Did you know? That rain is actually never stop.
I use umbrella just so that I wouldn't hate it.
I walk through it, life with it, and give thanks for every little bit drop of rain.

Sunday, 16 February 2014

Cinta pada Pelangi

          Badai Pasti Berlalu. Rangkaian kata itu sering kudengar. Terlalu sering. Sudah tak terhitung berapa puluh atau bahkan berapa ratus orang yang telah mengucapkannya kepadaku. Selalu ada setiap harinya. Belum lagi bunyi alarm, nada dering panggilan atau lagu di handphone-ku, selalu itu ‘badai pasti berlalu’. Benar-benar sudah hafal dan bosan aku mendengarnya.
          Semburat aura ceria di rona wajahnya telah pudar menghilang. Semuanya terkikis oleh waktu dan kebiasaan yang menghancurkan. Pria itu. Pria yang sempat menjadi pelangi indah hadir mengisi relung hatiku dengan pendar cahaya memabukkan. Pria dengan sorot mata teduh menenangkan. Teduh langit sehabis hujan, segar menggairahkan.
          Pertama kali aku mendapatinya duduk di bangku kayu menghadap kolam renang umum di dekat rumah. Dia tidak berenang, berendam atau bermain air sama sekali. Hanya duduk menatap air kolam yang beriak, bergelombang, serta riuh reda anak-anak kecil yang asyik bersenda gurau. Dia tetap tak bergeming saat awan gelap datang memayungi langit, sampai rintik-rintik air turun mengguyurnya. Dia tetap tak bergeming sama sekali.
          Tiba-tiba hatiku tergerak untuk memayungi pria yang kini telah basah oleh karena guyuran hujan. Dia tersenyum padaku, senyum tipis tulus menyejukkan. “Trimakasih,” Katanya.
          “Kembali kasih,” Kataku. “Mengapa engkau berhujan-hujan disini? Sebaiknya berteduh dahulu”
          “Tidak.” Dia menggeleng lemah. “Aku menanti pelangi datang. Nanti jika aku berteduh bisa-bisa pelangi tidak jadi datang atau malah pergi sebelum aku bersiap”
          “Meski begitu pelangi belum tentu datang?”
          “Dia pasti datang, pasti kepada orang yang menanti dengan kesungguhan hingga mengorbankan sesuatu di hidupnya.” Hmmm.. aku sempat tak mempercayainya, tapi sorot matanya itu penuh keteguhan dan keyakinan. Tak tergoyahkan oleh ketidakpastian.
          Sungguh keajaiban terjadi. Penantian dua jam di bawah derai hujan terjawab indah. Pelangi muncul di ufuk timur. Di bawah rintik hujan samar-samar. Pelangi itu datang dengan jelas, tidak samar tapi jelas sekali. Seolah pelangi itu dilukis dengan crayon anak SD sehingga begitu jelas wujudnya. Pelangi terindah yang pernah kutemui. Apalagi ditambah tatap lembut pria di sebelahku membuat semuanya terasa sempurna.
          Aku tak ingat awal aku mencintai pelangi atau sejak kapannya, tapi semenjak pertemuan itu arti pelangi di hidupku sangatlah besar. Pelangi hadir dengan nuansa berbeda dan arti lebih bagi hidupku. Dan pria itu juga. Pria pemilik sorot mata teduh sehabis hujan. Pria itu melompati semua pria-pria lain untuk segera bisa menempati posisi paling penting di hatiku. Posisi kunci yang terutama.
          Aku tak mengakui hubungan pacaran. Buat apa? Itu hanya sebuah batu tumpuan sementara sebelum memasuki jenjang pernikahan. Sehingga jika sudah siap langsung memasuki jenjang pernikahan maka pacaran tidak dibutuhkan. Tidak lagi menjadi penting dan berarti. Keputusan pernikahan telah kami diskusikan bersama, komitmen diucapkan, konsekuensi diambil dan hidup baru dimulai. Hidup bersama demi membentuk keluarga seindah pelangi.
          Hidup adalah perjudian. Istilah itu baru aku sadari maknanya ketika aku mulai membangun bahtera keluarga. Semuanya terbuka dan tirai penghalang tersingkap. Pria itu berubah menjadi pria lain yang jauh berbeda. Tidak sama seperti yang aku kenali dulu. Tidak lagi sama seperti pria pemilik sorot mata teduh yang membuatku jatuh cinta pada pelangi.
          Ternyata hidup pria itu dibawah belai manja obat-obat terlarang. Orang bilang bong atau ganja yang bahasa trendnya cimeng. Pertama aku tak begitu menyadarinya. Dia hanya selalu lama sekali saat ke kamar mandi. Dan kamar mandi itu selalu dipenuhi asap mengepul penuh seolah kebakaran hutan terjadi di situ. Aku tak mengerti, awalnya kukira itu hanya efek biasa dari rokok. Namun ketika bertanya kepada temannya barulah aku tahu kalau itu Ganja. Tumbuhan iblis yang disamarkan sebagai tumbuhan Tuhan, menjebak masuk ke dalam fatamorgana tak bertepi hingga lupa ada kenyataan di sisi lain hidup ini.
