Pagi pergi secepat ia
datang setiap harinya, tanpa basa basi dan permisi. Bagaimana sehari ini tergantung bagaimana pagi dilalui. Secuplik adegan pagi akan mempengaruhi hari seharian seseorang,
berdampak, berakibat dan mengakibatkan.
Meja makan dari kayu
jati berplitur warna coklat yang mulai memudar dipenuhi macam makanan.
Ibu-ibu tua telah bangun pagi-pagi sekali bergelut dengan kompor dan wajan demi
mengusahakannya ada di atas meja. Takut kena semprot jika terlambat apalagi
tidak ada. Empat kursi yang mengelilingi meja telah terisi semuanya. Ayah dan
Ibu duduk saling berhadapan begitu juga Kakak dan Adik. Semua dengan pikirannya
masing-masing menatap piring yang masih kosong, menunggu siapa yang akan
terlebih dulu menanduk nasi di bakul.
“Ayo makan!!” Suara
berat Ayah menyabet keheningan ruang.
“Kakak ambil sendiri!
Biar ibu ambilkan punya adik!” Ibu bangkit berdiri dan mengambil piring Adik
dan mengisinya dengan makanan. Kemudian dia mulai mengisi piring untuk dirinya
sendiri.
Bunyi-bunyian suara
piring, sendok dan garpu memenuhi ruangan. Hanya itu. Tidak ada suara lain.
“Jangan lupa besok kita
ke rumah Kakek!!” Kata Ayah dengan suara tegas memerintah.
“Aku nggak bisa Yah.”
Sahut Kakak sigap, seolah telah bersiap kalau kata-kata itu keluar.
“Kenapa kamu nggak
bisa?” Mata Ayah menatap tajam pada Kakak. Mengintimidasi.
“Aku ada acara OSIS
besok minggu.” Tak mungkin mengatakan
yang sebenarnya.
“Batalkan saja!!”
Perintah Ayah tegas.
“Nggak bisa Yah! Ini sudah
kurencanakan dari dulu” Mana mungkin
kubatalkan, ini kencan pertamaku.
“Sudah!! Pokoknya
batalkan saja!! Jangan ngelawan!!” Perintah semakin menegas tak ingin mendengar
sanggahan lagi.
Kakak menghentikan
makan, berdiri dan beranjak pergi dari meja makan. Selalu begini. Selalu kata-kataku tak pernah didengar.
Adik melirik-lirik
takut kepada Ayah. Ia tak beruntung. Lirikannya tertangkap mata Ayah yang
tajam.
“Apalagi?? Adik juga mau nggak ikut??” Tanya Ayah membaca gelagat Adik.
Ragu-ragu adik
mengangguk.
“Kenapa nggak mau? Mau
main game atau apa?” Lanjut Ayah keras.
Sekali lagi adik
mengangguk. Sudah tahu gitu masih tanya.
“Nggak usah. Pokok
harus ikut. Kalau nggak ikut mainannya akan Ayah sita semua.” Ujar Ayah tak
berperasaan.
Adik semakin merunduk. Selalu begini. Nggak pernah sekalipun
kemauanku dituruti. Ia tak beranjak dari meja makan. Hanya mulai makan
selayaknya robot.
“Apa nggak lebih baik
perginya ditunda saja?” Ucap Ibu pelan dan penuh kehati-hatian.
“Kamu ikut-ikutan juga.
Ini semua karena kamu mereka jadi bandel dan nggak mau nurut seperti ini”
Selalu
aku yang disalahkan. “Mas, aku juga bekerja
sama sepertimu, ini bukan salahku saja”
“Jadi kamu
menyalahkanku. Kamu Ibunya seharusnya kamu bisa mendidik mereka lebih baik”
Kamu
Ayahnya. Ini juga tanggunganmu. “Maaf Mas, aku akan berusaha lebih baik”
“Selalu itu katamu
setiap pagi. Se.la.lu.” Ucap Ayah dengan nada bicara menurun dengan penuh
penekanan.
Selalu seperti ini. Aku
capek Selalu dipersalahkan. Ibu diam tak
melanjutkan bicara. Mempercepat menghabiskan nasi di piring ingin segera pergi
dari meja makan.
Ayah duduk dengan
tegak. Menghabiskan makan dengan santai dan berirama. Kepalanya dipenuhi
pikiran. Selalu seperti ini. Selalu mereka nggak mau
mendengar ucapanku. Walau untuk sekali saja.
Hanya meja yang menjadi
saksi pagi ini. Saksi di setiap pagi, kemarin pagi, pagi ini, besok pagi, dan
mungkin pagi-pagi lain yang akan datang. Sendirian berdoa dan berharap agar
percakapan pagi hari bisa membaik. Saksi bisu yang akan tetap membisu.
--Seandainya benda mati bisa bicara--
No comments:
Post a Comment