Badai
Pasti Berlalu. Rangkaian
kata itu sering kudengar. Terlalu sering. Sudah tak terhitung berapa
puluh atau bahkan berapa ratus orang yang telah mengucapkannya
kepadaku. Selalu ada setiap harinya. Belum lagi bunyi alarm, nada
dering panggilan atau lagu di handphone-ku, selalu itu ‘badai
pasti berlalu’.
Benar-benar sudah hafal dan bosan aku mendengarnya.
Semburat
aura ceria di rona wajahnya telah pudar menghilang. Semuanya terkikis
oleh waktu dan kebiasaan yang menghancurkan. Pria itu. Pria yang
sempat menjadi pelangi indah hadir mengisi relung hatiku dengan
pendar cahaya memabukkan. Pria dengan sorot mata teduh menenangkan.
Teduh langit sehabis hujan, segar menggairahkan.
Pertama
kali aku mendapatinya duduk di bangku kayu menghadap kolam renang
umum di dekat rumah. Dia tidak berenang, berendam atau bermain air
sama sekali. Hanya duduk menatap air kolam yang beriak, bergelombang,
serta riuh reda anak-anak kecil yang asyik bersenda gurau. Dia tetap
tak bergeming saat awan gelap datang memayungi langit, sampai
rintik-rintik air turun mengguyurnya. Dia tetap tak bergeming sama
sekali.
Tiba-tiba
hatiku tergerak untuk memayungi pria yang kini telah basah oleh
karena guyuran hujan. Dia tersenyum padaku, senyum tipis tulus
menyejukkan. “Trimakasih,” Katanya.
“Kembali
kasih,” Kataku. “Mengapa engkau berhujan-hujan disini? Sebaiknya
berteduh dahulu”
“Tidak.”
Dia menggeleng lemah. “Aku menanti pelangi datang. Nanti jika aku
berteduh bisa-bisa pelangi tidak jadi datang atau malah pergi sebelum
aku bersiap”
“Meski
begitu pelangi belum tentu datang?”
“Dia
pasti datang, pasti kepada orang yang menanti dengan kesungguhan
hingga mengorbankan sesuatu di hidupnya.” Hmmm.. aku sempat tak
mempercayainya, tapi sorot matanya itu penuh keteguhan dan keyakinan.
Tak tergoyahkan oleh ketidakpastian.
Sungguh
keajaiban terjadi. Penantian dua jam di bawah derai hujan terjawab
indah. Pelangi muncul di ufuk timur. Di bawah rintik hujan
samar-samar. Pelangi itu datang dengan jelas, tidak samar tapi jelas
sekali. Seolah pelangi itu dilukis dengan crayon anak SD sehingga
begitu jelas wujudnya. Pelangi terindah yang pernah kutemui. Apalagi
ditambah tatap lembut pria di sebelahku membuat semuanya terasa
sempurna.
Aku
tak ingat awal aku mencintai pelangi atau sejak kapannya, tapi
semenjak pertemuan itu arti pelangi di hidupku sangatlah besar.
Pelangi hadir dengan nuansa berbeda dan arti lebih bagi hidupku. Dan
pria itu juga. Pria pemilik sorot mata teduh sehabis hujan. Pria itu
melompati semua pria-pria lain untuk segera bisa menempati posisi
paling penting di hatiku. Posisi kunci yang terutama.
Aku
tak mengakui hubungan pacaran. Buat apa? Itu hanya sebuah batu
tumpuan sementara sebelum memasuki jenjang pernikahan. Sehingga jika
sudah siap langsung memasuki jenjang pernikahan maka pacaran tidak
dibutuhkan. Tidak lagi menjadi penting dan berarti. Keputusan
pernikahan telah kami diskusikan bersama, komitmen diucapkan,
konsekuensi diambil dan hidup baru dimulai. Hidup bersama demi
membentuk keluarga seindah pelangi.
Hidup
adalah perjudian. Istilah itu baru aku sadari maknanya ketika aku
mulai membangun bahtera keluarga. Semuanya terbuka dan tirai
penghalang tersingkap. Pria itu berubah menjadi pria lain yang jauh
berbeda. Tidak sama seperti yang aku kenali dulu. Tidak lagi sama
seperti pria pemilik sorot mata teduh yang membuatku jatuh cinta pada
pelangi.
Ternyata
hidup pria itu dibawah belai manja obat-obat terlarang. Orang bilang
bong atau ganja yang bahasa trendnya cimeng. Pertama aku tak begitu
menyadarinya. Dia hanya selalu lama sekali saat ke kamar mandi. Dan
kamar mandi itu selalu dipenuhi asap mengepul penuh seolah kebakaran
hutan terjadi di situ. Aku tak mengerti, awalnya kukira itu hanya
efek biasa dari rokok. Namun ketika bertanya kepada temannya barulah
aku tahu kalau itu Ganja. Tumbuhan iblis yang disamarkan sebagai
tumbuhan Tuhan, menjebak masuk ke dalam fatamorgana tak bertepi
hingga lupa ada kenyataan di sisi lain hidup ini.
Apa
penyebabnya? Katanya dia ingin melihat pelangi. Dan dengan memakai
‘itu’ dia bisa melihat pelangi selalu. Selalu ada, hadir terus
setiap saat kapan pun dia mau. Alasan yang sangat masuk akal. Karena
aku tahu alangkah dahsyatnya cinta pria itu kepada pelangi. Pernah
suatu kali dia mendengar cerita tentang ‘air terjun pelangi’ yang
konon air yang terjatuh dari puncak akan menampilkan pelangi yang
indah, tujuh lapis pelangi bertingkat. Dia tak mempercayainya. Esok
harinya pagi-pagi buta ia menyeretku untuk melihat pelangi itu. Jenis
pelangi yang tak biasa. Ya benar, pelangi itu ada saat mentari terbit
dan membentuk sudut yang pas untuk membiaskan cahayanya membentuk
pelangi di bawah kaki tebing. Belum pernah kulihat matanya seperti
itu, sorot mata teduhnya berubah menjadi binar-binar jelita nan
jenaka. Namun keindahan pelangi tidaklah kekal, hanya sebatas kecup
saja pelangi akan pergi tanpa bekas. Binar matanya juga ikut pergi
bersama pelangi itu, kembali menjadi teduh awan gelap sebelum hujan.
Hanya karena pelangi pria itu sampai seperti. Semuanya karena
pelangi. Dia yang rasa cintanya dibutakan oleh wujud yang sebenarnya
tak nyata. Dia pemilik cinta buta yang hanya ingin memiliki.
Ketika
aku tahu dan melarangnya, kupikir dia akan berubah seperti dulu, pria
pendiam yang memiliki sorot mata teduh sehabis hujan. Namun aku
salah. Dia tidak berubah. Dia semakin menjadi dan menjadi. Tak lagi
kutemui sorot mata teduh itu, yang ada adalah kilat-kilat badai
terpercik dari matanya. Seram. Setiap kali dia menatapku aku
merinding dibuatnya. Dapatkan seseorang berubah sedrastis ini? Aku
tak pernah menduga. Kepalaku pening setiap kali memikirkannya.
Kemungkinan bahwa pria yang dulu kukenal sudah tidak ada lagi. Bahwa
pria yang membuatku mencintai pelangi sekarang berubah menjadi
pembawa badai di hidupku.
Cintaku
kepada pelangi menghilang seiring kepergian pria itu. Setiap kali
kutatap wajahnya, aku tak menemui pria itu lagi. Untuk saat ini aku
benci pelangi. Tak ada alasan untukku mencintai pelangi itu. Pelangi
yang telah merenggut pria itu. Wajah yang sama tapi orang yang
berbeda. Pelangi dengan sombong berkata bahwa dialah yang terindah
yang keindahannya menyesatkan mata seperti ganja.
Bagaimana
dengan cintaku kepada pria itu? Pertanyaan itu terus berulang di
dalam kepalaku. Dan pertanyaan itu selalu muncul dengan jawaban
‘Badai
pasti berlalu’,
hanya masalahnya disini adalah kapan. Sudah lupa aku kapan pertanyaan
itu muncul. Aku sudah mulai muak dan jijik dengan pasangan pertanyaan
dan jawaban itu. Sudah ingin kuakhiri hubungan dan semuanya. Cintaku
telah gagal.
Hanya
aku memberi pria itu kesempatan terakhir. Kesempatan dimana aku
pernah melihat pelangi terindah di hidupku, di pertemuan aku dan pria
itu untuk pertama kalinya. Hari ini aku mengajaknya duduk di depan
kolam renang memandang dasar kolam yang berlumut. Sama seperti
hidupku.
“Mana
pelanginya?” Dia berteriak marah kepadaku.
“Sabar!
pelangi itu pasti datang setelah hujan berlalu.” Kataku coba
menenangkannya.
“Mana?? Aku mau pelangi itu sekarang! Pokoknya SE-KA-RANG!!” Pria itu tak
menggubrisku, ia hendak menyulut kembali daun setan itu. Aku
menepisnya keras dan daun itu jatuh tenggelam lebur di tengah riak
kolam renang.
PLAK.
“Apa yang kamu lakukan?” Kilatan badai di matanya datang lagi.
Aku takut.
“Sabar!!
Sebentar lagi, kita tidak menunggu pelangi, tapi menunggu hujan…
percayalah pelangi pasti datang bagi mereka yang mengharapkan dengan
sungguh hingga rela mengorbankan sesuatu. Seperti katamu dulu.”
Tepat sebelum air mata ini jatuh meleleh, hujan deras mengguyurku,
menyamarkan air mata ini.
Bersamaan
dengan hujan itu, pria itu menjadi tenang. Dia menyandarkan
punggungnya dalam kursi kayu itu. Rileks. Senyum tipis tulus itu
kembali hadir di wajahnya.
Aku diam tepekur
dengan segala pikiranku dibawah derai hujan, semua pikiran dan
kemungkinan buruk berlarian di kepalaku. Namun satu yang kuharapkan
yaitu semoga pelangi tak mengecewakanku. Untuk terakhir kalinya
izinkan ‘Badai
ini Berlalu’,
karena jika tidak maka akulah yang akan berlalu dari badai ini. Aku
sudah sampai di penghujung kuatku.
Perlahan angin timur
berhembus membawa awan hitam berlalu dari atas kepala kami.
Rintik-rintik hujan jatuh dengan lembut membasahi setiap jengkal
kulit kami. Aku ingat sekali kalau semua ini sama seperti waktu dulu.
Pelangi terindah bersama Pria itu mencipta nuansa sempurna. Dan dalam
sekedipan mata pelangi itu datang lagi, pelangi yang sama dengan
keindahan yang sama. Aku melirik pria di sebelahku, menghela nafas
panjang dan tersenyum karena ku tahu pasti bahwa kali ini ‘Badai
telah Berlalu’.
--Pelangi tetap jadi komponen terindah melukis agung angkasa--
No comments:
Post a Comment