Did you know? That rain is actually never stop.
I use umbrella just so that I wouldn't hate it.
I walk through it, life with it, and give thanks for every little bit drop of rain.

Wednesday, 19 February 2014

Dialog Pagi Hari

Pagi pergi secepat ia datang setiap harinya, tanpa basa basi dan permisi. Bagaimana sehari ini tergantung bagaimana pagi dilalui. Secuplik adegan pagi akan mempengaruhi hari seharian seseorang, berdampak, berakibat dan mengakibatkan.
Meja makan dari kayu jati berplitur warna coklat yang mulai memudar dipenuhi macam makanan. Ibu-ibu tua telah bangun pagi-pagi sekali bergelut dengan kompor dan wajan demi mengusahakannya ada di atas meja. Takut kena semprot jika terlambat apalagi tidak ada. Empat kursi yang mengelilingi meja telah terisi semuanya. Ayah dan Ibu duduk saling berhadapan begitu juga Kakak dan Adik. Semua dengan pikirannya masing-masing menatap piring yang masih kosong, menunggu siapa yang akan terlebih dulu menanduk nasi di bakul.
“Ayo makan!!” Suara berat Ayah menyabet keheningan ruang.
“Kakak ambil sendiri! Biar ibu ambilkan punya adik!” Ibu bangkit berdiri dan mengambil piring Adik dan mengisinya dengan makanan. Kemudian dia mulai mengisi piring untuk dirinya sendiri.
Bunyi-bunyian suara piring, sendok dan garpu memenuhi ruangan. Hanya itu. Tidak ada suara lain.
“Jangan lupa besok kita ke rumah Kakek!!” Kata Ayah dengan suara tegas memerintah.
“Aku nggak bisa Yah.” Sahut Kakak sigap, seolah telah bersiap kalau kata-kata itu keluar.
“Kenapa kamu nggak bisa?” Mata Ayah menatap tajam pada Kakak. Mengintimidasi.
“Aku ada acara OSIS besok minggu.” Tak mungkin mengatakan yang sebenarnya.
“Batalkan saja!!” Perintah Ayah tegas.
“Nggak bisa Yah! Ini sudah kurencanakan dari dulu” Mana mungkin kubatalkan, ini kencan pertamaku.
“Sudah!! Pokoknya batalkan saja!! Jangan ngelawan!!” Perintah semakin menegas tak ingin mendengar sanggahan lagi.
Kakak menghentikan makan, berdiri dan beranjak pergi dari meja makan. Selalu begini. Selalu kata-kataku tak pernah didengar.
Adik melirik-lirik takut kepada Ayah. Ia tak beruntung. Lirikannya tertangkap mata Ayah yang tajam.
“Apalagi?? Adik juga mau nggak ikut??” Tanya Ayah membaca gelagat Adik.
Ragu-ragu adik mengangguk.
“Kenapa nggak mau? Mau main game atau apa?” Lanjut Ayah keras.
Sekali lagi adik mengangguk. Sudah tahu gitu masih tanya.
“Nggak usah. Pokok harus ikut. Kalau nggak ikut mainannya akan Ayah sita semua.” Ujar Ayah tak berperasaan.
Adik semakin merunduk. Selalu begini. Nggak pernah sekalipun kemauanku dituruti. Ia tak beranjak dari meja makan. Hanya mulai makan selayaknya robot.
“Apa nggak lebih baik perginya ditunda saja?” Ucap Ibu pelan dan penuh kehati-hatian.
“Kamu ikut-ikutan juga. Ini semua karena kamu mereka jadi bandel dan nggak mau nurut seperti ini”
Selalu aku yang disalahkan. “Mas, aku juga bekerja sama sepertimu, ini bukan salahku saja”
“Jadi kamu menyalahkanku. Kamu Ibunya seharusnya kamu bisa mendidik mereka lebih baik”
Kamu Ayahnya. Ini juga tanggunganmu. “Maaf  Mas, aku akan berusaha lebih baik”
“Selalu itu katamu setiap pagi. Se.la.lu.” Ucap Ayah dengan nada bicara menurun dengan penuh penekanan.
Selalu seperti ini. Aku capek Selalu dipersalahkan. Ibu diam tak melanjutkan bicara. Mempercepat menghabiskan nasi di piring ingin segera pergi dari meja makan.
Ayah duduk dengan tegak. Menghabiskan makan dengan santai dan berirama. Kepalanya dipenuhi pikiran. Selalu seperti ini. Selalu mereka nggak mau mendengar ucapanku. Walau untuk sekali saja.
Hanya meja yang menjadi saksi pagi ini. Saksi di setiap pagi, kemarin pagi, pagi ini, besok pagi, dan mungkin pagi-pagi lain yang akan datang. Sendirian berdoa dan berharap agar percakapan pagi hari bisa membaik. Saksi bisu yang akan tetap membisu. 

--Seandainya benda mati bisa bicara--

Monday, 17 February 2014

Sebatas Kakak

             Dirga. Bukankah nama itu terbaca begitu merdu? Setiap pagi aku dekat sekali dengan punggungnya, tak sampai sepanjang jari-jariku. Seringkali aku mencoba memberanikan diri untuk memeluk pinggangnya, tapi setiap kali juga tak terjadi. Suara derum mesin motor tak sekeras suara detak jantungku. Hembusan angin tak semenderu embusan nafasku. Merahnya kepiting rebus tak semerona merahnya wajahku. kuharap dia tak melirikku dari kaca spion. Apa yang terjadi denganku? Seluruh dunia pasti bahwa aku jatuh cinta. Namun kenapa bisa seheboh ini? Karena akhirnya cintaku berbalas. Dunia serasa jungkir balik dan hari berlalu lebih menarik.
               Aku telah mengenalnya sejauh ingatanku bekerja. Orangtuaku adalah pasangan guru, yang pada zaman dahulu adalah benar-benar seorang pahlawan tanpa tanda jasa, apalagi orang tuaku hanyalah guru swasta. Bayangkan yang pegawai negeri saja pahlawan tanpa tanda jasa, apalagi yang guru swasta. Mereka berangkat selalu bersamaku dan pulang jauh setelahku, hampir bebarengan dengan sang mentari.
              Apa ada orangtua yang tega meninggalkan anaknya di rumah sendirian? Tidak, mereka tidak akan tega, orangtua pasti akan mencari pembantu untuk menjaga anaknya kala mereka bekerja seharian. Tapi bagaimana dengan mereka yang tak punya cukup uang untuk membayar pembantu? Mereka tak punya banyak pilihan, mereka akan menitipkannya ke orang lain. Seperti itulah nasibku. Aku dititipkan kepada seorang ibu single parent berjarak dua rumah dari rumahku. Bik Minah namanya.
               Bik Minah punya seorang anak, jauh lebih tua dariku, berselisih lima tahun. Dialah Dirga. Seperti keluarga baru pada umumnya, rumah yang kami tempati adalah rumah baru, berada di kompleks perumahan baru. Belum banyak keluarga yang tinggal di perumahan ini, belum banyak anak-anak kecil yang ada. Satu-satunya yang kukenal adalah Dirga. Kemana-mana ia pergi, aku ikut. Apapun permainan yang ia lakukan, aku juga. Dimana dia berada, disitulah aku. Tak terpisahkan.
               Waktu berjalan cepat. Ia tumbuh sebagai pemuda tampan sebagaimana mestinya. Sedang aku malah kebalikan dari dia, aku tumbuh menjadi cewek yang tak sebagaimana mestinya, cewek tomboy. Seleraku sama dengannya, kaos denim, celana jins komprang, sepatu sporty sampai kepada gaya rambut. Kupotong rambutku sama dengan dia, pendek model laki-laki. Saat ada teman perempuan sebaya, semuanya telah terlambat, aku sudah sukses menjadi cewek tomboy.
               Aku merasakan mens ku pertama bebarengan dengan aku merasakan sakit hati pertama kalinya. Dirga mengenalkan seorang cewek padaku yang ia akui sebagai pacarnya. Sehari aku ngeblank, esoknya dadaku sakit dan nangis sendiri, lusanya aku baru tahu sebabnya. Temanku di sekolah bilang aku patah hati, sakit hati, cemburu dan lain sebagainya. Aku yang masih kecil belum tahu apa-apa menyadari cinta saat cinta itu pergi. Mengenal patah hati sebelum jatuh hai. Kepada Dirga. Dirga yang kini bersama cewek lain. Cewek yang jauh berbeda dariku.
               Ia tetap memperlakukanku sama seperti biasanya. Tapi semua perlakuan sama itu terasa sangat berbeda bagiku. Apa yang salah? Kurasa ini semua karena aku tak ingin perlakuan sama, aku ingin sebuah perlakuan yang lebih darinya. Perlakuan yang ia tujukan kepada pacarnya. Menyuapi dengan lembut, menemani mengerjakan PR, berjalan bergandengan tangan. Hal-hal sederhana namun romantis. Tidak seperti ini, ia berjalan di depanku dan aku melangkah dengan cepat supaya mampu membuntutinya.
              Cewek itu berambut panjang. Ah, aku juga bisa, meski butuh waktu dua tahun tapi akhirnya rambutku panjang juga. Cewek itu berdandan cantik dengan lipstik semerah maruun. Dia bisa, maka aku pasti bisa. Tidak mudah memang, awalnya belepotan yang lebih mirip badut. Tapi aku tak menyerah, sampai akhirnya aku bisa memakai make up dan baju ala-ala perempuan modern. Dress dan sepatu ber-hells. Namun, mengapa Dirga masih belum memperhatikanku juga? Ia malah berkata padaku kalau aku telah berubah dan menjadi dewasa. Sejak itu hubunganku dengannya semakin merenggang dan berjarak. Jarak yang lebih nyata daripada jarak fisik.
              Tapi semuanya berubah, seminggu kemarin Dirga putus dengan pacarnya. Betapa aku bahagia saat itu. Seperti dapat undian berhadiah. Maaf ya Dirga, waktu kamu sedih aku sebenarnya tertawa dalam hati. Hanya percayalah padaku, itu tangisanmu yang terakhir kalinya, bersamaku, tak akan aku biarkan kamu bersedih lagi.
              Dunia lebih indah. Dunia terasa mundur diwaktu aku dan dia selalu bersama, bermain dan pergi kemana saja berduaan. Waktu kembali berlalu dengan cepat didorong rasa bahagia. Dia tak pernah menyatakan cinta padaku, tapi apalah artinya kalau kita sudah selalu keluar bersama. Senyum hangatnya kembali utuh, utuh tak dibagikan kepada cewek lain selain aku.
              Hari ini hari paling bahagia, tadi sewaktu ia menjemputku ia mengajakku keluar nanti malam. Malam minggu. cowok dan cewek keluar bersama. Apa lagi kalau bukan pacaran? benar tidak. Mulai dari motor, sekolah, sampai pulang rumah, aku tak bisa berhenti tersenyum. Hampir gila rasanya.
              "Sudah siap?" Katanya saat menjemputku. Dirga berkemeja dengan celana jins dan sepatu sporty putih. Aku bisa membayangkan tampannya wajahnya meski tertutup helm full-face.
              "Siapp!!" jawabku cepat yang memang dari tadi telah menunggui di depan pintu rumah. Stand by.
              "Kemana kita kak?" tanyaku ketika sudah duduk di jok motornya.
              "Ke ulang tahunnya temanku. Agak aneh kalau harus berangkat sendirian. Kamu mau kan menemaniku?"
              Aku mengangguk dan sepeda pun meluncur. Pada dasarnya aku tak peduli akan pergi kemana asal itu bersama Dirga.
              Aku berjalan beriringan dengannya. Sesekali ingin kucoba menggenggam tangannya, ingin merasakan bagaimana rasanya melangkah seperti itu. Langkah romantis pasangan yang dimadu asmara. Namun semuanya urung kulakukan. Rasa maluku tak mampu kulawan. Kubiarkan saja, tak kulakukan saja hatiku sudah sangat berbunga-bunga.
              Pesta ulang tahun ini sangat ramai, banyak anak beranjak dewasa berpenampilan menawan ada disini. Meriah dan ramai. Aku sedikit minder sendiri saat kusadari bahwa aku terlihat yang paling muda. Semuanya nampak dewasa, cantik dan ganteng. Namun saat aku melirik ke sampingku dan ada Dirga, semuanya itu hilang, aku merasa tercantik dan teristimewa. Tak peduli keadaan sekelilingku.
              Aku bertanya siapa temannya yang merayakan ulang tahun. Dirga hanya menjawab bahwa sebentar lagi aku akan tahu, bahwa aku mengenalnya juga. Tak beberapa lama ada seorang gadis mengenakan gaun putih panjang rambut indah keluar dari dalam rumah. Wajahnya begitu anggun dan sangat cantik. Tak bisa disejajarkan dengan semua gadis di pesta ini, apalagi aku, aku serasa kerdil dan mini. Kulesatkan mataku pada gadis itu hingga aku menemukan sesuatu yang menyesakkan dada. Cewek itu. Cewek yang dahulu adalah pacar dari Dirga.
              Dia tampil ke depan kue tart putih. Parasnya yang ayu semakin bersinar menjadi pusat perhatian semua undangan pesta. Dia mengambil mic dan mulai berbicara, "Terimakasih untuk semua teman-teman yang telah hadir di pesta ulang tahunku yang ke tujuh belas." Suaranya merdu, semua orang bertepuk tangan riuh.
              "Dan juga kepada Dirga yang telah hadir saat ini." Dia mengerling ke arah Dirga. Aku juga melirik ke Dirga yang di sebelahku, matanya berbinar bahagia, tak pernah kutemui yang seperti ini. Mendadak dadaku merasa sesak sekali.
              "Pada malam ini, aku akan membuat pengakuan" Dia membiarkan semua orang untuk diam sebelum melanjutkan. Senyap yang serius. Aku semakin merasa sesak, sesak sekali hingga sulit bernafas.
              "Hari-hari saat putus denganmu terasa sangat berat Dirga. Dan kutahu pasti itu karena aku mencintaimu Dir... Dan aku ingin kita kembali berpacaran seperti dahulu."
              Kata-kata itu bagaikan meruntuhkan duniaku, menghancurkan segalanya. Saat aku sadar dan melirik ke sebelah kutahu bahwa sekarang benar-benar hancur. Dirga sudah tidak ada di sebelahku. Dia kini berlari mendekat ke arah cewek itu dan bertatapan mesra. Tangan keduanya bertemu, bertautan dan bersatu. Satu hal yang sangat kudambakan terjadi di depan mataku, hanya saja dengan dia dan bukan aku. Saat ini aku ingin luruh dan hilang dari tempat ini.
              Mendadak suara sekitar menjadi riuh reda, lebih gemuruh daripada yang tadi, kontras sekali dengan keadaanku saat ini. Aku melihat ke depan. Dan sesak ini memuncak hingga nafas tertahan. Segalanya terasa berhenti. Air mata turun mengalir dalam hening. Betapa aku melihat Dirga dan cewek itu berciuman. Betapa itu kini meleburkanku menjadi debu tertiup angin. Aku tak lagi kerdil, aku adalah debu, debu di matanya.
              Aku tak kuasa lagi bertahan disitu. Aku berlari pergi diiringi suasana yang meriah. Semuanya telah hancur, semuanya yang kuusahakan dan kuperjuangkan. Tak dianggap. Tak berarti. Sia-sia belaka. Lebih menyakitkan bukanlah perjuangan yang tak berhasil, namun perjuangan yang tak diangga. Itu.
              Kini aku sadar bagaimana hubungan ini. Bagaimana ia melihatku. Bagaimana aku melewati garis yang telah ditentukan. Bagaimana aku seharusnya tak melakukannya. Ada perbatasan menjulang yang tak bisa ditembus. Dia dan aku. Sebatas kakak.

--Di dunia ini ada dinding yang tak tertembus--

Sunday, 16 February 2014

Cinta pada Pelangi

          Badai Pasti Berlalu. Rangkaian kata itu sering kudengar. Terlalu sering. Sudah tak terhitung berapa puluh atau bahkan berapa ratus orang yang telah mengucapkannya kepadaku. Selalu ada setiap harinya. Belum lagi bunyi alarm, nada dering panggilan atau lagu di handphone-ku, selalu itu ‘badai pasti berlalu’. Benar-benar sudah hafal dan bosan aku mendengarnya.
          Semburat aura ceria di rona wajahnya telah pudar menghilang. Semuanya terkikis oleh waktu dan kebiasaan yang menghancurkan. Pria itu. Pria yang sempat menjadi pelangi indah hadir mengisi relung hatiku dengan pendar cahaya memabukkan. Pria dengan sorot mata teduh menenangkan. Teduh langit sehabis hujan, segar menggairahkan.
          Pertama kali aku mendapatinya duduk di bangku kayu menghadap kolam renang umum di dekat rumah. Dia tidak berenang, berendam atau bermain air sama sekali. Hanya duduk menatap air kolam yang beriak, bergelombang, serta riuh reda anak-anak kecil yang asyik bersenda gurau. Dia tetap tak bergeming saat awan gelap datang memayungi langit, sampai rintik-rintik air turun mengguyurnya. Dia tetap tak bergeming sama sekali.
          Tiba-tiba hatiku tergerak untuk memayungi pria yang kini telah basah oleh karena guyuran hujan. Dia tersenyum padaku, senyum tipis tulus menyejukkan. “Trimakasih,” Katanya.
          “Kembali kasih,” Kataku. “Mengapa engkau berhujan-hujan disini? Sebaiknya berteduh dahulu”
          “Tidak.” Dia menggeleng lemah. “Aku menanti pelangi datang. Nanti jika aku berteduh bisa-bisa pelangi tidak jadi datang atau malah pergi sebelum aku bersiap”
          “Meski begitu pelangi belum tentu datang?”
          “Dia pasti datang, pasti kepada orang yang menanti dengan kesungguhan hingga mengorbankan sesuatu di hidupnya.” Hmmm.. aku sempat tak mempercayainya, tapi sorot matanya itu penuh keteguhan dan keyakinan. Tak tergoyahkan oleh ketidakpastian.
          Sungguh keajaiban terjadi. Penantian dua jam di bawah derai hujan terjawab indah. Pelangi muncul di ufuk timur. Di bawah rintik hujan samar-samar. Pelangi itu datang dengan jelas, tidak samar tapi jelas sekali. Seolah pelangi itu dilukis dengan crayon anak SD sehingga begitu jelas wujudnya. Pelangi terindah yang pernah kutemui. Apalagi ditambah tatap lembut pria di sebelahku membuat semuanya terasa sempurna.
          Aku tak ingat awal aku mencintai pelangi atau sejak kapannya, tapi semenjak pertemuan itu arti pelangi di hidupku sangatlah besar. Pelangi hadir dengan nuansa berbeda dan arti lebih bagi hidupku. Dan pria itu juga. Pria pemilik sorot mata teduh sehabis hujan. Pria itu melompati semua pria-pria lain untuk segera bisa menempati posisi paling penting di hatiku. Posisi kunci yang terutama.
          Aku tak mengakui hubungan pacaran. Buat apa? Itu hanya sebuah batu tumpuan sementara sebelum memasuki jenjang pernikahan. Sehingga jika sudah siap langsung memasuki jenjang pernikahan maka pacaran tidak dibutuhkan. Tidak lagi menjadi penting dan berarti. Keputusan pernikahan telah kami diskusikan bersama, komitmen diucapkan, konsekuensi diambil dan hidup baru dimulai. Hidup bersama demi membentuk keluarga seindah pelangi.
          Hidup adalah perjudian. Istilah itu baru aku sadari maknanya ketika aku mulai membangun bahtera keluarga. Semuanya terbuka dan tirai penghalang tersingkap. Pria itu berubah menjadi pria lain yang jauh berbeda. Tidak sama seperti yang aku kenali dulu. Tidak lagi sama seperti pria pemilik sorot mata teduh yang membuatku jatuh cinta pada pelangi.
          Ternyata hidup pria itu dibawah belai manja obat-obat terlarang. Orang bilang bong atau ganja yang bahasa trendnya cimeng. Pertama aku tak begitu menyadarinya. Dia hanya selalu lama sekali saat ke kamar mandi. Dan kamar mandi itu selalu dipenuhi asap mengepul penuh seolah kebakaran hutan terjadi di situ. Aku tak mengerti, awalnya kukira itu hanya efek biasa dari rokok. Namun ketika bertanya kepada temannya barulah aku tahu kalau itu Ganja. Tumbuhan iblis yang disamarkan sebagai tumbuhan Tuhan, menjebak masuk ke dalam fatamorgana tak bertepi hingga lupa ada kenyataan di sisi lain hidup ini.
          Apa penyebabnya? Katanya dia ingin melihat pelangi. Dan dengan memakai ‘itu’ dia bisa melihat pelangi selalu. Selalu ada, hadir terus setiap saat kapan pun dia mau. Alasan yang sangat masuk akal. Karena aku tahu alangkah dahsyatnya cinta pria itu kepada pelangi. Pernah suatu kali dia mendengar cerita tentang ‘air terjun pelangi’ yang konon air yang terjatuh dari puncak akan menampilkan pelangi yang indah, tujuh lapis pelangi bertingkat. Dia tak mempercayainya. Esok harinya pagi-pagi buta ia menyeretku untuk melihat pelangi itu. Jenis pelangi yang tak biasa. Ya benar, pelangi itu ada saat mentari terbit dan membentuk sudut yang pas untuk membiaskan cahayanya membentuk pelangi di bawah kaki tebing. Belum pernah kulihat matanya seperti itu, sorot mata teduhnya berubah menjadi binar-binar jelita nan jenaka. Namun keindahan pelangi tidaklah kekal, hanya sebatas kecup saja pelangi akan pergi tanpa bekas. Binar matanya juga ikut pergi bersama pelangi itu, kembali menjadi teduh awan gelap sebelum hujan. Hanya karena pelangi pria itu sampai seperti. Semuanya karena pelangi. Dia yang rasa cintanya dibutakan oleh wujud yang sebenarnya tak nyata. Dia pemilik cinta buta yang hanya ingin memiliki.
          Ketika aku tahu dan melarangnya, kupikir dia akan berubah seperti dulu, pria pendiam yang memiliki sorot mata teduh sehabis hujan. Namun aku salah. Dia tidak berubah. Dia semakin menjadi dan menjadi. Tak lagi kutemui sorot mata teduh itu, yang ada adalah kilat-kilat badai terpercik dari matanya. Seram. Setiap kali dia menatapku aku merinding dibuatnya. Dapatkan seseorang berubah sedrastis ini? Aku tak pernah menduga. Kepalaku pening setiap kali memikirkannya. Kemungkinan bahwa pria yang dulu kukenal sudah tidak ada lagi. Bahwa pria yang membuatku mencintai pelangi sekarang berubah menjadi pembawa badai di hidupku.
          Cintaku kepada pelangi menghilang seiring kepergian pria itu. Setiap kali kutatap wajahnya, aku tak menemui pria itu lagi. Untuk saat ini aku benci pelangi. Tak ada alasan untukku mencintai pelangi itu. Pelangi yang telah merenggut pria itu. Wajah yang sama tapi orang yang berbeda. Pelangi dengan sombong berkata bahwa dialah yang terindah yang keindahannya menyesatkan mata seperti ganja.
          Bagaimana dengan cintaku kepada pria itu? Pertanyaan itu terus berulang di dalam kepalaku. Dan pertanyaan itu selalu muncul dengan jawaban ‘Badai pasti berlalu’, hanya masalahnya disini adalah kapan. Sudah lupa aku kapan pertanyaan itu muncul. Aku sudah mulai muak dan jijik dengan pasangan pertanyaan dan jawaban itu. Sudah ingin kuakhiri hubungan dan semuanya. Cintaku telah gagal.
          Hanya aku memberi pria itu kesempatan terakhir. Kesempatan dimana aku pernah melihat pelangi terindah di hidupku, di pertemuan aku dan pria itu untuk pertama kalinya. Hari ini aku mengajaknya duduk di depan kolam renang memandang dasar kolam yang berlumut. Sama seperti hidupku.
          “Mana pelanginya?” Dia berteriak marah kepadaku.
          “Sabar! pelangi itu pasti datang setelah hujan berlalu.” Kataku coba menenangkannya.
          “Mana?? Aku mau pelangi itu sekarang! Pokoknya SE-KA-RANG!!” Pria itu tak menggubrisku, ia hendak menyulut kembali daun setan itu. Aku menepisnya keras dan daun itu jatuh tenggelam lebur di tengah riak kolam renang.
          PLAK. “Apa yang kamu lakukan?” Kilatan badai di matanya datang lagi. Aku takut.
          “Sabar!! Sebentar lagi, kita tidak menunggu pelangi, tapi menunggu hujan… percayalah pelangi pasti datang bagi mereka yang mengharapkan dengan sungguh hingga rela mengorbankan sesuatu. Seperti katamu dulu.” Tepat sebelum air mata ini jatuh meleleh, hujan deras mengguyurku, menyamarkan air mata ini.
Bersamaan dengan hujan itu, pria itu menjadi tenang. Dia menyandarkan punggungnya dalam kursi kayu itu. Rileks. Senyum tipis tulus itu kembali hadir di wajahnya.
Aku diam tepekur dengan segala pikiranku dibawah derai hujan, semua pikiran dan kemungkinan buruk berlarian di kepalaku. Namun satu yang kuharapkan yaitu semoga pelangi tak mengecewakanku. Untuk terakhir kalinya izinkan ‘Badai ini Berlalu’, karena jika tidak maka akulah yang akan berlalu dari badai ini. Aku sudah sampai di penghujung kuatku.
Perlahan angin timur berhembus membawa awan hitam berlalu dari atas kepala kami. Rintik-rintik hujan jatuh dengan lembut membasahi setiap jengkal kulit kami. Aku ingat sekali kalau semua ini sama seperti waktu dulu. Pelangi terindah bersama Pria itu mencipta nuansa sempurna. Dan dalam sekedipan mata pelangi itu datang lagi, pelangi yang sama dengan keindahan yang sama. Aku melirik pria di sebelahku, menghela nafas panjang dan tersenyum karena ku tahu pasti bahwa kali ini ‘Badai telah Berlalu’.

--Pelangi tetap jadi komponen terindah melukis agung angkasa--

Thursday, 16 January 2014

Pangeran Senja dan Putri Fajar - part 4

  Wahai nona manis disana... Maafkanlah Hamba yang telah istirahat  terlalu lama. Sekarang ijinkanlah hamba melanjutkan dongeng yang telah tertunda. Nona duduklah santai dan nikmati kisahnya. 


                   Putri Fajar mengajak pangeran Senja keluar menuju halaman istana, tempat bunga bermekarana di bawah terang rembulan. Di langit, bintang tak mau kalah dengan rembulan, ia berkelip-kelip jenaka berusaha membuat langit menjadi latar pentas yang menawan.
                   "Wahai Putri, mengapa kita harus berada disini? Tak bisakah berada di dalam?" Tanya Pangeran Senja yang tak mengerti maksud hati Putri Fajar."
                    "Mengapa harus berada di dalam ruangan saat malam begini indah?" Sahut Putri Fajar. "Lagipula kalau di dalam akan ada pengawal dan engkau Pangeran tak bisa menjadi dirimu sendiri, kalau benar engkau sungguh-sungguh Pangeran Senja" Putri Fajar mengerlingkan sebelah matanya kepada Pangeran Senja.
                    "Mengapa Putri begitu tak percayanya kepada aku? Aku benar adalah Pangeran Senja."
                    Putri Fajar tertawa kecil. "Bagaimana aku bisa percaya begitu saja? Semua makhluk yang berada di bawah langit ini pasti telah mendengar kebijaksanaan dari seorang Pangeran Senja. Dan dia ada disini sekarang meminta pertoloangan hanya kepada seorang gadis yang tidak tahu apa-apa selain menari dan menyanyi."
                   Sebentar tadi, tawa Putri Senja sanggup mengalahkan keindahan langit malam. Pangeran Fajar terserang kegugupan. Perasaan asing baginya. "Duhai Putri Fajar, janganlah engkau merendah seperti itu. Kisahmu telah aku baca berulang kali sebelum aku sampai disini, tak perlulah engkau merendah seperti itu." Balas Pangeran Senja setelah ia sadar telah membuat Putri Fajar menunggu terlalu lama untuk mendengar jawaban darinya. "Karena aku percaya, satu-satunya orang di dunia ini yang mampu menolongku adalah Putri Fajar. Dan  kini aku berada di disini memohon untuk  engkau tolong."
                    Ketenangan pembawaan Pangeran Senja membius Putri Fajar. Letih yang lalu ia rasa mendadak sirna tanpa bekas. "Dengan apa aku dapat menolongmu Pangeranaa?"
                    "Aku malu mengatakannya, tapi ya benar aku datang jauh dari Negeri Barat ingin menyaksikan keindahan dari nyanyian dan tarian Putri dengan mata dan telingaku sendiri."
                   "Dengan senang hati aku akan melakukannya, tapi dengan sebuah syarat. Syarat yang mudah bagi seseorang yang benar-benar Pangeran Senja."
                   "Tentu Putri, selama aku mampu dan tidak bertentangan dengan kebijaksanaanku aku akan mengabulkan semua syarat yang Putri inginkan"
                   "Trimakasih Pangeran Senja,  Ayo ikuti aku Pangeran!!" Ajak Putri Fajar. "Kita harus pergi ke suatu tempat dimana aku dapat menunjukkan tarian dan nyanyian yang terbaik dariku."
                   Bulan tepat di tengah langit, Angkasa semakin semarak dipenuhi bintang-bintang, danau tenang seolah terlena dalam tidur, namun seorang laki dan perempuan berjalan beriringan melewati taman istana. Tempat yang dituju adalah sebuah pulau kecil di tengah danau, yang dapat dilintasi dengan menyeberangi jembatan kayu. Tidak ada apa-apa di pulau itu selain pohon besar dengan batang besar dan daun rimbun. Pohon itu dikelilingi bunga lily yang berwarna keperakan ditimpa cahaya bulan, sepadan dengan gaun Putri Fajar yang berwarna putih bersih.
                   "Kita telah tiba Pangeran. Pangeran duduklah dimana pangeran suka"
                   Pangeran duduk di sebuah kursi kayu di dekat jembatan. Putri Fajar berjalan mendekati pohon. Kini ia berdiri di tengah kebun bunga lily. 
                    Pangeran Senja melihat Putri Fajar dari jarak yang cukup untuk melihat secara keseluruhan, taman, pohon dan langit, latar pertunjukkan malam ini. Putri Fajar menarik nafas panjang. Dan ia mulai bersenandung. Dari pohon keluar kelip-kelip cahaya kuning, satu persatu semakin banyak menjadikan pulau ini terang benderang. Kunang-kunang. Suara Putri Fajar memanggil kunang-kunang untuk menyemarakkan malam. Kemudian Putri Fajar mulai menari. Kupu-kupu tak tahu dari mana datang mendekat. Mereka menari bersama Putri Fajar. kunang dan kupu layaknya penari latar yang membantu Putri Fajar membuat pertunjukkan terbaik yang pernah diketahui Pangeran Senja. Melodis suaranya, Harmonis gerakannya, keindahan terbaik di dunia ini.
                    Pangeran Senja tak mampu berkedip, bersuara maupun bergerak. Dunia serasa berhenti, waktunya serasa berhenti. Pikirannya kosong putih, hanya Putri Fajar yang mengisi kepala dan dunianya saat ini. Tak ada yang lain. Hati, jiwa dan raga telah ditaklukkan Putri Fajar. Tak ada yang tersisa. Pangeran Senja menitikkan air mata. Air mata kebahagiaan karena telah diijinkan untuk melihat keindahan terbaik di dunia ini.
                   "Kenapa kamu menangis Pangeran?" Tegur Putri Fajar.
                   Pangeran Senja tak sadar kalau pertunjukkan telah selesai agak lama. Dunianya serasa berhenti diwaktu Putri Fajar masih menari, menari dalam kepala dan hatinya. "Aku menangis bahagia Putri. Aku tak mengira kalau nyanyian dan tarian Putri secantik ini. Lebih cantik dari paras Putri yang tak ada duanya."
                   Mendengar jawaban Pangeran Senja, Putri Fajar hampir tersedak, untung Pangeran Tak menyadarinya. "Terimakasih untuk pujian Pangeran. Dan apakah tarianku sudah menolong Pangeran?"
                   "Kurasa iya, kurasa tidak. Aku hanya tidak mengerti bagaimana Putri bisa menari dan menyanyi seperti itu? Bagaimana Putri bisa memikirkan dan membuat tarian Secantik itu dan nyanyian semerdu itu?"
                   "Oh, jangan salah paham Pangeran, aku tak memikirkan dan membuatnya."
                   Pangeran Senja heran mendengar jawaban Putri Fajar. "Aku tak percaya, bagaimana mungkin Putri bisa menampilkan tarian sebagus itu kalau tidak memikirkannya terlebih dahulu?"
                   "Sangat mudah Pangeran. Cukup dengan merasakan dan mendengar suara hatiku. Tak perlu dipikirkan, aku hanya bergerak mengikuti perasaanku. Kakiku melangkah dengan sendirinya dan tangan tubuh semuanya mengikutinya.
                   "Aku sungguh tak mengerti."
                   Putri Senja tertawa. "Cukup rasakan alam, momen dan perasaan orang di sekitarmu dengan hatimu. Semuanya akan mengikuti dengan sendirinya. Seperti saat Pangeran menangis baru saja. Apa Pangeran memikirkannya terlebih dahulu? tidak bukan. Pangeran hanya merasakan sesuatu dan menangis karenanya. Seperti itulah aku. Aku merasakan sesuatu dan melakukan sesuatu lain karenanya."
                   Pangeran Senja tersenyum. Ia mengerti apa yang dimaksud Putri Fajar namun ia juga menyadari mungkin tak akan bisa melakukannya. Ia yang selalu menggunakan kebijaksanaanya terlebih dahulu sebelum bergerak. "Terimakasih Putri. Sekarang apa permintaan Putri?"
                   Putri Fajar tersenyum lebar. "Untuk saat ini, aku minta Pangeran untuk menemaniku semalam ini, di tempat ini."       

                   
                    Wahai Nona Manis. Hamba harus menghentikan sejenak dongeng ini. Hamba harus berkelana mengunjungi sebuah negeri jauh, sehari saja. Tapi percayalah Nona, sesegera mungkin hamba akan kembali. Karena Hamba ingin melihat senyum Nona secepat mungkin.

Wednesday, 15 January 2014

Menanti Peri Cinta

          Hari apa ini? Senin. Tanggal berapa ini? Awal bulan di akhir tahun. Apa ada sesuatu yang istimewa hari ini? Bagi banyak orang mungkin tidak. Beberapa orang mungkin iya. Tapi bagiku ini adalah hari yang sangat istimewa. Kenapa? Karena kamu.

           Kamu tertegun di tempatmu duduk. Kamu lengah tak bersiap mendengar jawaban itu. Mukamu merona merah bagai…. Emm biasanya sih bagai kepiting rebus, tapi aku tak suka analogi itu. Aku lebih suka bagai tertimpa sengat terik mentari. Kamu yang tak pernah bersembunyi di bawah teduh. Sungguh kusukai pipimu saat merona.

           Aku? Iya. Mengapa karena aku? Apa kamu tak ingat? Ingat apa? Ini adalah hari yang sama kala pertama aku bertemu denganmu beberapa tahun yang lalu. Benarkah? Iya, hari istimewa bagiku. Mengapa? Masihkah kau tak sadar, bahwa kau adalah wanita teristimewa di hidupku.

           Kamu mengambil gelas berisikan anggur di meja, sekali tenggak lenyap sudah. Kamu menggeleng-gelengkan kepala sambil terus bergumam tak jelas. Kamu gugup, aku jelas melihatnya dari gayamu yang memain-mainkan ujung rambutmu. Gugupmu yang memukau.

            Maaf. Untuk apa? Untuk semuanya. Buat apa? Kamu tak mengerti. Aku mengerti. Mengerti apa? Semuanya. Apa? Kamu tak bisa bersamaku. Terus? Kamu tak bisa mencintaiku. Kalau begitu? Aku tak peduli, aku tak pernah peduli bagaimana rasamu padaku, yang penting rasaku padamu, dan itu cukup bagiku.         

          Kamu menggebrak meja. Anggur tumpah membasahi meja. Tanganmu terkepal. Ekspresimu masih tetap sama. Marahmu. Tak pernah membuatku takut sedikitpun, malah membuatku semakin jatuh padamu. Marahmu yang mengesankan.

           Apa kamu tidak mengerti? Aku mengerti. Tidak, kamu tidak mengerti, semuanya telah berubah. Tak ada yang berubah, aku tetap sama. Tapi aku yang berubah. Bagiku kamu tak berubah, masih tetap sama seperti dulu. Kamu pikir dulu itu berapa tahun yang lalu?

   Tak ada yang istimewa dari pertemuanku dengan kamu. Kita kebetulan dipertemukan dalam kelompok KKN. Dari ratusan peserta KKN yang mendaftar, siapa yang bisa menduga kalau aku akan satu kelompok dengan kamu. Dari dua puluh orang anggota kelompok, siapa yang tahu kamu akan terpilih sebagai ketua rombongan dan aku sekretarisnya. Dari orang yang tak saling kenal, siapa juga yang menyangka kalau kemana-mana aku dan kamu akan selalu bersama. Dari orang yang sama-sama cuek dan tak pedulian, siapa yang bisa menebak aku dan kamu memiliki kegemaran yang sama, mengajar anak kecil, terlepas dari jurusan yang tidak pantas untuk mengajar anak kecil, kamu di farmasi, sedangkan aku di tehnik sipil. Dari awalnya yang bukan siapa-siapa, siapa yang bisa mengira aku dan kamu sama-sama cocok yang berujung saling jatuh hati. Dari semua kejadian itu, siapa yang bisa memperkirakan itu semua kalau bukan sang peri cinta yang telah menjodohkan kita sejak mula-mula.                   
           Satu bulan bukan waktu yang singkat untuk memupuk kedekatan, menumbuhkan keakraban, berujung membuahkan kecintaan. Satu bulan lebih dari cukup untuk mengenal dan membangun fondasi hubungan yang lebih mendalam. Seminggu saja bisa untuk membangun fondasi kasih sayang, apalagi satu bulan, kecuali jika mau membuat bangunan persahabatan, enam bulan mungkin belum cukup.
Tapi sayang sekali, satu bulan itu ternyata kurang cukup untuk mengetahui kejujuran. Kedekatan ternyata bisa dibangun dari sedikit kebohongan. Kebohongan kecil yang sangat perih, kenyataan bahwa kamu telah bertunangan. Calon dokter dan calon apoteker, what a perfect couple. Tapi fondasi cinta telah dibangun dan ada. Meski bersemenkan kebohongan, fondasi tetaplah fondasi. Ia tak akan runtuh sekali terbentuk, tak akan hilang sekali tercipta, dan tak akan  lenyap sekalinya berdiri. Bahkan dalam kasusku, fondasi itu bisa tumbuh dengan sendirinya. Not logic? Yeah. Aku yang calon insinyur pun tak mampu memahami mengapa itu bisa terjadi. Fondasi yang bisa tumbuh sendiri. Kalau bukan cinta, tak ada lagi alasan masuk akal untuk bisa memahaminya.
Aku ingat sekali malam itu, malam perpisahan rombongan KKN kita. Malam itu tak seperti malam ini. Malam itu bulan menggelayut manja terasa dekat sekali dengan kita. Bintang berkedip-kedip genit seolah pria menggoda gadis sexy yang lewat di depannya. Angin malam ceria berhembus. Aku duduk di sebelahmu, kamu asyik menatap langit malam tak memperhatikanku. Binar matamu begitu jenaka membuatku mampu bersiul riang untuk menghangatkan dinginnya malam. Dalam hati, aku terus berdoa supaya degup jantungku terdengar olehmu. Biarlah detak jantung ini bicara dari hati ke hati dalam bahasa kejujuran tanpa kias dan bias kata.
Jemarimu merambat kepadaku, bertemu, bertautan demi sebuah kehangatan. Aku bilang padamu kalau seindahnya taburan bintang malam tak sebanding dengan indahnya bersamamu. Kau jawab, Senyamannya mentari pagi, tak sepadan dengan nyamannya dekatmu. Aku mendekapmu, kamu menyambut, aku mendekat, kau merapat, wajah kita sedekat embusan nafas. Apa yang terjadi selanjutnya adalah momen terbaik seumur hidupku, tak pernah dan tak jumpa lagi. Bibir bertemu, nafas menggebu, keringat menyatu, tubuh berpacu dalam cinta.
Aku terbangun karena suara isak tangis. Kau menangis. Aku teriris. Aku bisu, ingin tuli dan jadi gila saja saat kau katakan kalau kau telah bertunangan. Pernikahan hanya dirintangi ijazah saja. Kau bilang cinta padaku, tapi kau memilih orang lain untuk dinikahi. Kau bilang tidak punya pilihan, aku bilang kamu punya pilihan lain yaitu aku. Kamu menggelengkan kepala diikuti sebuah bisikan, semuanya demi orang tuaku. Alasan yang tak masuk akal, uang, orang tuamu dan kamu butuh uang. Cinta dihalangi uang, tidak masuk akal, katanya cinta mampu menaklukkan segalanya. Katanya.
Demi kenangan indah selama sebulan ini, kamu berjanji akan menemuiku setahun sekali. Janji besar bagimu. Demi kenangan sesaat ini, aku melakukan janji yang berbahaya dan lain darimu. Demi kenangan sementara ini, aku berjanji hanya akan mencintai kamu seorang yang telah mengajarkan surganya dan nerakanya cinta sekaligus. Demi kenangan singkat ini, aku akan mencintaimu selama aku mampu. Janji kecil menurutku.

Kamu pasti lupa? Tidak. Terus kenapa kamu diam lama? Karena memoir tentangmu baru saja mengisi kepalaku. Sungguh? Iya. Bagian mana? semuanya, aku ingat semuanya, tiap detail kecil, tiap runutannya, seolah baru sejam yang lalu aku mengalaminya. Kamu suruh aku percaya omongamu? Terserah, aku tak memintamu mempercayai omonganku, tapi semuanya itu benar.

Kepalan tanganmu mulai merenggang. Kepalamu tertunduk. Sekarang kamu merasa bersalah, pasti. Kedua jemarimu berpautan, saling meremas. Salahmu yang tak berarti bagiku.

Sudah sepuluh tahun. Baru sepuluh tahun. Jangan menungguku lagi!! Jangan memerintahku! Apa yang kamu harapkan dengan semua ini? Aku, kamu, bersama. Tolong hentikan, jangan buat aku merasa lebih bersalah padamu!! Sudah selayaknya kamu merasa bersalah, kamu membuatku mencintaimu seperti ini, kamu membuatku tak bisa mencintai orang lain, kamu membuatku mencintaimu lebih dari diriku sendiri.

Kamu diam. Tak berani melirik padaku. Aku tahu sekarang kamu menahan tangis. Kamu yang selalu berusaha tidak menangis di tempat ramai. Kamu yang dengan sok tegarmu begitu menggemaskan. Tangismu yang tak pernah kuharapkan.

Kamu tahu kita tak bisa bersama? Iya kah? Iya, sudah takdir kita. Aku tak percaya dengan takdir, aku memilih nasibku sendiri. Terserah, aku nyerah meyakinkanmu. Sebaiknya begitu. Aku pergi!! Silahkan, aku tak akan menghalangimu. Sampai jumpa!! Ya, sampai jumpa, tapi camkan ini baik-baik, aku akan tetap menunggu dengan mencintaimu, aku telah berhasil mencintaimu tanpamu selama sepuluh tahun, dan aku percaya aku bisa mencintaimu untuk sepuluh tahun lagi atau bahkan sampai seratus tahun lagi. Aku tidak percaya. Ayo kita buktikan sama-sama.

Engkau bangkit dari dudukmu. Aku menatap punggungmu yang lalu dariku. Aku tetap duduk di tempatku berada. Aku akan menunggu disini. Berharap kamu berubah kembali. Sampai kapan? Sampai petugas menyuruhku pergi karena sudah tutup.  Begitu juga cintaku. Aku akan menunggu sampai ada petugas yang menyuruhku pergi karena sudah habis waktunya. Biarlah peri cinta yang mengawali menjadi yang mengakhiri juga. Bukan aku atau kamu yang hanya manusia biasa jua adanya.

--Dan Ia masih setia menanti--

Dalam Diammu

Engkau melipat tangan di dada. Dadamu terasa begitu sesak kala bersama dia. Dia yang sangat engkau cinta, setiap hadirnya sukses membuat hidupmu bergairah. Engkau selalu mengawasinya dengan tatap mengingini. Engkau yang selalu siap ada, sanggup melakukan apapun dan rela mengorbankan segalanya bagi dia. Namun engkau memilih mengatup mulut rapat bersembunyi dalam bayang ketidaktahuan dan ketidakpastian. Engkau yang takut mengekspresikan cinta karena akan mengubah sikap dia kepadamu.

Engkau yang tulus dan pengecut.

Engkau begitu takut kehilangan perhatian dari dia. Engkau hanya berani berada di belakang dan mendukung dia. Mendukung dia memperoleh segala sesuatu yang dia mau. Dia berkata kepada engkau bahwa dia mencinta ia yang adalah temanmu. Engkau membisu membeku tak menduga. Engkau tak sanggup menolak dia. Engkau membantu dia untuk jadian dengan ia. Engkau masih mengingat cemerlang senyumnya saat berhasil jadian. Lalu engkau hanya tersenyum dalam ratapan doa memohon kebahagiaan bagi dia.

Dia yang lugu dan kau cinta.

Ia yang berkharisma telah menaklukkan hati Dia. Setiap senyum yang engkau keluarkan dihadapannya adalah kebohongan. Engkau tak bisa berbuat apa-apa. Engkau yang tahu segalanya tentang ia tapi tak bisa mengatakan senilapun kepada dia. Engkau menimbun semuanya seorang diri. Ia adalah buaya jantan yang menipu dia. Tapi engkau tak melakukan apapun selain berjanji pada diri sendiri akan selalu ada untuk dia. Selalu ada di saat apapun.

Ia yang mencintai dalam kepalsuan.

Semuanya terlambat. Engkau menerima undangan pernikahannya. Engkau membisu dan membantu setiap jengkal proses. Engkau yang dikenali sebagai mempelai pria dan dengan segala nalar mengharap itu kenyataan.  Engkau tak pernah melihat dia sebahagia itu. Dia di atas pelaminan bersama ia. Engkau bahagia demi dia, sampai engkau tahu alasan kenapa menikah. Hanya karena sebuah kecelakaan proses ritual itu terjadi. Engkau tak tahu, dia tak mau membebanimu dengan pengetahuan yang akan menyakitimu.

Dia menemuimu dengan uraian air mata. Dia menjerit minta pertolonganmu. Dia mengetahui semuanya. Dia membandingkan engkau dengan ia. Dia yang tertipu. Engkau meyakinkan kalau semua akan baik-baik saja. Dia menangis, engkau kapar karenanya. Dia ingin meminta waktu diulang. Dia tak ingin mengenalmu seperti ini, sebagai sahabat. Dia ingin sedari awal memulainya dengan tujuan sebagai pasangan hidup. Engkau terdiam. Engkau menyalahkan diri sendiri. Engkau yang dengan kepengecutanmu malah melakukan tindakan terkejam untuk dia yang kau cintai. Engkaulah yang merenggut bahagianya. Diammu yang menjadikan dia seperti ini.

Engkau yang kecewa dan menyesal.

--Kecewa adalah bagian dari life-experience--

Pangeran Senja dan Putri Fajar - part 3

                  Wahai nona manis disana... Hamba telah selesai istirahat.. Ijinkanlah untuk melanjutkan dongeng yang sempat tertunda. Nona duduklah santai dan nikmati kisahnya. 


                  Putri Fajar berbaring di kamar. Sendirian. Kamar ini indah, warna putih dimana-mana, mulai dari sprei, gorden, lantai, dinding, atap sampai semuanya putih bersih. Sebuah vas dengan bunga lavender di atas meja. Harum wanginya menguar memenuhi ruangan. Wangi aroma relaksasi.
                  Ia berbaring letih dalam nyaman tempat tidur. Banyak orang tak henti-hentinya datang menemui. Putri Fajar tak kuasa menolak setiap pemohonan yang datang padanya. Setiap ia ingin menolaknya, ia selalu dikalahkan oleh tatap raut memohon dari setiap orang yang berkunjung memenuhi dirinya. Ia letih seperti ini terus. Harus melakukan apa keinginan orang lain karena desakan nurani.
                  Putri Fajar menatap langit-langit kosong. Ia teringat percakapan dengan seseorang yang beberapa hari lalu datang menemuinya. Seseorang yang bercerita tentang pemuda yang memiliki kebijaksanaan tiada tara.
                  “Wahai, Putri Senja. Pengelana ini telah mengelilingi setiap ujung dunia, sungguh dengan segala ketakberbatasannya, hamba tak menemui satupun manusia yang layak dibandingkan dengan keindahan tarian Putri, atau kesyahduan nyanyian Putri, apalagi dengan keelokan paras Putri.”
                  “Ah, pengelana, Aku hanyalah manusia biasa. Janganlah memujiku terlalu berlebihan seperti itu. Kau mungkin bisa menyebabkanku untuk tidak menapakkan kakiku di tanah dengan wajar.”
                  “Putri Fajar, Tak kusangka Putri mampu bergurau juga.” Suara tawa terdengar dari mereka yang mengerubuti. “Namun demikian, mungkin hamba sekiranya tahu seorang pemuda yang dapat menanding kemasyuhran Putri.”
                  Putri terkejut. “Siapakah dia gerangan. Bilamanakan pengelana berkenan memberitahu Putri yang bodoh ini siapa gerangan pemuda yang kau maksudkan?”
                  “Ia berbeda dari Putri, bukan seorang yang pintar menari atau menyanyi, Ia hanyalah pemuda dengan kedalaman ilmu dan kebijaksanaan tiada tara.”
                  Putri Fajar terdiam. Wajah berubah tertarik dan ingin semakin tahu.
                  “Hamba bertemu dia saat hamba memiliki masalah. Ia adalah pemuda yang dapat membantu orang menyelesaikan masalah yang dimilikinya.”
                  “Sungguh? Aku semakin penasaran.”
                  “Benar, ia tinggal Negeri Barat, di bawah langit tempat matahari terbenam. Ia memiliki nama yang sama dengan kelembutan langit yang memberi ketenangan. Dia adalah......”
                  Pangeran Senja. Batin Putri Fajar. Pikirannya melayang membayangkan kemungkinan bahwa pemuda itu bisa mengetahui masalah yang akhir-akhir ini sering membuatnya merasa tidak nyaman. Masalah yang ingin ia bereskan. Masalah yang tidak ia ketehui apa itu. Dalam segala hendak, Putri Fajar ingin berharap bertemu dengan pemuda itu.
                  Seminggu berlalu dengan cepat bagi Putri Fajar. Tak ada jeda, tak ada perubahan, rutinitas monoton seperti biasanya. Malam bahkan terasa datang lebih cepat. Hari tak ia nikmati. Putri Fajar hendak mandi dan berendam air hangat kala seorang pengawal istana menemui.
                  “Ada apa pengawal?”
                  “Ada seorang pemuda ingin bertemu dengan Putri. Kami telah berkata kalau Putri capek dan butuh istirahat, tapi ia tak mau mendengarkannya sama sekali.”
                  “Usir saja dia dan bilang aku akan menemuinya besok.” Ucap Putri Fajar dengan kesal. Seharian tak istirahat dan ada seorang pemuda tak tahu diri menemuinya malam-malam jelas membuat hati Putri Fajar menjadi buruk.
                  “Ia tak mau mendengarnya. Ia mendesak untuk menemui Putri. Ia berkata kalau ia tak punya waktu banyak. Bahkan Ia menjelaskan kalau ia telah melalui perjalanan yang sangat jauh untuk bisa sampai darisini.”
                  “Jauh darimana? Semua orang yang datang kesini pasti melalui perjalanan yang sangat jauh.”
                  “Ia berkata kalau datang dari Negeri Barat”
                  Meski dengan ogah-ogahan Putri Fajar akhirnya bersedia menemui orang itu. Negeri Barat. Satu kata yang mampu meluluhkan pendirian Putri Fajar. Putri Fajar berharap orang itu dapat memberitahunya lebih banyak tentang Pangeran Senja.
                  Pemuda itu memaki jubah abu-abu menutupi seluruh tubuhnya, wajahnya pun tertutup tudung abu-abu. Misterius. Dari jubahnya dapat diketahui seberapa berat perjalanannya, penuh sobekan dan bercak noda.
                  “Wahai engkau pemuda misterius, ada apa gerangan sampai engkau begitu berani memaksaku yang telah ingin istirahat?”
                  Beberapa saat pria misterius itu terdiam hanya menatap Putri Fajar. “Duhai Putri Fajar, hamba datang dari Negeri Barat ingin memohon belas kasihan Putri untuk mau membantu hamba?”
                  “Cepat katakan, aku ingin istirahat. Dan betapa tidak sopannya engkau sampai tidak memperkenalkan diri terlebih dahulu, bahkan menunjukkan wajahmu pun tidak. Apakah engkau tidak diajarkan kesopan-santunan oleh keluargamu?”
                  “Maafkan aku Putri, Hamba memiliki alasan yang sangat kuat untuk tidak menunjukkan wajah di tempat umum. Kalau Putri bersedia memerintahkan pengawal Putri pergi, maka hamba akan dengan senang hati mengenalkan diri pada Putri.” Ucap Pemuda itu dengan penuh ketenangan. Di setiap katanya menngandung kekuatan untuk membuat orang menurutinya.
                  “Baiklah” Putri Fajar menatap kepada pengawal yang berdiri di belakangnya. “Penjaga tolong pergi sejenak”
                  Ketika semua penjaga telah pergi, Putri Fajar melanjutkan bicara. “Sekarang hanya ada kita berdua saja, Buka tudungmu dan perkenalkan dirimu supaya aku tidak salah sangka padamu”
                  “Baik Putri. Lambat-lambat pemuda itu melepas tudung kepalanya. 
                  Kini wajahnya menampakkan diri dengan jelas. Aura pesona segera melingkupi Putri Fajar. Mata coklat sangat teduh, rambut hitam legam sebahu, alis mata tebal. Seuntai senyum tipis memberi kedamaian. Dan lekuk wajahnya yang halus memberikan ketenangan. Putri semakin penasaran dengan siapa gerangan pemuda yang berada di hadapannya.
                  “Ijinkanlah hamba memperkenalkan diri, Hamba adalah Pangeran Senja dari Negeri Barat.
                  Sedetik nafas Putri Fajar berhenti sejenak. Pemuda yang diharapkannya ada berdiri di depannya kali. Pemuda yang paling ingin ditemui di dunia ini semenjak kali pertama ia mengetahui beritanya.
                  “Engkau tidak sedang membohongiku wahai pemuda?”
                  “Tidak Putri. Hamba dapat menjelaskan perjalanan Hamba dengan detail kalau Putri menginginkannya. Hamba sedang sangat membutuhkan pertolongan Putri.”
                  Pemuda yang diharapkannya untuk menolong dirinya kini berdiri di hadapannya. Hanya saja, malah pemuda ini yang mengharapkan pertolongan dari dirinya. Putri Fajar tak mempercayai semua ini. 


                  Wahai Nona yang manis. Kembali Hamba harus menunda kisah dongeng ini. Tolong Sabarlah Nona menanti. Percayalah sebelum Nona sadar, Hamba akan melanjutkan dongeng ini lagi. Karena Hamba ingin melihat senyum pada diri  Nona.