Did you know? That rain is actually never stop.
I use umbrella just so that I wouldn't hate it.
I walk through it, life with it, and give thanks for every little bit drop of rain.

Wednesday, 19 February 2014

Dialog Pagi Hari

Pagi pergi secepat ia datang setiap harinya, tanpa basa basi dan permisi. Bagaimana sehari ini tergantung bagaimana pagi dilalui. Secuplik adegan pagi akan mempengaruhi hari seharian seseorang, berdampak, berakibat dan mengakibatkan.
Meja makan dari kayu jati berplitur warna coklat yang mulai memudar dipenuhi macam makanan. Ibu-ibu tua telah bangun pagi-pagi sekali bergelut dengan kompor dan wajan demi mengusahakannya ada di atas meja. Takut kena semprot jika terlambat apalagi tidak ada. Empat kursi yang mengelilingi meja telah terisi semuanya. Ayah dan Ibu duduk saling berhadapan begitu juga Kakak dan Adik. Semua dengan pikirannya masing-masing menatap piring yang masih kosong, menunggu siapa yang akan terlebih dulu menanduk nasi di bakul.
“Ayo makan!!” Suara berat Ayah menyabet keheningan ruang.
“Kakak ambil sendiri! Biar ibu ambilkan punya adik!” Ibu bangkit berdiri dan mengambil piring Adik dan mengisinya dengan makanan. Kemudian dia mulai mengisi piring untuk dirinya sendiri.
Bunyi-bunyian suara piring, sendok dan garpu memenuhi ruangan. Hanya itu. Tidak ada suara lain.
“Jangan lupa besok kita ke rumah Kakek!!” Kata Ayah dengan suara tegas memerintah.
“Aku nggak bisa Yah.” Sahut Kakak sigap, seolah telah bersiap kalau kata-kata itu keluar.
“Kenapa kamu nggak bisa?” Mata Ayah menatap tajam pada Kakak. Mengintimidasi.
“Aku ada acara OSIS besok minggu.” Tak mungkin mengatakan yang sebenarnya.
“Batalkan saja!!” Perintah Ayah tegas.
“Nggak bisa Yah! Ini sudah kurencanakan dari dulu” Mana mungkin kubatalkan, ini kencan pertamaku.
“Sudah!! Pokoknya batalkan saja!! Jangan ngelawan!!” Perintah semakin menegas tak ingin mendengar sanggahan lagi.
Kakak menghentikan makan, berdiri dan beranjak pergi dari meja makan. Selalu begini. Selalu kata-kataku tak pernah didengar.
Adik melirik-lirik takut kepada Ayah. Ia tak beruntung. Lirikannya tertangkap mata Ayah yang tajam.
“Apalagi?? Adik juga mau nggak ikut??” Tanya Ayah membaca gelagat Adik.
Ragu-ragu adik mengangguk.
“Kenapa nggak mau? Mau main game atau apa?” Lanjut Ayah keras.
Sekali lagi adik mengangguk. Sudah tahu gitu masih tanya.
“Nggak usah. Pokok harus ikut. Kalau nggak ikut mainannya akan Ayah sita semua.” Ujar Ayah tak berperasaan.
Adik semakin merunduk. Selalu begini. Nggak pernah sekalipun kemauanku dituruti. Ia tak beranjak dari meja makan. Hanya mulai makan selayaknya robot.
“Apa nggak lebih baik perginya ditunda saja?” Ucap Ibu pelan dan penuh kehati-hatian.
“Kamu ikut-ikutan juga. Ini semua karena kamu mereka jadi bandel dan nggak mau nurut seperti ini”
Selalu aku yang disalahkan. “Mas, aku juga bekerja sama sepertimu, ini bukan salahku saja”
“Jadi kamu menyalahkanku. Kamu Ibunya seharusnya kamu bisa mendidik mereka lebih baik”
Kamu Ayahnya. Ini juga tanggunganmu. “Maaf  Mas, aku akan berusaha lebih baik”
“Selalu itu katamu setiap pagi. Se.la.lu.” Ucap Ayah dengan nada bicara menurun dengan penuh penekanan.
Selalu seperti ini. Aku capek Selalu dipersalahkan. Ibu diam tak melanjutkan bicara. Mempercepat menghabiskan nasi di piring ingin segera pergi dari meja makan.
Ayah duduk dengan tegak. Menghabiskan makan dengan santai dan berirama. Kepalanya dipenuhi pikiran. Selalu seperti ini. Selalu mereka nggak mau mendengar ucapanku. Walau untuk sekali saja.
Hanya meja yang menjadi saksi pagi ini. Saksi di setiap pagi, kemarin pagi, pagi ini, besok pagi, dan mungkin pagi-pagi lain yang akan datang. Sendirian berdoa dan berharap agar percakapan pagi hari bisa membaik. Saksi bisu yang akan tetap membisu. 

--Seandainya benda mati bisa bicara--

Monday, 17 February 2014

Sebatas Kakak

             Dirga. Bukankah nama itu terbaca begitu merdu? Setiap pagi aku dekat sekali dengan punggungnya, tak sampai sepanjang jari-jariku. Seringkali aku mencoba memberanikan diri untuk memeluk pinggangnya, tapi setiap kali juga tak terjadi. Suara derum mesin motor tak sekeras suara detak jantungku. Hembusan angin tak semenderu embusan nafasku. Merahnya kepiting rebus tak semerona merahnya wajahku. kuharap dia tak melirikku dari kaca spion. Apa yang terjadi denganku? Seluruh dunia pasti bahwa aku jatuh cinta. Namun kenapa bisa seheboh ini? Karena akhirnya cintaku berbalas. Dunia serasa jungkir balik dan hari berlalu lebih menarik.
               Aku telah mengenalnya sejauh ingatanku bekerja. Orangtuaku adalah pasangan guru, yang pada zaman dahulu adalah benar-benar seorang pahlawan tanpa tanda jasa, apalagi orang tuaku hanyalah guru swasta. Bayangkan yang pegawai negeri saja pahlawan tanpa tanda jasa, apalagi yang guru swasta. Mereka berangkat selalu bersamaku dan pulang jauh setelahku, hampir bebarengan dengan sang mentari.
              Apa ada orangtua yang tega meninggalkan anaknya di rumah sendirian? Tidak, mereka tidak akan tega, orangtua pasti akan mencari pembantu untuk menjaga anaknya kala mereka bekerja seharian. Tapi bagaimana dengan mereka yang tak punya cukup uang untuk membayar pembantu? Mereka tak punya banyak pilihan, mereka akan menitipkannya ke orang lain. Seperti itulah nasibku. Aku dititipkan kepada seorang ibu single parent berjarak dua rumah dari rumahku. Bik Minah namanya.
               Bik Minah punya seorang anak, jauh lebih tua dariku, berselisih lima tahun. Dialah Dirga. Seperti keluarga baru pada umumnya, rumah yang kami tempati adalah rumah baru, berada di kompleks perumahan baru. Belum banyak keluarga yang tinggal di perumahan ini, belum banyak anak-anak kecil yang ada. Satu-satunya yang kukenal adalah Dirga. Kemana-mana ia pergi, aku ikut. Apapun permainan yang ia lakukan, aku juga. Dimana dia berada, disitulah aku. Tak terpisahkan.
               Waktu berjalan cepat. Ia tumbuh sebagai pemuda tampan sebagaimana mestinya. Sedang aku malah kebalikan dari dia, aku tumbuh menjadi cewek yang tak sebagaimana mestinya, cewek tomboy. Seleraku sama dengannya, kaos denim, celana jins komprang, sepatu sporty sampai kepada gaya rambut. Kupotong rambutku sama dengan dia, pendek model laki-laki. Saat ada teman perempuan sebaya, semuanya telah terlambat, aku sudah sukses menjadi cewek tomboy.
               Aku merasakan mens ku pertama bebarengan dengan aku merasakan sakit hati pertama kalinya. Dirga mengenalkan seorang cewek padaku yang ia akui sebagai pacarnya. Sehari aku ngeblank, esoknya dadaku sakit dan nangis sendiri, lusanya aku baru tahu sebabnya. Temanku di sekolah bilang aku patah hati, sakit hati, cemburu dan lain sebagainya. Aku yang masih kecil belum tahu apa-apa menyadari cinta saat cinta itu pergi. Mengenal patah hati sebelum jatuh hai. Kepada Dirga. Dirga yang kini bersama cewek lain. Cewek yang jauh berbeda dariku.
               Ia tetap memperlakukanku sama seperti biasanya. Tapi semua perlakuan sama itu terasa sangat berbeda bagiku. Apa yang salah? Kurasa ini semua karena aku tak ingin perlakuan sama, aku ingin sebuah perlakuan yang lebih darinya. Perlakuan yang ia tujukan kepada pacarnya. Menyuapi dengan lembut, menemani mengerjakan PR, berjalan bergandengan tangan. Hal-hal sederhana namun romantis. Tidak seperti ini, ia berjalan di depanku dan aku melangkah dengan cepat supaya mampu membuntutinya.
              Cewek itu berambut panjang. Ah, aku juga bisa, meski butuh waktu dua tahun tapi akhirnya rambutku panjang juga. Cewek itu berdandan cantik dengan lipstik semerah maruun. Dia bisa, maka aku pasti bisa. Tidak mudah memang, awalnya belepotan yang lebih mirip badut. Tapi aku tak menyerah, sampai akhirnya aku bisa memakai make up dan baju ala-ala perempuan modern. Dress dan sepatu ber-hells. Namun, mengapa Dirga masih belum memperhatikanku juga? Ia malah berkata padaku kalau aku telah berubah dan menjadi dewasa. Sejak itu hubunganku dengannya semakin merenggang dan berjarak. Jarak yang lebih nyata daripada jarak fisik.
              Tapi semuanya berubah, seminggu kemarin Dirga putus dengan pacarnya. Betapa aku bahagia saat itu. Seperti dapat undian berhadiah. Maaf ya Dirga, waktu kamu sedih aku sebenarnya tertawa dalam hati. Hanya percayalah padaku, itu tangisanmu yang terakhir kalinya, bersamaku, tak akan aku biarkan kamu bersedih lagi.
              Dunia lebih indah. Dunia terasa mundur diwaktu aku dan dia selalu bersama, bermain dan pergi kemana saja berduaan. Waktu kembali berlalu dengan cepat didorong rasa bahagia. Dia tak pernah menyatakan cinta padaku, tapi apalah artinya kalau kita sudah selalu keluar bersama. Senyum hangatnya kembali utuh, utuh tak dibagikan kepada cewek lain selain aku.
              Hari ini hari paling bahagia, tadi sewaktu ia menjemputku ia mengajakku keluar nanti malam. Malam minggu. cowok dan cewek keluar bersama. Apa lagi kalau bukan pacaran? benar tidak. Mulai dari motor, sekolah, sampai pulang rumah, aku tak bisa berhenti tersenyum. Hampir gila rasanya.
              "Sudah siap?" Katanya saat menjemputku. Dirga berkemeja dengan celana jins dan sepatu sporty putih. Aku bisa membayangkan tampannya wajahnya meski tertutup helm full-face.
              "Siapp!!" jawabku cepat yang memang dari tadi telah menunggui di depan pintu rumah. Stand by.
              "Kemana kita kak?" tanyaku ketika sudah duduk di jok motornya.
              "Ke ulang tahunnya temanku. Agak aneh kalau harus berangkat sendirian. Kamu mau kan menemaniku?"
              Aku mengangguk dan sepeda pun meluncur. Pada dasarnya aku tak peduli akan pergi kemana asal itu bersama Dirga.
              Aku berjalan beriringan dengannya. Sesekali ingin kucoba menggenggam tangannya, ingin merasakan bagaimana rasanya melangkah seperti itu. Langkah romantis pasangan yang dimadu asmara. Namun semuanya urung kulakukan. Rasa maluku tak mampu kulawan. Kubiarkan saja, tak kulakukan saja hatiku sudah sangat berbunga-bunga.
              Pesta ulang tahun ini sangat ramai, banyak anak beranjak dewasa berpenampilan menawan ada disini. Meriah dan ramai. Aku sedikit minder sendiri saat kusadari bahwa aku terlihat yang paling muda. Semuanya nampak dewasa, cantik dan ganteng. Namun saat aku melirik ke sampingku dan ada Dirga, semuanya itu hilang, aku merasa tercantik dan teristimewa. Tak peduli keadaan sekelilingku.
              Aku bertanya siapa temannya yang merayakan ulang tahun. Dirga hanya menjawab bahwa sebentar lagi aku akan tahu, bahwa aku mengenalnya juga. Tak beberapa lama ada seorang gadis mengenakan gaun putih panjang rambut indah keluar dari dalam rumah. Wajahnya begitu anggun dan sangat cantik. Tak bisa disejajarkan dengan semua gadis di pesta ini, apalagi aku, aku serasa kerdil dan mini. Kulesatkan mataku pada gadis itu hingga aku menemukan sesuatu yang menyesakkan dada. Cewek itu. Cewek yang dahulu adalah pacar dari Dirga.
              Dia tampil ke depan kue tart putih. Parasnya yang ayu semakin bersinar menjadi pusat perhatian semua undangan pesta. Dia mengambil mic dan mulai berbicara, "Terimakasih untuk semua teman-teman yang telah hadir di pesta ulang tahunku yang ke tujuh belas." Suaranya merdu, semua orang bertepuk tangan riuh.
              "Dan juga kepada Dirga yang telah hadir saat ini." Dia mengerling ke arah Dirga. Aku juga melirik ke Dirga yang di sebelahku, matanya berbinar bahagia, tak pernah kutemui yang seperti ini. Mendadak dadaku merasa sesak sekali.
              "Pada malam ini, aku akan membuat pengakuan" Dia membiarkan semua orang untuk diam sebelum melanjutkan. Senyap yang serius. Aku semakin merasa sesak, sesak sekali hingga sulit bernafas.
              "Hari-hari saat putus denganmu terasa sangat berat Dirga. Dan kutahu pasti itu karena aku mencintaimu Dir... Dan aku ingin kita kembali berpacaran seperti dahulu."
              Kata-kata itu bagaikan meruntuhkan duniaku, menghancurkan segalanya. Saat aku sadar dan melirik ke sebelah kutahu bahwa sekarang benar-benar hancur. Dirga sudah tidak ada di sebelahku. Dia kini berlari mendekat ke arah cewek itu dan bertatapan mesra. Tangan keduanya bertemu, bertautan dan bersatu. Satu hal yang sangat kudambakan terjadi di depan mataku, hanya saja dengan dia dan bukan aku. Saat ini aku ingin luruh dan hilang dari tempat ini.
              Mendadak suara sekitar menjadi riuh reda, lebih gemuruh daripada yang tadi, kontras sekali dengan keadaanku saat ini. Aku melihat ke depan. Dan sesak ini memuncak hingga nafas tertahan. Segalanya terasa berhenti. Air mata turun mengalir dalam hening. Betapa aku melihat Dirga dan cewek itu berciuman. Betapa itu kini meleburkanku menjadi debu tertiup angin. Aku tak lagi kerdil, aku adalah debu, debu di matanya.
