Did you know? That rain is actually never stop.
I use umbrella just so that I wouldn't hate it.
I walk through it, life with it, and give thanks for every little bit drop of rain.

Thursday, 16 January 2014

Pangeran Senja dan Putri Fajar - part 4

  Wahai nona manis disana... Maafkanlah Hamba yang telah istirahat  terlalu lama. Sekarang ijinkanlah hamba melanjutkan dongeng yang telah tertunda. Nona duduklah santai dan nikmati kisahnya. 


                   Putri Fajar mengajak pangeran Senja keluar menuju halaman istana, tempat bunga bermekarana di bawah terang rembulan. Di langit, bintang tak mau kalah dengan rembulan, ia berkelip-kelip jenaka berusaha membuat langit menjadi latar pentas yang menawan.
                   "Wahai Putri, mengapa kita harus berada disini? Tak bisakah berada di dalam?" Tanya Pangeran Senja yang tak mengerti maksud hati Putri Fajar."
                    "Mengapa harus berada di dalam ruangan saat malam begini indah?" Sahut Putri Fajar. "Lagipula kalau di dalam akan ada pengawal dan engkau Pangeran tak bisa menjadi dirimu sendiri, kalau benar engkau sungguh-sungguh Pangeran Senja" Putri Fajar mengerlingkan sebelah matanya kepada Pangeran Senja.
                    "Mengapa Putri begitu tak percayanya kepada aku? Aku benar adalah Pangeran Senja."
                    Putri Fajar tertawa kecil. "Bagaimana aku bisa percaya begitu saja? Semua makhluk yang berada di bawah langit ini pasti telah mendengar kebijaksanaan dari seorang Pangeran Senja. Dan dia ada disini sekarang meminta pertoloangan hanya kepada seorang gadis yang tidak tahu apa-apa selain menari dan menyanyi."
                   Sebentar tadi, tawa Putri Senja sanggup mengalahkan keindahan langit malam. Pangeran Fajar terserang kegugupan. Perasaan asing baginya. "Duhai Putri Fajar, janganlah engkau merendah seperti itu. Kisahmu telah aku baca berulang kali sebelum aku sampai disini, tak perlulah engkau merendah seperti itu." Balas Pangeran Senja setelah ia sadar telah membuat Putri Fajar menunggu terlalu lama untuk mendengar jawaban darinya. "Karena aku percaya, satu-satunya orang di dunia ini yang mampu menolongku adalah Putri Fajar. Dan  kini aku berada di disini memohon untuk  engkau tolong."
                    Ketenangan pembawaan Pangeran Senja membius Putri Fajar. Letih yang lalu ia rasa mendadak sirna tanpa bekas. "Dengan apa aku dapat menolongmu Pangeranaa?"
                    "Aku malu mengatakannya, tapi ya benar aku datang jauh dari Negeri Barat ingin menyaksikan keindahan dari nyanyian dan tarian Putri dengan mata dan telingaku sendiri."
                   "Dengan senang hati aku akan melakukannya, tapi dengan sebuah syarat. Syarat yang mudah bagi seseorang yang benar-benar Pangeran Senja."
                   "Tentu Putri, selama aku mampu dan tidak bertentangan dengan kebijaksanaanku aku akan mengabulkan semua syarat yang Putri inginkan"
                   "Trimakasih Pangeran Senja,  Ayo ikuti aku Pangeran!!" Ajak Putri Fajar. "Kita harus pergi ke suatu tempat dimana aku dapat menunjukkan tarian dan nyanyian yang terbaik dariku."
                   Bulan tepat di tengah langit, Angkasa semakin semarak dipenuhi bintang-bintang, danau tenang seolah terlena dalam tidur, namun seorang laki dan perempuan berjalan beriringan melewati taman istana. Tempat yang dituju adalah sebuah pulau kecil di tengah danau, yang dapat dilintasi dengan menyeberangi jembatan kayu. Tidak ada apa-apa di pulau itu selain pohon besar dengan batang besar dan daun rimbun. Pohon itu dikelilingi bunga lily yang berwarna keperakan ditimpa cahaya bulan, sepadan dengan gaun Putri Fajar yang berwarna putih bersih.
                   "Kita telah tiba Pangeran. Pangeran duduklah dimana pangeran suka"
                   Pangeran duduk di sebuah kursi kayu di dekat jembatan. Putri Fajar berjalan mendekati pohon. Kini ia berdiri di tengah kebun bunga lily. 
                    Pangeran Senja melihat Putri Fajar dari jarak yang cukup untuk melihat secara keseluruhan, taman, pohon dan langit, latar pertunjukkan malam ini. Putri Fajar menarik nafas panjang. Dan ia mulai bersenandung. Dari pohon keluar kelip-kelip cahaya kuning, satu persatu semakin banyak menjadikan pulau ini terang benderang. Kunang-kunang. Suara Putri Fajar memanggil kunang-kunang untuk menyemarakkan malam. Kemudian Putri Fajar mulai menari. Kupu-kupu tak tahu dari mana datang mendekat. Mereka menari bersama Putri Fajar. kunang dan kupu layaknya penari latar yang membantu Putri Fajar membuat pertunjukkan terbaik yang pernah diketahui Pangeran Senja. Melodis suaranya, Harmonis gerakannya, keindahan terbaik di dunia ini.
                    Pangeran Senja tak mampu berkedip, bersuara maupun bergerak. Dunia serasa berhenti, waktunya serasa berhenti. Pikirannya kosong putih, hanya Putri Fajar yang mengisi kepala dan dunianya saat ini. Tak ada yang lain. Hati, jiwa dan raga telah ditaklukkan Putri Fajar. Tak ada yang tersisa. Pangeran Senja menitikkan air mata. Air mata kebahagiaan karena telah diijinkan untuk melihat keindahan terbaik di dunia ini.
                   "Kenapa kamu menangis Pangeran?" Tegur Putri Fajar.
                   Pangeran Senja tak sadar kalau pertunjukkan telah selesai agak lama. Dunianya serasa berhenti diwaktu Putri Fajar masih menari, menari dalam kepala dan hatinya. "Aku menangis bahagia Putri. Aku tak mengira kalau nyanyian dan tarian Putri secantik ini. Lebih cantik dari paras Putri yang tak ada duanya."
                   Mendengar jawaban Pangeran Senja, Putri Fajar hampir tersedak, untung Pangeran Tak menyadarinya. "Terimakasih untuk pujian Pangeran. Dan apakah tarianku sudah menolong Pangeran?"
                   "Kurasa iya, kurasa tidak. Aku hanya tidak mengerti bagaimana Putri bisa menari dan menyanyi seperti itu? Bagaimana Putri bisa memikirkan dan membuat tarian Secantik itu dan nyanyian semerdu itu?"
                   "Oh, jangan salah paham Pangeran, aku tak memikirkan dan membuatnya."
                   Pangeran Senja heran mendengar jawaban Putri Fajar. "Aku tak percaya, bagaimana mungkin Putri bisa menampilkan tarian sebagus itu kalau tidak memikirkannya terlebih dahulu?"
                   "Sangat mudah Pangeran. Cukup dengan merasakan dan mendengar suara hatiku. Tak perlu dipikirkan, aku hanya bergerak mengikuti perasaanku. Kakiku melangkah dengan sendirinya dan tangan tubuh semuanya mengikutinya.
                   "Aku sungguh tak mengerti."
                   Putri Senja tertawa. "Cukup rasakan alam, momen dan perasaan orang di sekitarmu dengan hatimu. Semuanya akan mengikuti dengan sendirinya. Seperti saat Pangeran menangis baru saja. Apa Pangeran memikirkannya terlebih dahulu? tidak bukan. Pangeran hanya merasakan sesuatu dan menangis karenanya. Seperti itulah aku. Aku merasakan sesuatu dan melakukan sesuatu lain karenanya."
                   Pangeran Senja tersenyum. Ia mengerti apa yang dimaksud Putri Fajar namun ia juga menyadari mungkin tak akan bisa melakukannya. Ia yang selalu menggunakan kebijaksanaanya terlebih dahulu sebelum bergerak. "Terimakasih Putri. Sekarang apa permintaan Putri?"
                   Putri Fajar tersenyum lebar. "Untuk saat ini, aku minta Pangeran untuk menemaniku semalam ini, di tempat ini."       

                   
                    Wahai Nona Manis. Hamba harus menghentikan sejenak dongeng ini. Hamba harus berkelana mengunjungi sebuah negeri jauh, sehari saja. Tapi percayalah Nona, sesegera mungkin hamba akan kembali. Karena Hamba ingin melihat senyum Nona secepat mungkin.

Wednesday, 15 January 2014

Menanti Peri Cinta

          Hari apa ini? Senin. Tanggal berapa ini? Awal bulan di akhir tahun. Apa ada sesuatu yang istimewa hari ini? Bagi banyak orang mungkin tidak. Beberapa orang mungkin iya. Tapi bagiku ini adalah hari yang sangat istimewa. Kenapa? Karena kamu.

           Kamu tertegun di tempatmu duduk. Kamu lengah tak bersiap mendengar jawaban itu. Mukamu merona merah bagai…. Emm biasanya sih bagai kepiting rebus, tapi aku tak suka analogi itu. Aku lebih suka bagai tertimpa sengat terik mentari. Kamu yang tak pernah bersembunyi di bawah teduh. Sungguh kusukai pipimu saat merona.

           Aku? Iya. Mengapa karena aku? Apa kamu tak ingat? Ingat apa? Ini adalah hari yang sama kala pertama aku bertemu denganmu beberapa tahun yang lalu. Benarkah? Iya, hari istimewa bagiku. Mengapa? Masihkah kau tak sadar, bahwa kau adalah wanita teristimewa di hidupku.

           Kamu mengambil gelas berisikan anggur di meja, sekali tenggak lenyap sudah. Kamu menggeleng-gelengkan kepala sambil terus bergumam tak jelas. Kamu gugup, aku jelas melihatnya dari gayamu yang memain-mainkan ujung rambutmu. Gugupmu yang memukau.

            Maaf. Untuk apa? Untuk semuanya. Buat apa? Kamu tak mengerti. Aku mengerti. Mengerti apa? Semuanya. Apa? Kamu tak bisa bersamaku. Terus? Kamu tak bisa mencintaiku. Kalau begitu? Aku tak peduli, aku tak pernah peduli bagaimana rasamu padaku, yang penting rasaku padamu, dan itu cukup bagiku.         

          Kamu menggebrak meja. Anggur tumpah membasahi meja. Tanganmu terkepal. Ekspresimu masih tetap sama. Marahmu. Tak pernah membuatku takut sedikitpun, malah membuatku semakin jatuh padamu. Marahmu yang mengesankan.

           Apa kamu tidak mengerti? Aku mengerti. Tidak, kamu tidak mengerti, semuanya telah berubah. Tak ada yang berubah, aku tetap sama. Tapi aku yang berubah. Bagiku kamu tak berubah, masih tetap sama seperti dulu. Kamu pikir dulu itu berapa tahun yang lalu?

   Tak ada yang istimewa dari pertemuanku dengan kamu. Kita kebetulan dipertemukan dalam kelompok KKN. Dari ratusan peserta KKN yang mendaftar, siapa yang bisa menduga kalau aku akan satu kelompok dengan kamu. Dari dua puluh orang anggota kelompok, siapa yang tahu kamu akan terpilih sebagai ketua rombongan dan aku sekretarisnya. Dari orang yang tak saling kenal, siapa juga yang menyangka kalau kemana-mana aku dan kamu akan selalu bersama. Dari orang yang sama-sama cuek dan tak pedulian, siapa yang bisa menebak aku dan kamu memiliki kegemaran yang sama, mengajar anak kecil, terlepas dari jurusan yang tidak pantas untuk mengajar anak kecil, kamu di farmasi, sedangkan aku di tehnik sipil. Dari awalnya yang bukan siapa-siapa, siapa yang bisa mengira aku dan kamu sama-sama cocok yang berujung saling jatuh hati. Dari semua kejadian itu, siapa yang bisa memperkirakan itu semua kalau bukan sang peri cinta yang telah menjodohkan kita sejak mula-mula.                   
           Satu bulan bukan waktu yang singkat untuk memupuk kedekatan, menumbuhkan keakraban, berujung membuahkan kecintaan. Satu bulan lebih dari cukup untuk mengenal dan membangun fondasi hubungan yang lebih mendalam. Seminggu saja bisa untuk membangun fondasi kasih sayang, apalagi satu bulan, kecuali jika mau membuat bangunan persahabatan, enam bulan mungkin belum cukup.
Tapi sayang sekali, satu bulan itu ternyata kurang cukup untuk mengetahui kejujuran. Kedekatan ternyata bisa dibangun dari sedikit kebohongan. Kebohongan kecil yang sangat perih, kenyataan bahwa kamu telah bertunangan. Calon dokter dan calon apoteker, what a perfect couple. Tapi fondasi cinta telah dibangun dan ada. Meski bersemenkan kebohongan, fondasi tetaplah fondasi. Ia tak akan runtuh sekali terbentuk, tak akan hilang sekali tercipta, dan tak akan  lenyap sekalinya berdiri. Bahkan dalam kasusku, fondasi itu bisa tumbuh dengan sendirinya. Not logic? Yeah. Aku yang calon insinyur pun tak mampu memahami mengapa itu bisa terjadi. Fondasi yang bisa tumbuh sendiri. Kalau bukan cinta, tak ada lagi alasan masuk akal untuk bisa memahaminya.
Aku ingat sekali malam itu, malam perpisahan rombongan KKN kita. Malam itu tak seperti malam ini. Malam itu bulan menggelayut manja terasa dekat sekali dengan kita. Bintang berkedip-kedip genit seolah pria menggoda gadis sexy yang lewat di depannya. Angin malam ceria berhembus. Aku duduk di sebelahmu, kamu asyik menatap langit malam tak memperhatikanku. Binar matamu begitu jenaka membuatku mampu bersiul riang untuk menghangatkan dinginnya malam. Dalam hati, aku terus berdoa supaya degup jantungku terdengar olehmu. Biarlah detak jantung ini bicara dari hati ke hati dalam bahasa kejujuran tanpa kias dan bias kata.
Jemarimu merambat kepadaku, bertemu, bertautan demi sebuah kehangatan. Aku bilang padamu kalau seindahnya taburan bintang malam tak sebanding dengan indahnya bersamamu. Kau jawab, Senyamannya mentari pagi, tak sepadan dengan nyamannya dekatmu. Aku mendekapmu, kamu menyambut, aku mendekat, kau merapat, wajah kita sedekat embusan nafas. Apa yang terjadi selanjutnya adalah momen terbaik seumur hidupku, tak pernah dan tak jumpa lagi. Bibir bertemu, nafas menggebu, keringat menyatu, tubuh berpacu dalam cinta.
Aku terbangun karena suara isak tangis. Kau menangis. Aku teriris. Aku bisu, ingin tuli dan jadi gila saja saat kau katakan kalau kau telah bertunangan. Pernikahan hanya dirintangi ijazah saja. Kau bilang cinta padaku, tapi kau memilih orang lain untuk dinikahi. Kau bilang tidak punya pilihan, aku bilang kamu punya pilihan lain yaitu aku. Kamu menggelengkan kepala diikuti sebuah bisikan, semuanya demi orang tuaku. Alasan yang tak masuk akal, uang, orang tuamu dan kamu butuh uang. Cinta dihalangi uang, tidak masuk akal, katanya cinta mampu menaklukkan segalanya. Katanya.
Demi kenangan indah selama sebulan ini, kamu berjanji akan menemuiku setahun sekali. Janji besar bagimu. Demi kenangan sesaat ini, aku melakukan janji yang berbahaya dan lain darimu. Demi kenangan sementara ini, aku berjanji hanya akan mencintai kamu seorang yang telah mengajarkan surganya dan nerakanya cinta sekaligus. Demi kenangan singkat ini, aku akan mencintaimu selama aku mampu. Janji kecil menurutku.

Kamu pasti lupa? Tidak. Terus kenapa kamu diam lama? Karena memoir tentangmu baru saja mengisi kepalaku. Sungguh? Iya. Bagian mana? semuanya, aku ingat semuanya, tiap detail kecil, tiap runutannya, seolah baru sejam yang lalu aku mengalaminya. Kamu suruh aku percaya omongamu? Terserah, aku tak memintamu mempercayai omonganku, tapi semuanya itu benar.

Kepalan tanganmu mulai merenggang. Kepalamu tertunduk. Sekarang kamu merasa bersalah, pasti. Kedua jemarimu berpautan, saling meremas. Salahmu yang tak berarti bagiku.

Sudah sepuluh tahun. Baru sepuluh tahun. Jangan menungguku lagi!! Jangan memerintahku! Apa yang kamu harapkan dengan semua ini? Aku, kamu, bersama. Tolong hentikan, jangan buat aku merasa lebih bersalah padamu!! Sudah selayaknya kamu merasa bersalah, kamu membuatku mencintaimu seperti ini, kamu membuatku tak bisa mencintai orang lain, kamu membuatku mencintaimu lebih dari diriku sendiri.

Kamu diam. Tak berani melirik padaku. Aku tahu sekarang kamu menahan tangis. Kamu yang selalu berusaha tidak menangis di tempat ramai. Kamu yang dengan sok tegarmu begitu menggemaskan. Tangismu yang tak pernah kuharapkan.

Kamu tahu kita tak bisa bersama? Iya kah? Iya, sudah takdir kita. Aku tak percaya dengan takdir, aku memilih nasibku sendiri. Terserah, aku nyerah meyakinkanmu. Sebaiknya begitu. Aku pergi!! Silahkan, aku tak akan menghalangimu. Sampai jumpa!! Ya, sampai jumpa, tapi camkan ini baik-baik, aku akan tetap menunggu dengan mencintaimu, aku telah berhasil mencintaimu tanpamu selama sepuluh tahun, dan aku percaya aku bisa mencintaimu untuk sepuluh tahun lagi atau bahkan sampai seratus tahun lagi. Aku tidak percaya. Ayo kita buktikan sama-sama.

Engkau bangkit dari dudukmu. Aku menatap punggungmu yang lalu dariku. Aku tetap duduk di tempatku berada. Aku akan menunggu disini. Berharap kamu berubah kembali. Sampai kapan? Sampai petugas menyuruhku pergi karena sudah tutup.  Begitu juga cintaku. Aku akan menunggu sampai ada petugas yang menyuruhku pergi karena sudah habis waktunya. Biarlah peri cinta yang mengawali menjadi yang mengakhiri juga. Bukan aku atau kamu yang hanya manusia biasa jua adanya.

--Dan Ia masih setia menanti--

Dalam Diammu

Engkau melipat tangan di dada. Dadamu terasa begitu sesak kala bersama dia. Dia yang sangat engkau cinta, setiap hadirnya sukses membuat hidupmu bergairah. Engkau selalu mengawasinya dengan tatap mengingini. Engkau yang selalu siap ada, sanggup melakukan apapun dan rela mengorbankan segalanya bagi dia. Namun engkau memilih mengatup mulut rapat bersembunyi dalam bayang ketidaktahuan dan ketidakpastian. Engkau yang takut mengekspresikan cinta karena akan mengubah sikap dia kepadamu.

Engkau yang tulus dan pengecut.

Engkau begitu takut kehilangan perhatian dari dia. Engkau hanya berani berada di belakang dan mendukung dia. Mendukung dia memperoleh segala sesuatu yang dia mau. Dia berkata kepada engkau bahwa dia mencinta ia yang adalah temanmu. Engkau membisu membeku tak menduga. Engkau tak sanggup menolak dia. Engkau membantu dia untuk jadian dengan ia. Engkau masih mengingat cemerlang senyumnya saat berhasil jadian. Lalu engkau hanya tersenyum dalam ratapan doa memohon kebahagiaan bagi dia.

Dia yang lugu dan kau cinta.

Ia yang berkharisma telah menaklukkan hati Dia. Setiap senyum yang engkau keluarkan dihadapannya adalah kebohongan. Engkau tak bisa berbuat apa-apa. Engkau yang tahu segalanya tentang ia tapi tak bisa mengatakan senilapun kepada dia. Engkau menimbun semuanya seorang diri. Ia adalah buaya jantan yang menipu dia. Tapi engkau tak melakukan apapun selain berjanji pada diri sendiri akan selalu ada untuk dia. Selalu ada di saat apapun.

Ia yang mencintai dalam kepalsuan.

Semuanya terlambat. Engkau menerima undangan pernikahannya. Engkau membisu dan membantu setiap jengkal proses. Engkau yang dikenali sebagai mempelai pria dan dengan segala nalar mengharap itu kenyataan.  Engkau tak pernah melihat dia sebahagia itu. Dia di atas pelaminan bersama ia. Engkau bahagia demi dia, sampai engkau tahu alasan kenapa menikah. Hanya karena sebuah kecelakaan proses ritual itu terjadi. Engkau tak tahu, dia tak mau membebanimu dengan pengetahuan yang akan menyakitimu.

Dia menemuimu dengan uraian air mata. Dia menjerit minta pertolonganmu. Dia mengetahui semuanya. Dia membandingkan engkau dengan ia. Dia yang tertipu. Engkau meyakinkan kalau semua akan baik-baik saja. Dia menangis, engkau kapar karenanya. Dia ingin meminta waktu diulang. Dia tak ingin mengenalmu seperti ini, sebagai sahabat. Dia ingin sedari awal memulainya dengan tujuan sebagai pasangan hidup. Engkau terdiam. Engkau menyalahkan diri sendiri. Engkau yang dengan kepengecutanmu malah melakukan tindakan terkejam untuk dia yang kau cintai. Engkaulah yang merenggut bahagianya. Diammu yang menjadikan dia seperti ini.

Engkau yang kecewa dan menyesal.

--Kecewa adalah bagian dari life-experience--

Pangeran Senja dan Putri Fajar - part 3

                  Wahai nona manis disana... Hamba telah selesai istirahat.. Ijinkanlah untuk melanjutkan dongeng yang sempat tertunda. Nona duduklah santai dan nikmati kisahnya. 


                  Putri Fajar berbaring di kamar. Sendirian. Kamar ini indah, warna putih dimana-mana, mulai dari sprei, gorden, lantai, dinding, atap sampai semuanya putih bersih. Sebuah vas dengan bunga lavender di atas meja. Harum wanginya menguar memenuhi ruangan. Wangi aroma relaksasi.
                  Ia berbaring letih dalam nyaman tempat tidur. Banyak orang tak henti-hentinya datang menemui. Putri Fajar tak kuasa menolak setiap pemohonan yang datang padanya. Setiap ia ingin menolaknya, ia selalu dikalahkan oleh tatap raut memohon dari setiap orang yang berkunjung memenuhi dirinya. Ia letih seperti ini terus. Harus melakukan apa keinginan orang lain karena desakan nurani.
                  Putri Fajar menatap langit-langit kosong. Ia teringat percakapan dengan seseorang yang beberapa hari lalu datang menemuinya. Seseorang yang bercerita tentang pemuda yang memiliki kebijaksanaan tiada tara.
                  “Wahai, Putri Senja. Pengelana ini telah mengelilingi setiap ujung dunia, sungguh dengan segala ketakberbatasannya, hamba tak menemui satupun manusia yang layak dibandingkan dengan keindahan tarian Putri, atau kesyahduan nyanyian Putri, apalagi dengan keelokan paras Putri.”
                  “Ah, pengelana, Aku hanyalah manusia biasa. Janganlah memujiku terlalu berlebihan seperti itu. Kau mungkin bisa menyebabkanku untuk tidak menapakkan kakiku di tanah dengan wajar.”
                  “Putri Fajar, Tak kusangka Putri mampu bergurau juga.” Suara tawa terdengar dari mereka yang mengerubuti. “Namun demikian, mungkin hamba sekiranya tahu seorang pemuda yang dapat menanding kemasyuhran Putri.”
                  Putri terkejut. “Siapakah dia gerangan. Bilamanakan pengelana berkenan memberitahu Putri yang bodoh ini siapa gerangan pemuda yang kau maksudkan?”
                  “Ia berbeda dari Putri, bukan seorang yang pintar menari atau menyanyi, Ia hanyalah pemuda dengan kedalaman ilmu dan kebijaksanaan tiada tara.”
                  Putri Fajar terdiam. Wajah berubah tertarik dan ingin semakin tahu.
                  “Hamba bertemu dia saat hamba memiliki masalah. Ia adalah pemuda yang dapat membantu orang menyelesaikan masalah yang dimilikinya.”
                  “Sungguh? Aku semakin penasaran.”
                  “Benar, ia tinggal Negeri Barat, di bawah langit tempat matahari terbenam. Ia memiliki nama yang sama dengan kelembutan langit yang memberi ketenangan. Dia adalah......”
                  Pangeran Senja. Batin Putri Fajar. Pikirannya melayang membayangkan kemungkinan bahwa pemuda itu bisa mengetahui masalah yang akhir-akhir ini sering membuatnya merasa tidak nyaman. Masalah yang ingin ia bereskan. Masalah yang tidak ia ketehui apa itu. Dalam segala hendak, Putri Fajar ingin berharap bertemu dengan pemuda itu.
                  Seminggu berlalu dengan cepat bagi Putri Fajar. Tak ada jeda, tak ada perubahan, rutinitas monoton seperti biasanya. Malam bahkan terasa datang lebih cepat. Hari tak ia nikmati. Putri Fajar hendak mandi dan berendam air hangat kala seorang pengawal istana menemui.
                  “Ada apa pengawal?”
                  “Ada seorang pemuda ingin bertemu dengan Putri. Kami telah berkata kalau Putri capek dan butuh istirahat, tapi ia tak mau mendengarkannya sama sekali.”
                  “Usir saja dia dan bilang aku akan menemuinya besok.” Ucap Putri Fajar dengan kesal. Seharian tak istirahat dan ada seorang pemuda tak tahu diri menemuinya malam-malam jelas membuat hati Putri Fajar menjadi buruk.
                  “Ia tak mau mendengarnya. Ia mendesak untuk menemui Putri. Ia berkata kalau ia tak punya waktu banyak. Bahkan Ia menjelaskan kalau ia telah melalui perjalanan yang sangat jauh untuk bisa sampai darisini.”
                  “Jauh darimana? Semua orang yang datang kesini pasti melalui perjalanan yang sangat jauh.”
                  “Ia berkata kalau datang dari Negeri Barat”
                  Meski dengan ogah-ogahan Putri Fajar akhirnya bersedia menemui orang itu. Negeri Barat. Satu kata yang mampu meluluhkan pendirian Putri Fajar. Putri Fajar berharap orang itu dapat memberitahunya lebih banyak tentang Pangeran Senja.
                  Pemuda itu memaki jubah abu-abu menutupi seluruh tubuhnya, wajahnya pun tertutup tudung abu-abu. Misterius. Dari jubahnya dapat diketahui seberapa berat perjalanannya, penuh sobekan dan bercak noda.
                  “Wahai engkau pemuda misterius, ada apa gerangan sampai engkau begitu berani memaksaku yang telah ingin istirahat?”
                  Beberapa saat pria misterius itu terdiam hanya menatap Putri Fajar. “Duhai Putri Fajar, hamba datang dari Negeri Barat ingin memohon belas kasihan Putri untuk mau membantu hamba?”
                  “Cepat katakan, aku ingin istirahat. Dan betapa tidak sopannya engkau sampai tidak memperkenalkan diri terlebih dahulu, bahkan menunjukkan wajahmu pun tidak. Apakah engkau tidak diajarkan kesopan-santunan oleh keluargamu?”
                  “Maafkan aku Putri, Hamba memiliki alasan yang sangat kuat untuk tidak menunjukkan wajah di tempat umum. Kalau Putri bersedia memerintahkan pengawal Putri pergi, maka hamba akan dengan senang hati mengenalkan diri pada Putri.” Ucap Pemuda itu dengan penuh ketenangan. Di setiap katanya menngandung kekuatan untuk membuat orang menurutinya.
                  “Baiklah” Putri Fajar menatap kepada pengawal yang berdiri di belakangnya. “Penjaga tolong pergi sejenak”
                  Ketika semua penjaga telah pergi, Putri Fajar melanjutkan bicara. “Sekarang hanya ada kita berdua saja, Buka tudungmu dan perkenalkan dirimu supaya aku tidak salah sangka padamu”
                  “Baik Putri. Lambat-lambat pemuda itu melepas tudung kepalanya. 
                  Kini wajahnya menampakkan diri dengan jelas. Aura pesona segera melingkupi Putri Fajar. Mata coklat sangat teduh, rambut hitam legam sebahu, alis mata tebal. Seuntai senyum tipis memberi kedamaian. Dan lekuk wajahnya yang halus memberikan ketenangan. Putri semakin penasaran dengan siapa gerangan pemuda yang berada di hadapannya.
                  “Ijinkanlah hamba memperkenalkan diri, Hamba adalah Pangeran Senja dari Negeri Barat.
                  Sedetik nafas Putri Fajar berhenti sejenak. Pemuda yang diharapkannya ada berdiri di depannya kali. Pemuda yang paling ingin ditemui di dunia ini semenjak kali pertama ia mengetahui beritanya.
                  “Engkau tidak sedang membohongiku wahai pemuda?”
                  “Tidak Putri. Hamba dapat menjelaskan perjalanan Hamba dengan detail kalau Putri menginginkannya. Hamba sedang sangat membutuhkan pertolongan Putri.”
                  Pemuda yang diharapkannya untuk menolong dirinya kini berdiri di hadapannya. Hanya saja, malah pemuda ini yang mengharapkan pertolongan dari dirinya. Putri Fajar tak mempercayai semua ini. 


                  Wahai Nona yang manis. Kembali Hamba harus menunda kisah dongeng ini. Tolong Sabarlah Nona menanti. Percayalah sebelum Nona sadar, Hamba akan melanjutkan dongeng ini lagi. Karena Hamba ingin melihat senyum pada diri  Nona.

Tuesday, 14 January 2014

Pangeran Senja dan Putri Fajar - part 2

  Wahai nona yang manis disana... Hamba telah kembali.. Ijinkanlah untuk melanjutkan dongeng yang sempat tertunda. Nona duduklah tenang dan nikmati kisahnya. 


  Putri Fajar berada di Negeri yang terletak di ujung timur. Negeri Timur namanya. Negeri itu terkenal akan keindahan seninya. Karya-karya besar berada di sana. Semua rakyatnya adalah seniman yang diakui di seluruh dunia. Mulai dari musik, lukisan, patung, hingga bangunan-bangunan indah tersebar di seluruh negeri. Negeri tersebut adalah surga bagi mereka pecinta Seni.
  Tepat di pusat Negerinya, terdapat sebuah istana yang keindahan yang tak ada tandingan di seantero dunia. Istana itu memiliki taman bunga yang selalu mekar sepanjangan tahun serta dikelilingi danau yang indah. Istana itu adalah mimpi dari semua orang yang mencintai seni. Surga dari karya manusia.
   Di dalam istana itulah Putri Fajar tinggal. Putri dengan rambut pirang layaknya emas. Paras elok nan cantik jelita, seperti karya seni Tuhan di dunia. Kecantikan parasnya tak ada tandingan. Seperti semua anugerahitu  belum cukup, Ia adalah penari dan penyanyi yang sangat mempesona. Kala menari, kupu-kupu pun iri atas atas tariannya. Kala menyanyi, burung-burung pun berhenti berkicau. Banyak orang rela berjalan ribuan kilometer hanya untuk mendengar nyanyian dan tariannya. Bisa di bilang mereka yang pernah menyaksikan pertunjukannya telah menyaksikan sesuatu yang terindah di dunia ini. Mati pun rela.
   “Putri Fajar.. Ada satu orang di gerbang yang datang dari negeri seberang ingin menyaksikan penampilan Putri.” Ujar pengawal kepada Putri Fajar.
   “Siapakah ia gerangan?” jawab Putri Fajar.
   “Ia hanyalah seorang tua sebatang kara yang ingin tahu apakah benar bahwa dunia ini adalah indah”
   Putri tersenyum. “Baiklah, antarkan aku kepada orang itu”
  Pria yang menemuinya jauh dari kata rupawan. Tubuhnya kurus kering dimakan nestapa. Matanya sayu tak ada semangat hidup.
   “Wahai engkau pengembara.. Apakah yang dapat saya perbuat untukmu” Kata Putri Fajar ketika menemui orang itu.
  “Oh, Engkau Putri yang kecantikannya terdengar sampai ke pelosok dunia. Hamba hanyalah seorang pengelana yang telah sakit hati atas dunia ini. Dunia ini sangatlah jahat, tidak ada sesuatu pun yang baik. Namun sebelum Hamba mengakhiri hidup hamba, perbolehkanlah Hamba melihat pertunjukan Putri Fajar yang katanya terindah di dunia ini, yang kata orang-orang itu adalah pertunjukan terbaik di negeri ini.”
  “Kalau itu menjadi keinginanmu, aku Putri Fajar akan mengabulkannya.”
   Seolah angin mengabarkan kalau Putri Fajar akan tampil, semua orang mendadak berkumpul di gerbang istana. Mereka semua ingin menyaksikan penampilan dari Putri Fajar, Putri Fajar hanya bersedia tampil jika ada alasan khusus. Penampilan yang tak terbeli dengan uang.
  Putri Fajar mulai menari. Gaunnya berkibar di setiap gerakannya. Lembut tariannya. Anggun geraknya.  Ritmenya menenangkan. Rangkaian tari itu membangkitkan semangat. Kupu-kupu tertarik dan ikut serta menjadi penari latar. Bunga-bunga bergerak seirama. Semua orang menahan nafas. Tak ada satupun orang yang berbicara. Tak seorang pun mengedipkan mata, seakan hanya satu kedipan mata akan membuatnya kehilangan sesuatu yang berharga. Sorak sorai riuh redam terdengar begitu Putri Fajar selesai menari. Semua orang tak terkecuali.
  “Wahai Putri Fajar, sungguh indah tarianmu, tak ada satupun yang mengalahkannya” Ujar pengembara itu.
   “Trimakasih Tuan. Dan apakah dunia ini masih sama seperti menurut Tuan? Bahwa dunia ini jahat?”
   “Oh, tidak Putri. Bagaimana hamba bisa berkata seperti itu setelah melihat tarian Putri.”
   Putri Fajar menyunggingkan senyum. “Oh, bagus. Dan apakah engkau masih menginginkan kematian setelah ini?”
   “Tidak Putri. Melihat tarian Putri Fajar membuatku semangat. Membuatku memiliki harapan bahwa di hari esok pasti ada kebaikan untukku juga. Tarian Putri tidak hanya indah, namun lebih dari itu, ia mampu membuatku memandang bahwa hidup ini indah begini adanya.”
   “Oh. Syukurlah kalau begitu. Aku senang mendengarnya. Aku bahagia jika karena tarianku ada satu orang yang berubah menjadi lebih baik.”
  “Oh Putri, engkau tidak hanya rupawan, namun hatimu juga seindah berlian. Hamba benar-benar tersanjung mengetahui Putri Fajar menampilkan tariannya menuruti permohonanku, seorang pengembara yang bukan siapa-siapa.”
   “Trimakasih untuk sanjungannya.”
   Dengan diikuti pengawalnya, Putri Senja mohon untuk undur dan kembali ke istana. Meski Putri Fajar telah undur, namun tariannya tetap tinggal di benak setiap pasang mata yang menyaksikan, tinggal dan memberi semangat baru.
   Di beranda, Pangeran Senja menghela nafas panjang setelah sekali lagi selesai membaca kisah tentang Putri Fajar. Ada rasa ingin tahu dan meragu sekaligus akan kebenaran kisah itu. Hampir setiap hari ia memimpikannya. Pangeran Senja dibuat penasaran oleh kisah Putri Fajar. Pangeran Senja memutuskan untuk menemui orang yang serba tahu atas dunia ini untuk mencari tahu kebenaran dari kisah itu.
   Orang tua yang mahatahu berada di rumah sederhana di atas bukit. Orang tua ini memiliki julukan Sang Awan, karena ia mampu mendengar suara dari awan. Dan dari awan juga lah ia mendapatkan segala informasi di dunia ini. Tidak mudah untuk mencapainya. Pangeran Fajar harus melewati hutan, memanjat lembah, menyusuri tebing, hingga mendaki pegunungan sampai akhirnya ia mendapat bukit datar di atas puncak. Bukit itu senantiasa ditutupi awan sepanjang tahun.
   “Wahai Tuanku Pangeran Senja, Ada apakah gerangan sampai Tuanku pergi jauh-jauh untuk menemui hamba?” Sambut orang Tua dengan kumis putih panjang menggantung.
   “Oh, Janganlah Tuanku Sang Awan merendah seperti itu. Tuan pemiliki segala informasi di dunia ini. Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan pada Tuan?” Jawab Pangeran Senja.
   “Silahkan Tuan, Kalau hamba tahu pasti akan hamba beritahukan kepada Tuan.”
   “Beberapa hari yang lalu, hamba diberi sebuah buku oleh saudagar kaya dari negeri seberang. Buku yang baru aku ketahui saat itu. Buku itu mengisahkan cerita tentang Putri Fajar. Aku ingin tahu apakah benar Putri Fajar itu ada di dunia ini?”
   “Iya benar Tuan. Putri Fajar benar-benar ada.”
  “Mengapa aku baru tahu sekarang?” Tanya Pangeran Fajar setangah tak percaya.
  “Oh, mungkin karena Tuan hanya mengurung diri di dalam kastil saja. Tuan hanya mendedikasikan diri untuk mencari kebijaksanaan belaka. Tuan mengabaikan sesuatu yang penting. Sesuatu yang keberadaannya sama dengan kebijaksanaan itu sendiri.”
   “Apa itu? Bersediakah engkau Sang Awan memberitahuku?”
  “Tentu Tuan. Itu adalah keindahan. Keindahan estetika karya seni manusia.”
   “Bukankah kebijaksanaan adalah karya seni?”
   “Benar Tuan. Tapi ada yang lain. Keindahan ini tak ada benar atau salah, baik atau buruk, bagus atau tidak. Keindahan adalah sesuatu yang menyangkut estetika dan dipancarkan oleh jiwa seseorang.”
   Pangeran Senja mulai mengerti apa yang selama ini terasa membuat kosong hatinya. “Dan apakah Putri Fajar bisa mengajariku tentang keindahan yang kau maksud?”
  “Mungkin Tuan, kalau mungkin ada yang bisa mengajarimu, maka dia adalah Putri Fajar.”
   “Oh, Terimakasih Sang Awan. Terimakasih untuk jawabanmu.”
  “Tentu Tuan, Hamba hanyalah penyedia informasi belaka, sedang Tuan penuh kebijaksanaan untuk memanfaatkan informasi yang hamba berikan. Sudah sepatutnya informasi ini diberikan pada Tuan” Jawab Sang ditemani senyuman. “Jadi apa yang akan Tuan lakukan selanjutnya?”
   “Aku ingin menemui Putri Fajar ini. Aku ingin tahu apakah ia dapat mengisi kekosongan hatiku.” Kata Pangeran Fajar mantab.
   “Aku harap Tuan bertindak bijaksana untuk hal ini”
   “Tentu, kurasa ini yang terbaik menurutku, bertemu dengan Putri Fajar” Senyum mengembang dari bibir Pangeran Fajar. Ia membayangkan bagaimana Putri Fajar ini dari kisah yang telah berulang kali ia baca. Ada perasaan aneh menyeruak dari dalam dada.

