Did you know? That rain is actually never stop.
I use umbrella just so that I wouldn't hate it.
I walk through it, life with it, and give thanks for every little bit drop of rain.

Wednesday, 15 January 2014

Pangeran Senja dan Putri Fajar - part 3

                  Wahai nona manis disana... Hamba telah selesai istirahat.. Ijinkanlah untuk melanjutkan dongeng yang sempat tertunda. Nona duduklah santai dan nikmati kisahnya. 


                  Putri Fajar berbaring di kamar. Sendirian. Kamar ini indah, warna putih dimana-mana, mulai dari sprei, gorden, lantai, dinding, atap sampai semuanya putih bersih. Sebuah vas dengan bunga lavender di atas meja. Harum wanginya menguar memenuhi ruangan. Wangi aroma relaksasi.
                  Ia berbaring letih dalam nyaman tempat tidur. Banyak orang tak henti-hentinya datang menemui. Putri Fajar tak kuasa menolak setiap pemohonan yang datang padanya. Setiap ia ingin menolaknya, ia selalu dikalahkan oleh tatap raut memohon dari setiap orang yang berkunjung memenuhi dirinya. Ia letih seperti ini terus. Harus melakukan apa keinginan orang lain karena desakan nurani.
                  Putri Fajar menatap langit-langit kosong. Ia teringat percakapan dengan seseorang yang beberapa hari lalu datang menemuinya. Seseorang yang bercerita tentang pemuda yang memiliki kebijaksanaan tiada tara.
                  “Wahai, Putri Senja. Pengelana ini telah mengelilingi setiap ujung dunia, sungguh dengan segala ketakberbatasannya, hamba tak menemui satupun manusia yang layak dibandingkan dengan keindahan tarian Putri, atau kesyahduan nyanyian Putri, apalagi dengan keelokan paras Putri.”
                  “Ah, pengelana, Aku hanyalah manusia biasa. Janganlah memujiku terlalu berlebihan seperti itu. Kau mungkin bisa menyebabkanku untuk tidak menapakkan kakiku di tanah dengan wajar.”
                  “Putri Fajar, Tak kusangka Putri mampu bergurau juga.” Suara tawa terdengar dari mereka yang mengerubuti. “Namun demikian, mungkin hamba sekiranya tahu seorang pemuda yang dapat menanding kemasyuhran Putri.”
                  Putri terkejut. “Siapakah dia gerangan. Bilamanakan pengelana berkenan memberitahu Putri yang bodoh ini siapa gerangan pemuda yang kau maksudkan?”
                  “Ia berbeda dari Putri, bukan seorang yang pintar menari atau menyanyi, Ia hanyalah pemuda dengan kedalaman ilmu dan kebijaksanaan tiada tara.”
                  Putri Fajar terdiam. Wajah berubah tertarik dan ingin semakin tahu.
                  “Hamba bertemu dia saat hamba memiliki masalah. Ia adalah pemuda yang dapat membantu orang menyelesaikan masalah yang dimilikinya.”
                  “Sungguh? Aku semakin penasaran.”
                  “Benar, ia tinggal Negeri Barat, di bawah langit tempat matahari terbenam. Ia memiliki nama yang sama dengan kelembutan langit yang memberi ketenangan. Dia adalah......”
                  Pangeran Senja. Batin Putri Fajar. Pikirannya melayang membayangkan kemungkinan bahwa pemuda itu bisa mengetahui masalah yang akhir-akhir ini sering membuatnya merasa tidak nyaman. Masalah yang ingin ia bereskan. Masalah yang tidak ia ketehui apa itu. Dalam segala hendak, Putri Fajar ingin berharap bertemu dengan pemuda itu.
                  Seminggu berlalu dengan cepat bagi Putri Fajar. Tak ada jeda, tak ada perubahan, rutinitas monoton seperti biasanya. Malam bahkan terasa datang lebih cepat. Hari tak ia nikmati. Putri Fajar hendak mandi dan berendam air hangat kala seorang pengawal istana menemui.
                  “Ada apa pengawal?”
                  “Ada seorang pemuda ingin bertemu dengan Putri. Kami telah berkata kalau Putri capek dan butuh istirahat, tapi ia tak mau mendengarkannya sama sekali.”
                  “Usir saja dia dan bilang aku akan menemuinya besok.” Ucap Putri Fajar dengan kesal. Seharian tak istirahat dan ada seorang pemuda tak tahu diri menemuinya malam-malam jelas membuat hati Putri Fajar menjadi buruk.
                  “Ia tak mau mendengarnya. Ia mendesak untuk menemui Putri. Ia berkata kalau ia tak punya waktu banyak. Bahkan Ia menjelaskan kalau ia telah melalui perjalanan yang sangat jauh untuk bisa sampai darisini.”
                  “Jauh darimana? Semua orang yang datang kesini pasti melalui perjalanan yang sangat jauh.”
                  “Ia berkata kalau datang dari Negeri Barat”
                  Meski dengan ogah-ogahan Putri Fajar akhirnya bersedia menemui orang itu. Negeri Barat. Satu kata yang mampu meluluhkan pendirian Putri Fajar. Putri Fajar berharap orang itu dapat memberitahunya lebih banyak tentang Pangeran Senja.
                  Pemuda itu memaki jubah abu-abu menutupi seluruh tubuhnya, wajahnya pun tertutup tudung abu-abu. Misterius. Dari jubahnya dapat diketahui seberapa berat perjalanannya, penuh sobekan dan bercak noda.
                  “Wahai engkau pemuda misterius, ada apa gerangan sampai engkau begitu berani memaksaku yang telah ingin istirahat?”
                  Beberapa saat pria misterius itu terdiam hanya menatap Putri Fajar. “Duhai Putri Fajar, hamba datang dari Negeri Barat ingin memohon belas kasihan Putri untuk mau membantu hamba?”
                  “Cepat katakan, aku ingin istirahat. Dan betapa tidak sopannya engkau sampai tidak memperkenalkan diri terlebih dahulu, bahkan menunjukkan wajahmu pun tidak. Apakah engkau tidak diajarkan kesopan-santunan oleh keluargamu?”
                  “Maafkan aku Putri, Hamba memiliki alasan yang sangat kuat untuk tidak menunjukkan wajah di tempat umum. Kalau Putri bersedia memerintahkan pengawal Putri pergi, maka hamba akan dengan senang hati mengenalkan diri pada Putri.” Ucap Pemuda itu dengan penuh ketenangan. Di setiap katanya menngandung kekuatan untuk membuat orang menurutinya.
                  “Baiklah” Putri Fajar menatap kepada pengawal yang berdiri di belakangnya. “Penjaga tolong pergi sejenak”
                  Ketika semua penjaga telah pergi, Putri Fajar melanjutkan bicara. “Sekarang hanya ada kita berdua saja, Buka tudungmu dan perkenalkan dirimu supaya aku tidak salah sangka padamu”
                  “Baik Putri. Lambat-lambat pemuda itu melepas tudung kepalanya. 
                  Kini wajahnya menampakkan diri dengan jelas. Aura pesona segera melingkupi Putri Fajar. Mata coklat sangat teduh, rambut hitam legam sebahu, alis mata tebal. Seuntai senyum tipis memberi kedamaian. Dan lekuk wajahnya yang halus memberikan ketenangan. Putri semakin penasaran dengan siapa gerangan pemuda yang berada di hadapannya.
                  “Ijinkanlah hamba memperkenalkan diri, Hamba adalah Pangeran Senja dari Negeri Barat.
                  Sedetik nafas Putri Fajar berhenti sejenak. Pemuda yang diharapkannya ada berdiri di depannya kali. Pemuda yang paling ingin ditemui di dunia ini semenjak kali pertama ia mengetahui beritanya.
                  “Engkau tidak sedang membohongiku wahai pemuda?”
                  “Tidak Putri. Hamba dapat menjelaskan perjalanan Hamba dengan detail kalau Putri menginginkannya. Hamba sedang sangat membutuhkan pertolongan Putri.”
                  Pemuda yang diharapkannya untuk menolong dirinya kini berdiri di hadapannya. Hanya saja, malah pemuda ini yang mengharapkan pertolongan dari dirinya. Putri Fajar tak mempercayai semua ini. 


                  Wahai Nona yang manis. Kembali Hamba harus menunda kisah dongeng ini. Tolong Sabarlah Nona menanti. Percayalah sebelum Nona sadar, Hamba akan melanjutkan dongeng ini lagi. Karena Hamba ingin melihat senyum pada diri  Nona.

No comments: