Did you know? That rain is actually never stop.
I use umbrella just so that I wouldn't hate it.
I walk through it, life with it, and give thanks for every little bit drop of rain.

Wednesday, 19 February 2014

Dialog Pagi Hari

Pagi pergi secepat ia datang setiap harinya, tanpa basa basi dan permisi. Bagaimana sehari ini tergantung bagaimana pagi dilalui. Secuplik adegan pagi akan mempengaruhi hari seharian seseorang, berdampak, berakibat dan mengakibatkan.
Meja makan dari kayu jati berplitur warna coklat yang mulai memudar dipenuhi macam makanan. Ibu-ibu tua telah bangun pagi-pagi sekali bergelut dengan kompor dan wajan demi mengusahakannya ada di atas meja. Takut kena semprot jika terlambat apalagi tidak ada. Empat kursi yang mengelilingi meja telah terisi semuanya. Ayah dan Ibu duduk saling berhadapan begitu juga Kakak dan Adik. Semua dengan pikirannya masing-masing menatap piring yang masih kosong, menunggu siapa yang akan terlebih dulu menanduk nasi di bakul.
“Ayo makan!!” Suara berat Ayah menyabet keheningan ruang.
“Kakak ambil sendiri! Biar ibu ambilkan punya adik!” Ibu bangkit berdiri dan mengambil piring Adik dan mengisinya dengan makanan. Kemudian dia mulai mengisi piring untuk dirinya sendiri.
Bunyi-bunyian suara piring, sendok dan garpu memenuhi ruangan. Hanya itu. Tidak ada suara lain.
“Jangan lupa besok kita ke rumah Kakek!!” Kata Ayah dengan suara tegas memerintah.
“Aku nggak bisa Yah.” Sahut Kakak sigap, seolah telah bersiap kalau kata-kata itu keluar.
“Kenapa kamu nggak bisa?” Mata Ayah menatap tajam pada Kakak. Mengintimidasi.
“Aku ada acara OSIS besok minggu.” Tak mungkin mengatakan yang sebenarnya.
“Batalkan saja!!” Perintah Ayah tegas.
“Nggak bisa Yah! Ini sudah kurencanakan dari dulu” Mana mungkin kubatalkan, ini kencan pertamaku.
“Sudah!! Pokoknya batalkan saja!! Jangan ngelawan!!” Perintah semakin menegas tak ingin mendengar sanggahan lagi.
Kakak menghentikan makan, berdiri dan beranjak pergi dari meja makan. Selalu begini. Selalu kata-kataku tak pernah didengar.
Adik melirik-lirik takut kepada Ayah. Ia tak beruntung. Lirikannya tertangkap mata Ayah yang tajam.
“Apalagi?? Adik juga mau nggak ikut??” Tanya Ayah membaca gelagat Adik.
Ragu-ragu adik mengangguk.
“Kenapa nggak mau? Mau main game atau apa?” Lanjut Ayah keras.
Sekali lagi adik mengangguk. Sudah tahu gitu masih tanya.
“Nggak usah. Pokok harus ikut. Kalau nggak ikut mainannya akan Ayah sita semua.” Ujar Ayah tak berperasaan.
Adik semakin merunduk. Selalu begini. Nggak pernah sekalipun kemauanku dituruti. Ia tak beranjak dari meja makan. Hanya mulai makan selayaknya robot.
“Apa nggak lebih baik perginya ditunda saja?” Ucap Ibu pelan dan penuh kehati-hatian.
“Kamu ikut-ikutan juga. Ini semua karena kamu mereka jadi bandel dan nggak mau nurut seperti ini”
Selalu aku yang disalahkan. “Mas, aku juga bekerja sama sepertimu, ini bukan salahku saja”
“Jadi kamu menyalahkanku. Kamu Ibunya seharusnya kamu bisa mendidik mereka lebih baik”
Kamu Ayahnya. Ini juga tanggunganmu. “Maaf  Mas, aku akan berusaha lebih baik”
“Selalu itu katamu setiap pagi. Se.la.lu.” Ucap Ayah dengan nada bicara menurun dengan penuh penekanan.
Selalu seperti ini. Aku capek Selalu dipersalahkan. Ibu diam tak melanjutkan bicara. Mempercepat menghabiskan nasi di piring ingin segera pergi dari meja makan.
Ayah duduk dengan tegak. Menghabiskan makan dengan santai dan berirama. Kepalanya dipenuhi pikiran. Selalu seperti ini. Selalu mereka nggak mau mendengar ucapanku. Walau untuk sekali saja.
Hanya meja yang menjadi saksi pagi ini. Saksi di setiap pagi, kemarin pagi, pagi ini, besok pagi, dan mungkin pagi-pagi lain yang akan datang. Sendirian berdoa dan berharap agar percakapan pagi hari bisa membaik. Saksi bisu yang akan tetap membisu. 

--Seandainya benda mati bisa bicara--

No comments: