Wahai nona manis disana... Maafkanlah Hamba yang telah istirahat terlalu lama. Sekarang ijinkanlah hamba melanjutkan dongeng yang telah tertunda. Nona duduklah santai dan
nikmati kisahnya.
Putri Fajar mengajak pangeran Senja keluar menuju halaman istana, tempat bunga bermekarana di bawah terang rembulan. Di langit, bintang tak mau kalah dengan rembulan, ia berkelip-kelip jenaka berusaha membuat langit menjadi latar pentas yang menawan.
"Wahai Putri, mengapa kita harus berada disini? Tak bisakah berada di dalam?" Tanya Pangeran Senja yang tak mengerti maksud hati Putri Fajar."
"Mengapa harus berada di dalam ruangan saat malam begini indah?" Sahut Putri Fajar. "Lagipula kalau di dalam akan ada pengawal dan engkau Pangeran tak bisa menjadi dirimu sendiri, kalau benar engkau sungguh-sungguh Pangeran Senja" Putri Fajar mengerlingkan sebelah matanya kepada Pangeran Senja.
"Mengapa Putri begitu tak percayanya kepada aku? Aku benar adalah Pangeran Senja."
Putri Fajar tertawa kecil. "Bagaimana aku bisa percaya begitu saja? Semua makhluk yang berada di bawah langit ini pasti telah mendengar kebijaksanaan dari seorang Pangeran Senja. Dan dia ada disini sekarang meminta pertoloangan hanya kepada seorang gadis yang tidak tahu apa-apa selain menari dan menyanyi."
Sebentar tadi, tawa Putri Senja sanggup mengalahkan keindahan langit malam. Pangeran Fajar terserang kegugupan. Perasaan asing baginya. "Duhai Putri Fajar, janganlah engkau merendah seperti itu. Kisahmu telah aku baca berulang kali sebelum aku sampai disini, tak perlulah engkau merendah seperti itu." Balas Pangeran Senja setelah ia sadar telah membuat Putri Fajar menunggu terlalu lama untuk mendengar jawaban darinya. "Karena aku percaya, satu-satunya orang di dunia ini yang mampu menolongku adalah Putri Fajar. Dan kini aku berada di disini memohon untuk engkau tolong."
Ketenangan pembawaan Pangeran Senja membius Putri Fajar. Letih yang lalu ia rasa mendadak sirna tanpa bekas. "Dengan apa aku dapat menolongmu Pangeranaa?"
"Aku malu mengatakannya, tapi ya benar aku datang jauh dari Negeri Barat ingin menyaksikan keindahan dari nyanyian dan tarian Putri dengan mata dan telingaku sendiri."
"Dengan senang hati aku akan melakukannya, tapi dengan sebuah syarat. Syarat yang mudah bagi seseorang yang benar-benar Pangeran Senja."
"Tentu Putri, selama aku mampu dan tidak bertentangan dengan kebijaksanaanku aku akan mengabulkan semua syarat yang Putri inginkan"
"Trimakasih Pangeran Senja, Ayo ikuti aku Pangeran!!" Ajak Putri Fajar. "Kita harus pergi ke suatu tempat dimana aku dapat menunjukkan tarian dan nyanyian yang terbaik dariku."
Bulan tepat di tengah langit, Angkasa semakin semarak dipenuhi bintang-bintang, danau tenang seolah terlena dalam tidur, namun seorang laki dan perempuan berjalan beriringan melewati taman istana. Tempat yang dituju adalah sebuah pulau kecil di tengah danau, yang dapat dilintasi dengan menyeberangi jembatan kayu. Tidak ada apa-apa di pulau itu selain pohon besar dengan batang besar dan daun rimbun. Pohon itu dikelilingi bunga lily yang berwarna keperakan ditimpa cahaya bulan, sepadan dengan gaun Putri Fajar yang berwarna putih bersih.
"Kita telah tiba Pangeran. Pangeran duduklah dimana pangeran suka"
Pangeran duduk di sebuah kursi kayu di dekat jembatan. Putri Fajar berjalan mendekati pohon. Kini ia berdiri di tengah kebun bunga lily.