               Wahai Nona yang manis. Maafkanlah Hamba karena akan beristirahat sejenak. Tolong Sabarlah Nona menanti. Percayalah sebelum Nona sadar, Hamba akan melanjutkan dongeng ini lagi. Karena Hamba ingin melihat senyum pada diri  Nona.

Pangeran Senja dan Putri Fajar - part 1

  Wahai nona yang manis disana... Hamba hanyalah seorang petualang biasa. Ijinkanlah untuk mendongeng sebuah kisah yang tersembunyi di bawah langit. Engkau duduklah tenang dan nikmati kisahnya.


  Alkisah semuanya bermula saat banyak manusia masih hidup menjelajah.  Bernomaden dari satu daerah ke daerah lain. Menjelajahi satu wilayah menuju wilayah lain. Mereka berkelana di atas bumi yang luas dan tak berbatas. Meski demikian, ada beberapa masyarakat yang telah tinggal tetap dalam sebuah daerah, sebuah negeri. Negeri yang berada tengah lembah. Negeri Barat namanya.
   Negeri Barat terkenal akan kebijaksanaannya. Semua yang mencari hikmat pengetahuan pergi ke sana. Negeri yang kaya akan filsafat dan ilmu yang tak bisa ditukar dengan harta kekayaan. Banyak orang bijak tinggal di negeri itu, tak terhitung jumlahnya. Mereka mengisi hari-harinya dengan mendiskusikan dunia dan mencari kebenaran.
   Di dalam negeri tersebut berdiri sebuah kastil megah dikelilingi hutan. Hanya ada sebuah jalan setapak untuk menujunya yang dihaga ketat pada pintu masuknya. Disanalah semua ilmu pengetahuan dikumpulkan, pusat dari semua buku-buku dan sumber pengetahuan. Sebuah surga bagi mereka yang rindu akan kebijaksanaan. 
   Kastil tersebut dihuni oleh seorang pemuda, yang meski usianya masih muda telah dianugerahi segala kebijaksanaan yang ada di dunia. Hikmat marifat tiada tara. Dialah sang Pangeran Senja. Rambut hitamnya selalu ditutupi tudung abu-abu, lambang bahwa tidak ada kebenaran mutlak di dunia ini. Ia selalu mengenakan jubah menjuntai dari kepala sampai mata kaki. Sorot matanya teduh, memancarkan ketenangan. Garis wajahnya lembut selayaknya danau yang tenang. Tak ada seorangpun meragukan pesonanya. Banyak orang kerap kali mencarinya untuk memohon sebuah kebijaksanaan. Ia seringkali tampil di depan umum sebagai hakim untuk menyelesaikan pertikaian.
  “Wahai Tuanku Pangeran Senja. Ibu dengan rambut panjang ini telah mencuri bayiku. Tolong nyatakan kebenaran bagiku” Seorang ibu yang bertikai menghadap Pangeran Senja, problematika yang sehari-hari harus ia hadapi.”
  “Wahai Tuanku Pangeran Senja. Ibu itu berbohong. Ia lah yang telah mencuri bayiku, bayinya telah meninggal dan ia ingin merebut demi dirinya.” Ibu yang lain berbalas tak mau kalah.
   Pangeran Senja berkata, suaranya lembut menenangkan setiap orang yang hadir. Setiap katanya sangat dipercayai rakyat di negeri itu. “Ah, Aku pernah membaca sebuah kisah yang mirip dengan ini. Kisah dari seorang hakim di masa lalu. Hakim pada masa itu memutuskan untuk membelah sang bayi menjadi dua demi keadilan. Tapi ibu yang asli memutuskan untuk memberikan anaknya kepada ibu yang palsu. Itulah sebuah kasih ibu, ia sanggup mengorbankan bahagianya demi hidup anaknya.” Semua hadirin manggut-manggut mengiyakan perkataan Pangeran Senja.
   “Wahai Tuanku, kalau begitu berikanlah bayi ini kepada dia, Aku tak rela kalau Tuanku harus membunuhnya.”
  “Iya Tuanku, berikan saja bayi pada dia. Aku juga rela."
  “Aku tahu ini akan terjadi, semua orang di negeri ini pasti telah mengetahui kisa hakim agung yang bijaksana itu, maka aku memutuskan hal yang berbeda. Aku akan membunuh kalian berdua dan merawat bayi ini dalam kastilku, untuk nantinya kujadikan penerus bagiku.” Semua pasang mata terkejut mendengar itu.
  “Apa Tuan serius?”
  “Aku serius, bukankah ini terbaik untuk bayi ini? kematian kalian akan membuat si bayi akan memiliki masa depan yang lebih baik”
  “Tapi Tuan” Kata ibu berambut panjang.
  “Kalau itu keputusan Tuanku, Hamba setuju, jika kematianku yang bukan siapa-siapa ini dapat membuat anakku memiliki hidup yang lebih baik. Maka dengan senang hati hamba akan menyambut kematian.” Semua hadirin tercengang mendengar jawaban dari ibu itu, mereka seolah telah memperoleh jawaban dari pertikaian ini.
   “Wahai hadirin semua, kurasa kita telah menemukan ibu sebenarnya dari bayi ini. Ibu yang rela menyambut kematian demi anaknya. Ialah ibu sebenarnya.” Sambil menatap seorang ibu yang baru saja bicara. 
  “Dan engkau penipu, mulai saat ini kehadiranmu tak diterima lagi di negeri ini. Engkau akan diusir dan kupastikan tak ada satupun orang di dunia ini yang akan membantu hari-harimu yang berat. Langit dan bumi tak akan mau menerima seorang penipu. Tempatmu yang layak hanyalah rawa-rawa yang dipenuhi kotoran.”
  Semua hadirin bersorak gembira. Kebijaksanaan Pangeran Senja tiada taranya. Semua orang dalam negeri membutuhkannya. Semua masalah telah selesai, dan Pangeran Senja undur dari hadapan semua orang.
   Hampir setiap hari berbagai macam orang hadir datang kepadanya untuk meminta kebijaksanaannya. Tak pernah lelah masalah menghampiri setiap orang, tak pernah juga Pangeran Senja menolak setiap orang yang ingin menemuinya. Di hidupnya, Pangeran Senja tidak pernah merasa kekurangan sama sekali, hampir semua kebijaksanaan ia miliki, apa lagi yang ia harapkan. Hanya saja, setelah kesemuanya itu, hari-harinya terasa ada yang kurang. Ada sesuatu yang seharusnya ada tapi tak ia miliki, dan sesuatu itu penting namun ia tak mengetahui. Sesuatu yang membuat hatinya kosong dan hidupnya tak bergairah. Karenanya, Pangeran Senja masih terus mencari, mencari dan mencari apa itu. Namun, Ia tak kunjung mengetahuinya. Sampai suatu saat saudagar kaya dari negeri seberang datang menemuinya. 
   Pangeran Senja duduk di beranda kastil. Ia menikmati sorenya dengan kesendirian. Ia duduk ditemani sebuah buku hasil pemberian saudagar kaya. Buku itu telah habis dibaca dalam sehari. Meski demikian buku itu masih terus dibacanya setiap sore sambil menghadap arah timur, dimana matahari terbit. Buku yang berkisah tentang Putri Fajar. Putri Fajar dari Negeri Timur.


   Wahai Nona yang manis. Ijinkanlah Hamba untuk beristirahat sejenak. Tolong Sabarlah Nona menanti. Percayalah sebelum Nona sadar, Hamba akan melanjutkan dongeng ini lagi. Karena Hamba ingin melihat senyum Nona