Hari apa ini? Senin. Tanggal berapa ini? Awal bulan di akhir tahun. Apa ada sesuatu yang istimewa hari ini? Bagi banyak orang mungkin tidak. Beberapa orang mungkin iya. Tapi bagiku ini adalah hari yang sangat istimewa. Kenapa? Karena kamu.
Kamu menggebrak meja. Anggur tumpah membasahi meja. Tanganmu terkepal. Ekspresimu masih tetap sama. Marahmu. Tak pernah membuatku takut sedikitpun, malah membuatku semakin jatuh padamu. Marahmu yang mengesankan.
Kamu tertegun di tempatmu duduk. Kamu lengah tak bersiap mendengar jawaban itu. Mukamu merona merah bagai…. Emm biasanya sih bagai kepiting rebus, tapi aku tak suka analogi itu. Aku lebih suka bagai tertimpa sengat terik mentari. Kamu yang tak pernah bersembunyi di bawah teduh. Sungguh kusukai pipimu saat merona.
Aku? Iya. Mengapa karena aku? Apa kamu tak ingat? Ingat apa? Ini adalah hari yang sama kala pertama aku bertemu denganmu beberapa tahun yang lalu. Benarkah? Iya, hari istimewa bagiku. Mengapa? Masihkah kau tak sadar, bahwa kau adalah wanita teristimewa di hidupku.
Kamu mengambil gelas berisikan anggur di meja, sekali tenggak lenyap sudah. Kamu menggeleng-gelengkan kepala sambil terus bergumam tak jelas. Kamu gugup, aku jelas melihatnya dari gayamu yang memain-mainkan ujung rambutmu. Gugupmu yang memukau.
Maaf. Untuk apa? Untuk semuanya. Buat apa? Kamu tak mengerti. Aku mengerti. Mengerti apa? Semuanya. Apa? Kamu tak bisa bersamaku. Terus? Kamu tak bisa mencintaiku. Kalau begitu? Aku tak peduli, aku tak pernah peduli bagaimana rasamu padaku, yang penting rasaku padamu, dan itu cukup bagiku.
Kamu menggebrak meja. Anggur tumpah membasahi meja. Tanganmu terkepal. Ekspresimu masih tetap sama. Marahmu. Tak pernah membuatku takut sedikitpun, malah membuatku semakin jatuh padamu. Marahmu yang mengesankan.
Apa kamu tidak mengerti? Aku mengerti. Tidak, kamu tidak mengerti, semuanya telah berubah. Tak ada yang berubah, aku tetap sama. Tapi aku yang berubah. Bagiku kamu tak berubah, masih tetap sama seperti dulu. Kamu pikir dulu itu berapa tahun yang lalu?
Tak ada yang istimewa dari pertemuanku dengan kamu. Kita kebetulan dipertemukan dalam kelompok KKN. Dari ratusan peserta KKN yang mendaftar, siapa yang bisa menduga kalau aku akan satu kelompok dengan kamu. Dari dua puluh orang anggota kelompok, siapa yang tahu kamu akan terpilih sebagai ketua rombongan dan aku sekretarisnya. Dari orang yang tak saling kenal, siapa juga yang menyangka kalau kemana-mana aku dan kamu akan selalu bersama. Dari orang yang sama-sama cuek dan tak pedulian, siapa yang bisa menebak aku dan kamu memiliki kegemaran yang sama, mengajar anak kecil, terlepas dari jurusan yang tidak pantas untuk mengajar anak kecil, kamu di farmasi, sedangkan aku di tehnik sipil. Dari awalnya yang bukan siapa-siapa, siapa yang bisa mengira aku dan kamu sama-sama cocok yang berujung saling jatuh hati. Dari semua kejadian itu, siapa yang bisa memperkirakan itu semua kalau bukan sang peri cinta yang telah menjodohkan kita sejak mula-mula.
Satu bulan bukan waktu yang singkat untuk memupuk kedekatan, menumbuhkan keakraban, berujung membuahkan kecintaan. Satu bulan lebih dari cukup untuk mengenal dan membangun fondasi hubungan yang lebih mendalam. Seminggu saja bisa untuk membangun fondasi kasih sayang, apalagi satu bulan, kecuali jika mau membuat bangunan persahabatan, enam bulan mungkin belum cukup.
Satu bulan bukan waktu yang singkat untuk memupuk kedekatan, menumbuhkan keakraban, berujung membuahkan kecintaan. Satu bulan lebih dari cukup untuk mengenal dan membangun fondasi hubungan yang lebih mendalam. Seminggu saja bisa untuk membangun fondasi kasih sayang, apalagi satu bulan, kecuali jika mau membuat bangunan persahabatan, enam bulan mungkin belum cukup.
Tapi sayang sekali, satu bulan itu ternyata kurang cukup untuk mengetahui kejujuran. Kedekatan ternyata bisa dibangun dari sedikit kebohongan. Kebohongan kecil yang sangat perih, kenyataan bahwa kamu telah bertunangan. Calon dokter dan calon apoteker, what a perfect couple. Tapi fondasi cinta telah dibangun dan ada. Meski bersemenkan kebohongan, fondasi tetaplah fondasi. Ia tak akan runtuh sekali terbentuk, tak akan hilang sekali tercipta, dan tak akan lenyap sekalinya berdiri. Bahkan dalam kasusku, fondasi itu bisa tumbuh dengan sendirinya. Not logic? Yeah. Aku yang calon insinyur pun tak mampu memahami mengapa itu bisa terjadi. Fondasi yang bisa tumbuh sendiri. Kalau bukan cinta, tak ada lagi alasan masuk akal untuk bisa memahaminya.
Aku ingat sekali malam itu, malam perpisahan rombongan KKN kita. Malam itu tak seperti malam ini. Malam itu bulan menggelayut manja terasa dekat sekali dengan kita. Bintang berkedip-kedip genit seolah pria menggoda gadis sexy yang lewat di depannya. Angin malam ceria berhembus. Aku duduk di sebelahmu, kamu asyik menatap langit malam tak memperhatikanku. Binar matamu begitu jenaka membuatku mampu bersiul riang untuk menghangatkan dinginnya malam. Dalam hati, aku terus berdoa supaya degup jantungku terdengar olehmu. Biarlah detak jantung ini bicara dari hati ke hati dalam bahasa kejujuran tanpa kias dan bias kata.
Jemarimu merambat kepadaku, bertemu, bertautan demi sebuah kehangatan. Aku bilang padamu kalau seindahnya taburan bintang malam tak sebanding dengan indahnya bersamamu. Kau jawab, Senyamannya mentari pagi, tak sepadan dengan nyamannya dekatmu. Aku mendekapmu, kamu menyambut, aku mendekat, kau merapat, wajah kita sedekat embusan nafas. Apa yang terjadi selanjutnya adalah momen terbaik seumur hidupku, tak pernah dan tak jumpa lagi. Bibir bertemu, nafas menggebu, keringat menyatu, tubuh berpacu dalam cinta.
Aku terbangun karena suara isak tangis. Kau menangis. Aku teriris. Aku bisu, ingin tuli dan jadi gila saja saat kau katakan kalau kau telah bertunangan. Pernikahan hanya dirintangi ijazah saja. Kau bilang cinta padaku, tapi kau memilih orang lain untuk dinikahi. Kau bilang tidak punya pilihan, aku bilang kamu punya pilihan lain yaitu aku. Kamu menggelengkan kepala diikuti sebuah bisikan, semuanya demi orang tuaku. Alasan yang tak masuk akal, uang, orang tuamu dan kamu butuh uang. Cinta dihalangi uang, tidak masuk akal, katanya cinta mampu menaklukkan segalanya. Katanya.
Demi kenangan indah selama sebulan ini, kamu berjanji akan menemuiku setahun sekali. Janji besar bagimu. Demi kenangan sesaat ini, aku melakukan janji yang berbahaya dan lain darimu. Demi kenangan sementara ini, aku berjanji hanya akan mencintai kamu seorang yang telah mengajarkan surganya dan nerakanya cinta sekaligus. Demi kenangan singkat ini, aku akan mencintaimu selama aku mampu. Janji kecil menurutku.
Kamu pasti lupa? Tidak. Terus kenapa kamu diam lama? Karena memoir tentangmu baru saja mengisi kepalaku. Sungguh? Iya. Bagian mana? semuanya, aku ingat semuanya, tiap detail kecil, tiap runutannya, seolah baru sejam yang lalu aku mengalaminya. Kamu suruh aku percaya omongamu? Terserah, aku tak memintamu mempercayai omonganku, tapi semuanya itu benar.
Kepalan tanganmu mulai merenggang. Kepalamu tertunduk. Sekarang kamu merasa bersalah, pasti. Kedua jemarimu berpautan, saling meremas. Salahmu yang tak berarti bagiku.
Sudah sepuluh tahun. Baru sepuluh tahun. Jangan menungguku lagi!! Jangan memerintahku! Apa yang kamu harapkan dengan semua ini? Aku, kamu, bersama. Tolong hentikan, jangan buat aku merasa lebih bersalah padamu!! Sudah selayaknya kamu merasa bersalah, kamu membuatku mencintaimu seperti ini, kamu membuatku tak bisa mencintai orang lain, kamu membuatku mencintaimu lebih dari diriku sendiri.
Kamu diam. Tak berani melirik padaku. Aku tahu sekarang kamu menahan tangis. Kamu yang selalu berusaha tidak menangis di tempat ramai. Kamu yang dengan sok tegarmu begitu menggemaskan. Tangismu yang tak pernah kuharapkan.
Kamu tahu kita tak bisa bersama? Iya kah? Iya, sudah takdir kita. Aku tak percaya dengan takdir, aku memilih nasibku sendiri. Terserah, aku nyerah meyakinkanmu. Sebaiknya begitu. Aku pergi!! Silahkan, aku tak akan menghalangimu. Sampai jumpa!! Ya, sampai jumpa, tapi camkan ini baik-baik, aku akan tetap menunggu dengan mencintaimu, aku telah berhasil mencintaimu tanpamu selama sepuluh tahun, dan aku percaya aku bisa mencintaimu untuk sepuluh tahun lagi atau bahkan sampai seratus tahun lagi. Aku tidak percaya. Ayo kita buktikan sama-sama.
Engkau bangkit dari dudukmu. Aku menatap punggungmu yang lalu dariku. Aku tetap duduk di tempatku berada. Aku akan menunggu disini. Berharap kamu berubah kembali. Sampai kapan? Sampai petugas menyuruhku pergi karena sudah tutup. Begitu juga cintaku. Aku akan menunggu sampai ada petugas yang menyuruhku pergi karena sudah habis waktunya. Biarlah peri cinta yang mengawali menjadi yang mengakhiri juga. Bukan aku atau kamu yang hanya manusia biasa jua adanya.
--Dan Ia masih setia menanti--
No comments:
Post a Comment