Pangeran Senja melihat Putri Fajar dari jarak yang cukup untuk melihat secara keseluruhan, taman, pohon dan langit, latar pertunjukkan malam ini. Putri Fajar menarik nafas panjang. Dan ia mulai bersenandung. Dari pohon keluar kelip-kelip cahaya kuning, satu persatu semakin banyak menjadikan pulau ini terang benderang. Kunang-kunang. Suara Putri Fajar memanggil kunang-kunang untuk menyemarakkan malam. Kemudian Putri Fajar mulai menari. Kupu-kupu tak tahu dari mana datang mendekat. Mereka menari bersama Putri Fajar. kunang dan kupu layaknya penari latar yang membantu Putri Fajar membuat pertunjukkan terbaik yang pernah diketahui Pangeran Senja. Melodis suaranya, Harmonis gerakannya, keindahan terbaik di dunia ini.
Pangeran Senja tak mampu berkedip, bersuara maupun bergerak. Dunia serasa berhenti, waktunya serasa berhenti. Pikirannya kosong putih, hanya Putri Fajar yang mengisi kepala dan dunianya saat ini. Tak ada yang lain. Hati, jiwa dan raga telah ditaklukkan Putri Fajar. Tak ada yang tersisa. Pangeran Senja menitikkan air mata. Air mata kebahagiaan karena telah diijinkan untuk melihat keindahan terbaik di dunia ini.
"Kenapa kamu menangis Pangeran?" Tegur Putri Fajar.
Pangeran Senja tak sadar kalau pertunjukkan telah selesai agak lama. Dunianya serasa berhenti diwaktu Putri Fajar masih menari, menari dalam kepala dan hatinya. "Aku menangis bahagia Putri. Aku tak mengira kalau nyanyian dan tarian Putri secantik ini. Lebih cantik dari paras Putri yang tak ada duanya."
Mendengar jawaban Pangeran Senja, Putri Fajar hampir tersedak, untung Pangeran Tak menyadarinya. "Terimakasih untuk pujian Pangeran. Dan apakah tarianku sudah menolong Pangeran?"
"Kurasa iya, kurasa tidak. Aku hanya tidak mengerti bagaimana Putri bisa menari dan menyanyi seperti itu? Bagaimana Putri bisa memikirkan dan membuat tarian Secantik itu dan nyanyian semerdu itu?"
"Oh, jangan salah paham Pangeran, aku tak memikirkan dan membuatnya."
Pangeran Senja heran mendengar jawaban Putri Fajar. "Aku tak percaya, bagaimana mungkin Putri bisa menampilkan tarian sebagus itu kalau tidak memikirkannya terlebih dahulu?"
"Sangat mudah Pangeran. Cukup dengan merasakan dan mendengar suara hatiku. Tak perlu dipikirkan, aku hanya bergerak mengikuti perasaanku. Kakiku melangkah dengan sendirinya dan tangan tubuh semuanya mengikutinya.
"Aku sungguh tak mengerti."
Putri Senja tertawa. "Cukup rasakan alam, momen dan perasaan orang di sekitarmu dengan hatimu. Semuanya akan mengikuti dengan sendirinya. Seperti saat Pangeran menangis baru saja. Apa Pangeran memikirkannya terlebih dahulu? tidak bukan. Pangeran hanya merasakan sesuatu dan menangis karenanya. Seperti itulah aku. Aku merasakan sesuatu dan melakukan sesuatu lain karenanya."
Pangeran Senja tersenyum. Ia mengerti apa yang dimaksud Putri Fajar namun ia juga menyadari mungkin tak akan bisa melakukannya. Ia yang selalu menggunakan kebijaksanaanya terlebih dahulu sebelum bergerak. "Terimakasih Putri. Sekarang apa permintaan Putri?"
Putri Fajar tersenyum lebar. "Untuk saat ini, aku minta Pangeran untuk menemaniku semalam ini, di tempat ini."
Wahai Nona Manis. Hamba harus menghentikan sejenak dongeng ini. Hamba harus berkelana mengunjungi sebuah negeri jauh, sehari saja. Tapi percayalah Nona, sesegera mungkin hamba akan kembali. Karena Hamba ingin melihat senyum Nona secepat mungkin.