          Apa penyebabnya? Katanya dia ingin melihat pelangi. Dan dengan memakai ‘itu’ dia bisa melihat pelangi selalu. Selalu ada, hadir terus setiap saat kapan pun dia mau. Alasan yang sangat masuk akal. Karena aku tahu alangkah dahsyatnya cinta pria itu kepada pelangi. Pernah suatu kali dia mendengar cerita tentang ‘air terjun pelangi’ yang konon air yang terjatuh dari puncak akan menampilkan pelangi yang indah, tujuh lapis pelangi bertingkat. Dia tak mempercayainya. Esok harinya pagi-pagi buta ia menyeretku untuk melihat pelangi itu. Jenis pelangi yang tak biasa. Ya benar, pelangi itu ada saat mentari terbit dan membentuk sudut yang pas untuk membiaskan cahayanya membentuk pelangi di bawah kaki tebing. Belum pernah kulihat matanya seperti itu, sorot mata teduhnya berubah menjadi binar-binar jelita nan jenaka. Namun keindahan pelangi tidaklah kekal, hanya sebatas kecup saja pelangi akan pergi tanpa bekas. Binar matanya juga ikut pergi bersama pelangi itu, kembali menjadi teduh awan gelap sebelum hujan. Hanya karena pelangi pria itu sampai seperti. Semuanya karena pelangi. Dia yang rasa cintanya dibutakan oleh wujud yang sebenarnya tak nyata. Dia pemilik cinta buta yang hanya ingin memiliki.
          Ketika aku tahu dan melarangnya, kupikir dia akan berubah seperti dulu, pria pendiam yang memiliki sorot mata teduh sehabis hujan. Namun aku salah. Dia tidak berubah. Dia semakin menjadi dan menjadi. Tak lagi kutemui sorot mata teduh itu, yang ada adalah kilat-kilat badai terpercik dari matanya. Seram. Setiap kali dia menatapku aku merinding dibuatnya. Dapatkan seseorang berubah sedrastis ini? Aku tak pernah menduga. Kepalaku pening setiap kali memikirkannya. Kemungkinan bahwa pria yang dulu kukenal sudah tidak ada lagi. Bahwa pria yang membuatku mencintai pelangi sekarang berubah menjadi pembawa badai di hidupku.
          Cintaku kepada pelangi menghilang seiring kepergian pria itu. Setiap kali kutatap wajahnya, aku tak menemui pria itu lagi. Untuk saat ini aku benci pelangi. Tak ada alasan untukku mencintai pelangi itu. Pelangi yang telah merenggut pria itu. Wajah yang sama tapi orang yang berbeda. Pelangi dengan sombong berkata bahwa dialah yang terindah yang keindahannya menyesatkan mata seperti ganja.
          Bagaimana dengan cintaku kepada pria itu? Pertanyaan itu terus berulang di dalam kepalaku. Dan pertanyaan itu selalu muncul dengan jawaban ‘Badai pasti berlalu’, hanya masalahnya disini adalah kapan. Sudah lupa aku kapan pertanyaan itu muncul. Aku sudah mulai muak dan jijik dengan pasangan pertanyaan dan jawaban itu. Sudah ingin kuakhiri hubungan dan semuanya. Cintaku telah gagal.
          Hanya aku memberi pria itu kesempatan terakhir. Kesempatan dimana aku pernah melihat pelangi terindah di hidupku, di pertemuan aku dan pria itu untuk pertama kalinya. Hari ini aku mengajaknya duduk di depan kolam renang memandang dasar kolam yang berlumut. Sama seperti hidupku.
          “Mana pelanginya?” Dia berteriak marah kepadaku.
          “Sabar! pelangi itu pasti datang setelah hujan berlalu.” Kataku coba menenangkannya.
          “Mana?? Aku mau pelangi itu sekarang! Pokoknya SE-KA-RANG!!” Pria itu tak menggubrisku, ia hendak menyulut kembali daun setan itu. Aku menepisnya keras dan daun itu jatuh tenggelam lebur di tengah riak kolam renang.
          PLAK. “Apa yang kamu lakukan?” Kilatan badai di matanya datang lagi. Aku takut.
          “Sabar!! Sebentar lagi, kita tidak menunggu pelangi, tapi menunggu hujan… percayalah pelangi pasti datang bagi mereka yang mengharapkan dengan sungguh hingga rela mengorbankan sesuatu. Seperti katamu dulu.” Tepat sebelum air mata ini jatuh meleleh, hujan deras mengguyurku, menyamarkan air mata ini.
Bersamaan dengan hujan itu, pria itu menjadi tenang. Dia menyandarkan punggungnya dalam kursi kayu itu. Rileks. Senyum tipis tulus itu kembali hadir di wajahnya.
Aku diam tepekur dengan segala pikiranku dibawah derai hujan, semua pikiran dan kemungkinan buruk berlarian di kepalaku. Namun satu yang kuharapkan yaitu semoga pelangi tak mengecewakanku. Untuk terakhir kalinya izinkan ‘Badai ini Berlalu’, karena jika tidak maka akulah yang akan berlalu dari badai ini. Aku sudah sampai di penghujung kuatku.
Perlahan angin timur berhembus membawa awan hitam berlalu dari atas kepala kami. Rintik-rintik hujan jatuh dengan lembut membasahi setiap jengkal kulit kami. Aku ingat sekali kalau semua ini sama seperti waktu dulu. Pelangi terindah bersama Pria itu mencipta nuansa sempurna. Dan dalam sekedipan mata pelangi itu datang lagi, pelangi yang sama dengan keindahan yang sama. Aku melirik pria di sebelahku, menghela nafas panjang dan tersenyum karena ku tahu pasti bahwa kali ini ‘Badai telah Berlalu’.

--Pelangi tetap jadi komponen terindah melukis agung angkasa--

No comments: