tak peduli akan pergi kemana asal itu bersama Dirga.
Aku berjalan beriringan dengannya. Sesekali ingin kucoba menggenggam tangannya, ingin merasakan bagaimana rasanya melangkah seperti itu. Langkah romantis pasangan yang dimadu asmara. Namun semuanya urung kulakukan. Rasa maluku tak mampu kulawan. Kubiarkan saja, tak kulakukan saja hatiku sudah sangat berbunga-bunga.
Pesta ulang tahun ini sangat ramai, banyak anak beranjak dewasa berpenampilan menawan ada disini. Meriah dan ramai. Aku sedikit minder sendiri saat kusadari bahwa aku terlihat yang paling muda. Semuanya nampak dewasa, cantik dan ganteng. Namun saat aku melirik ke sampingku dan ada Dirga, semuanya itu hilang, aku merasa tercantik dan teristimewa. Tak peduli keadaan sekelilingku.
Aku bertanya siapa temannya yang merayakan ulang tahun. Dirga hanya menjawab bahwa sebentar lagi aku akan tahu, bahwa aku mengenalnya juga. Tak beberapa lama ada seorang gadis mengenakan gaun putih panjang rambut indah keluar dari dalam rumah. Wajahnya begitu anggun dan sangat cantik. Tak bisa disejajarkan dengan semua gadis di pesta ini, apalagi aku, aku serasa kerdil dan mini. Kulesatkan mataku pada gadis itu hingga aku menemukan sesuatu yang menyesakkan dada. Cewek itu. Cewek yang dahulu adalah pacar dari Dirga.
Dia tampil ke depan kue tart putih. Parasnya yang ayu semakin bersinar menjadi pusat perhatian semua undangan pesta. Dia mengambil mic dan mulai berbicara, "Terimakasih untuk semua teman-teman yang telah hadir di pesta ulang tahunku yang ke tujuh belas." Suaranya merdu, semua orang bertepuk tangan riuh.
"Dan juga kepada Dirga yang telah hadir saat ini." Dia mengerling ke arah Dirga. Aku juga melirik ke Dirga yang di sebelahku, matanya berbinar bahagia, tak pernah kutemui yang seperti ini. Mendadak dadaku merasa sesak sekali.
"Pada malam ini, aku akan membuat pengakuan" Dia membiarkan semua orang untuk diam sebelum melanjutkan. Senyap yang serius. Aku semakin merasa sesak, sesak sekali hingga sulit bernafas.
"Hari-hari saat putus denganmu terasa sangat berat Dirga. Dan kutahu pasti itu karena aku mencintaimu Dir... Dan aku ingin kita kembali berpacaran seperti dahulu."
Kata-kata itu bagaikan meruntuhkan duniaku, menghancurkan segalanya. Saat aku sadar dan melirik ke sebelah kutahu bahwa sekarang benar-benar hancur. Dirga sudah tidak ada di sebelahku. Dia kini berlari mendekat ke arah cewek itu dan bertatapan mesra. Tangan keduanya bertemu, bertautan dan bersatu. Satu hal yang sangat kudambakan terjadi di depan mataku, hanya saja dengan dia dan bukan aku. Saat ini aku ingin luruh dan hilang dari tempat ini.
Mendadak suara sekitar menjadi riuh reda, lebih gemuruh daripada yang tadi, kontras sekali dengan keadaanku saat ini. Aku melihat ke depan. Dan sesak ini memuncak hingga nafas tertahan. Segalanya terasa berhenti. Air mata turun mengalir dalam hening. Betapa aku melihat Dirga dan cewek itu berciuman. Betapa itu kini meleburkanku menjadi debu tertiup angin. Aku tak lagi kerdil, aku adalah debu, debu di matanya.
Aku tak kuasa lagi bertahan disitu. Aku berlari pergi diiringi suasana yang meriah. Semuanya telah hancur, semuanya yang kuusahakan dan kuperjuangkan. Tak dianggap. Tak berarti. Sia-sia belaka. Lebih menyakitkan bukanlah perjuangan yang tak berhasil, namun perjuangan yang tak diangga. Itu.
Kini aku sadar bagaimana hubungan ini. Bagaimana ia melihatku. Bagaimana aku melewati garis yang telah ditentukan. Bagaimana aku seharusnya tak melakukannya. Ada perbatasan menjulang yang tak bisa ditembus. Dia dan aku. Sebatas kakak.
--Di dunia ini ada dinding yang tak tertembus--