              Aku tak kuasa lagi bertahan disitu. Aku berlari pergi diiringi suasana yang meriah. Semuanya telah hancur, semuanya yang kuusahakan dan kuperjuangkan. Tak dianggap. Tak berarti. Sia-sia belaka. Lebih menyakitkan bukanlah perjuangan yang tak berhasil, namun perjuangan yang tak diangga. Itu.
              Kini aku sadar bagaimana hubungan ini. Bagaimana ia melihatku. Bagaimana aku melewati garis yang telah ditentukan. Bagaimana aku seharusnya tak melakukannya. Ada perbatasan menjulang yang tak bisa ditembus. Dia dan aku. Sebatas kakak.

--Di dunia ini ada dinding yang tak tertembus--

Sunday, 16 February 2014

Cinta pada Pelangi

          Badai Pasti Berlalu. Rangkaian kata itu sering kudengar. Terlalu sering. Sudah tak terhitung berapa puluh atau bahkan berapa ratus orang yang telah mengucapkannya kepadaku. Selalu ada setiap harinya. Belum lagi bunyi alarm, nada dering panggilan atau lagu di handphone-ku, selalu itu ‘badai pasti berlalu’. Benar-benar sudah hafal dan bosan aku mendengarnya.
          Semburat aura ceria di rona wajahnya telah pudar menghilang. Semuanya terkikis oleh waktu dan kebiasaan yang menghancurkan. Pria itu. Pria yang sempat menjadi pelangi indah hadir mengisi relung hatiku dengan pendar cahaya memabukkan. Pria dengan sorot mata teduh menenangkan. Teduh langit sehabis hujan, segar menggairahkan.
          Pertama kali aku mendapatinya duduk di bangku kayu menghadap kolam renang umum di dekat rumah. Dia tidak berenang, berendam atau bermain air sama sekali. Hanya duduk menatap air kolam yang beriak, bergelombang, serta riuh reda anak-anak kecil yang asyik bersenda gurau. Dia tetap tak bergeming saat awan gelap datang memayungi langit, sampai rintik-rintik air turun mengguyurnya. Dia tetap tak bergeming sama sekali.
          Tiba-tiba hatiku tergerak untuk memayungi pria yang kini telah basah oleh karena guyuran hujan. Dia tersenyum padaku, senyum tipis tulus menyejukkan. “Trimakasih,” Katanya.
          “Kembali kasih,” Kataku. “Mengapa engkau berhujan-hujan disini? Sebaiknya berteduh dahulu”
          “Tidak.” Dia menggeleng lemah. “Aku menanti pelangi datang. Nanti jika aku berteduh bisa-bisa pelangi tidak jadi datang atau malah pergi sebelum aku bersiap”
          “Meski begitu pelangi belum tentu datang?”
          “Dia pasti datang, pasti kepada orang yang menanti dengan kesungguhan hingga mengorbankan sesuatu di hidupnya.” Hmmm.. aku sempat tak mempercayainya, tapi sorot matanya itu penuh keteguhan dan keyakinan. Tak tergoyahkan oleh ketidakpastian.
          Sungguh keajaiban terjadi. Penantian dua jam di bawah derai hujan terjawab indah. Pelangi muncul di ufuk timur. Di bawah rintik hujan samar-samar. Pelangi itu datang dengan jelas, tidak samar tapi jelas sekali. Seolah pelangi itu dilukis dengan crayon anak SD sehingga begitu jelas wujudnya. Pelangi terindah yang pernah kutemui. Apalagi ditambah tatap lembut pria di sebelahku membuat semuanya terasa sempurna.
          Aku tak ingat awal aku mencintai pelangi atau sejak kapannya, tapi semenjak pertemuan itu arti pelangi di hidupku sangatlah besar. Pelangi hadir dengan nuansa berbeda dan arti lebih bagi hidupku. Dan pria itu juga. Pria pemilik sorot mata teduh sehabis hujan. Pria itu melompati semua pria-pria lain untuk segera bisa menempati posisi paling penting di hatiku. Posisi kunci yang terutama.
          Aku tak mengakui hubungan pacaran. Buat apa? Itu hanya sebuah batu tumpuan sementara sebelum memasuki jenjang pernikahan. Sehingga jika sudah siap langsung memasuki jenjang pernikahan maka pacaran tidak dibutuhkan. Tidak lagi menjadi penting dan berarti. Keputusan pernikahan telah kami diskusikan bersama, komitmen diucapkan, konsekuensi diambil dan hidup baru dimulai. Hidup bersama demi membentuk keluarga seindah pelangi.
          Hidup adalah perjudian. Istilah itu baru aku sadari maknanya ketika aku mulai membangun bahtera keluarga. Semuanya terbuka dan tirai penghalang tersingkap. Pria itu berubah menjadi pria lain yang jauh berbeda. Tidak sama seperti yang aku kenali dulu. Tidak lagi sama seperti pria pemilik sorot mata teduh yang membuatku jatuh cinta pada pelangi.
          Ternyata hidup pria itu dibawah belai manja obat-obat terlarang. Orang bilang bong atau ganja yang bahasa trendnya cimeng. Pertama aku tak begitu menyadarinya. Dia hanya selalu lama sekali saat ke kamar mandi. Dan kamar mandi itu selalu dipenuhi asap mengepul penuh seolah kebakaran hutan terjadi di situ. Aku tak mengerti, awalnya kukira itu hanya efek biasa dari rokok. Namun ketika bertanya kepada temannya barulah aku tahu kalau itu Ganja. Tumbuhan iblis yang disamarkan sebagai tumbuhan Tuhan, menjebak masuk ke dalam fatamorgana tak bertepi hingga lupa ada kenyataan di sisi lain hidup ini.
          Apa penyebabnya? Katanya dia ingin melihat pelangi. Dan dengan memakai ‘itu’ dia bisa melihat pelangi selalu. Selalu ada, hadir terus setiap saat kapan pun dia mau. Alasan yang sangat masuk akal. Karena aku tahu alangkah dahsyatnya cinta pria itu kepada pelangi. Pernah suatu kali dia mendengar cerita tentang ‘air terjun pelangi’ yang konon air yang terjatuh dari puncak akan menampilkan pelangi yang indah, tujuh lapis pelangi bertingkat. Dia tak mempercayainya. Esok harinya pagi-pagi buta ia menyeretku untuk melihat pelangi itu. Jenis pelangi yang tak biasa. Ya benar, pelangi itu ada saat mentari terbit dan membentuk sudut yang pas untuk membiaskan cahayanya membentuk pelangi di bawah kaki tebing. Belum pernah kulihat matanya seperti itu, sorot mata teduhnya berubah menjadi binar-binar jelita nan jenaka. Namun keindahan pelangi tidaklah kekal, hanya sebatas kecup saja pelangi akan pergi tanpa bekas. Binar matanya juga ikut pergi bersama pelangi itu, kembali menjadi teduh awan gelap sebelum hujan. Hanya karena pelangi pria itu sampai seperti. Semuanya karena pelangi. Dia yang rasa cintanya dibutakan oleh wujud yang sebenarnya tak nyata. Dia pemilik cinta buta yang hanya ingin memiliki.
          Ketika aku tahu dan melarangnya, kupikir dia akan berubah seperti dulu, pria pendiam yang memiliki sorot mata teduh sehabis hujan. Namun aku salah. Dia tidak berubah. Dia semakin menjadi dan menjadi. Tak lagi kutemui sorot mata teduh itu, yang ada adalah kilat-kilat badai terpercik dari matanya. Seram. Setiap kali dia menatapku aku merinding dibuatnya. Dapatkan seseorang berubah sedrastis ini? Aku tak pernah menduga. Kepalaku pening setiap kali memikirkannya. Kemungkinan bahwa pria yang dulu kukenal sudah tidak ada lagi. Bahwa pria yang membuatku mencintai pelangi sekarang berubah menjadi pembawa badai di hidupku.
          Cintaku kepada pelangi menghilang seiring kepergian pria itu. Setiap kali kutatap wajahnya, aku tak menemui pria itu lagi. Untuk saat ini aku benci pelangi. Tak ada alasan untukku mencintai pelangi itu. Pelangi yang telah merenggut pria itu. Wajah yang sama tapi orang yang berbeda. Pelangi dengan sombong berkata bahwa dialah yang terindah yang keindahannya menyesatkan mata seperti ganja.
          Bagaimana dengan cintaku kepada pria itu? Pertanyaan itu terus berulang di dalam kepalaku. Dan pertanyaan itu selalu muncul dengan jawaban ‘Badai pasti berlalu’, hanya masalahnya disini adalah kapan. Sudah lupa aku kapan pertanyaan itu muncul. Aku sudah mulai muak dan jijik dengan pasangan pertanyaan dan jawaban itu. Sudah ingin kuakhiri hubungan dan semuanya. Cintaku telah gagal.
          Hanya aku memberi pria itu kesempatan terakhir. Kesempatan dimana aku pernah melihat pelangi terindah di hidupku, di pertemuan aku dan pria itu untuk pertama kalinya. Hari ini aku mengajaknya duduk di depan kolam renang memandang dasar kolam yang berlumut. Sama seperti hidupku.
          “Mana pelanginya?” Dia berteriak marah kepadaku.
          “Sabar! pelangi itu pasti datang setelah hujan berlalu.” Kataku coba menenangkannya.
          “Mana?? Aku mau pelangi itu sekarang! Pokoknya SE-KA-RANG!!” Pria itu tak menggubrisku, ia hendak menyulut kembali daun setan itu. Aku menepisnya keras dan daun itu jatuh tenggelam lebur di tengah riak kolam renang.
          PLAK. “Apa yang kamu lakukan?” Kilatan badai di matanya datang lagi. Aku takut.
          “Sabar!! Sebentar lagi, kita tidak menunggu pelangi, tapi menunggu hujan… percayalah pelangi pasti datang bagi mereka yang mengharapkan dengan sungguh hingga rela mengorbankan sesuatu. Seperti katamu dulu.” Tepat sebelum air mata ini jatuh meleleh, hujan deras mengguyurku, menyamarkan air mata ini.
Bersamaan dengan hujan itu, pria itu menjadi tenang. Dia menyandarkan punggungnya dalam kursi kayu itu. Rileks. Senyum tipis tulus itu kembali hadir di wajahnya.
Aku diam tepekur dengan segala pikiranku dibawah derai hujan, semua pikiran dan kemungkinan buruk berlarian di kepalaku. Namun satu yang kuharapkan yaitu semoga pelangi tak mengecewakanku. Untuk terakhir kalinya izinkan ‘Badai ini Berlalu’, karena jika tidak maka akulah yang akan berlalu dari badai ini. Aku sudah sampai di penghujung kuatku.
Perlahan angin timur berhembus membawa awan hitam berlalu dari atas kepala kami. Rintik-rintik hujan jatuh dengan lembut membasahi setiap jengkal kulit kami. Aku ingat sekali kalau semua ini sama seperti waktu dulu. Pelangi terindah bersama Pria itu mencipta nuansa sempurna. Dan dalam sekedipan mata pelangi itu datang lagi, pelangi yang sama dengan keindahan yang sama. Aku melirik pria di sebelahku, menghela nafas panjang dan tersenyum karena ku tahu pasti bahwa kali ini ‘Badai telah Berlalu’.

--Pelangi tetap jadi komponen terindah melukis agung angkasa--