Wahai nona yang manis disana... Hamba hanyalah seorang petualang biasa. Ijinkanlah untuk mendongeng sebuah kisah yang tersembunyi di bawah langit. Engkau duduklah tenang dan nikmati kisahnya.
Alkisah semuanya bermula saat banyak manusia masih hidup menjelajah. Bernomaden dari satu daerah ke daerah lain. Menjelajahi satu wilayah menuju wilayah lain. Mereka berkelana di atas bumi yang luas dan tak berbatas. Meski demikian, ada beberapa masyarakat yang telah tinggal tetap dalam sebuah daerah, sebuah negeri. Negeri yang berada tengah lembah. Negeri Barat namanya.
Negeri Barat terkenal akan kebijaksanaannya. Semua yang mencari hikmat pengetahuan pergi ke sana. Negeri yang kaya akan filsafat dan ilmu yang tak bisa ditukar dengan harta kekayaan. Banyak orang bijak tinggal di negeri itu, tak terhitung jumlahnya. Mereka mengisi hari-harinya dengan mendiskusikan dunia dan mencari kebenaran.
Di dalam negeri tersebut berdiri sebuah kastil megah dikelilingi hutan. Hanya ada sebuah jalan setapak untuk menujunya yang dihaga ketat pada pintu masuknya. Disanalah semua ilmu pengetahuan dikumpulkan, pusat dari semua buku-buku dan sumber pengetahuan. Sebuah surga bagi mereka yang rindu akan kebijaksanaan.
Kastil tersebut dihuni oleh seorang pemuda, yang meski usianya masih muda telah dianugerahi segala kebijaksanaan yang ada di dunia. Hikmat marifat tiada tara. Dialah sang Pangeran Senja. Rambut hitamnya selalu ditutupi tudung abu-abu, lambang bahwa tidak ada kebenaran mutlak di dunia ini. Ia selalu mengenakan jubah menjuntai dari kepala sampai mata kaki. Sorot matanya teduh, memancarkan ketenangan. Garis wajahnya lembut selayaknya danau yang tenang. Tak ada seorangpun meragukan pesonanya. Banyak orang kerap kali mencarinya untuk memohon sebuah kebijaksanaan. Ia seringkali tampil di depan umum sebagai hakim untuk menyelesaikan pertikaian.
“Wahai Tuanku Pangeran Senja. Ibu dengan rambut panjang ini telah mencuri bayiku. Tolong nyatakan kebenaran bagiku” Seorang ibu yang bertikai menghadap Pangeran Senja, problematika yang sehari-hari harus ia hadapi.”
“Wahai Tuanku Pangeran Senja. Ibu itu berbohong. Ia lah yang telah mencuri bayiku, bayinya telah meninggal dan ia ingin merebut demi dirinya.” Ibu yang lain berbalas tak mau kalah.
Pangeran Senja berkata, suaranya lembut menenangkan setiap orang yang hadir. Setiap katanya sangat dipercayai rakyat di negeri itu. “Ah, Aku pernah membaca sebuah kisah yang mirip dengan ini. Kisah dari seorang hakim di masa lalu. Hakim pada masa itu memutuskan untuk membelah sang bayi menjadi dua demi keadilan. Tapi ibu yang asli memutuskan untuk memberikan anaknya kepada ibu yang palsu. Itulah sebuah kasih ibu, ia sanggup mengorbankan bahagianya demi hidup anaknya.” Semua hadirin manggut-manggut mengiyakan perkataan Pangeran Senja.
“Wahai Tuanku, kalau begitu berikanlah bayi ini kepada dia, Aku tak rela kalau Tuanku harus membunuhnya.”
“Iya Tuanku, berikan saja bayi pada dia. Aku juga rela."
“Aku tahu ini akan terjadi, semua orang di negeri ini pasti telah mengetahui kisa hakim agung yang bijaksana itu, maka aku memutuskan hal yang berbeda. Aku akan membunuh kalian berdua dan merawat bayi ini dalam kastilku, untuk nantinya kujadikan penerus bagiku.” Semua pasang mata terkejut mendengar itu.
“Apa Tuan serius?”
“Aku serius, bukankah ini terbaik untuk bayi ini? kematian kalian akan membuat si bayi akan memiliki masa depan yang lebih baik”
“Tapi Tuan” Kata ibu berambut panjang.
“Kalau itu keputusan Tuanku, Hamba setuju, jika kematianku yang bukan siapa-siapa ini dapat membuat anakku memiliki hidup yang lebih baik. Maka dengan senang hati hamba akan menyambut kematian.” Semua hadirin tercengang mendengar jawaban dari ibu itu, mereka seolah telah memperoleh jawaban dari pertikaian ini.
“Wahai hadirin semua, kurasa kita telah menemukan ibu sebenarnya dari bayi ini. Ibu yang rela menyambut kematian demi anaknya. Ialah ibu sebenarnya.” Sambil menatap seorang ibu yang baru saja bicara.
“Dan engkau penipu, mulai saat ini kehadiranmu tak diterima lagi di negeri ini. Engkau akan diusir dan kupastikan tak ada satupun orang di dunia ini yang akan membantu hari-harimu yang berat. Langit dan bumi tak akan mau menerima seorang penipu. Tempatmu yang layak hanyalah rawa-rawa yang dipenuhi kotoran.”
“Dan engkau penipu, mulai saat ini kehadiranmu tak diterima lagi di negeri ini. Engkau akan diusir dan kupastikan tak ada satupun orang di dunia ini yang akan membantu hari-harimu yang berat. Langit dan bumi tak akan mau menerima seorang penipu. Tempatmu yang layak hanyalah rawa-rawa yang dipenuhi kotoran.”
Semua hadirin bersorak gembira. Kebijaksanaan Pangeran Senja tiada taranya. Semua orang dalam negeri membutuhkannya. Semua masalah telah selesai, dan Pangeran Senja undur dari hadapan semua orang.
Hampir setiap hari berbagai macam orang hadir datang kepadanya untuk meminta kebijaksanaannya. Tak pernah lelah masalah menghampiri setiap orang, tak pernah juga Pangeran Senja menolak setiap orang yang ingin menemuinya. Di hidupnya, Pangeran Senja tidak pernah merasa kekurangan sama sekali, hampir semua kebijaksanaan ia miliki, apa lagi yang ia harapkan. Hanya saja, setelah kesemuanya itu, hari-harinya terasa ada yang kurang. Ada sesuatu yang seharusnya ada tapi tak ia miliki, dan sesuatu itu penting namun ia tak mengetahui. Sesuatu yang membuat hatinya kosong dan hidupnya tak bergairah. Karenanya, Pangeran Senja masih terus mencari, mencari dan mencari apa itu. Namun, Ia tak kunjung mengetahuinya. Sampai suatu saat saudagar kaya dari negeri seberang datang menemuinya.
Pangeran Senja duduk di beranda kastil. Ia menikmati sorenya dengan kesendirian. Ia duduk ditemani sebuah buku hasil pemberian saudagar kaya. Buku itu telah habis dibaca dalam sehari. Meski demikian buku itu masih terus dibacanya setiap sore sambil menghadap arah timur, dimana matahari terbit. Buku yang berkisah tentang Putri Fajar. Putri Fajar dari Negeri Timur.
Wahai Nona yang manis. Ijinkanlah Hamba untuk beristirahat sejenak. Tolong Sabarlah Nona menanti. Percayalah sebelum Nona sadar, Hamba akan melanjutkan dongeng ini lagi. Karena Hamba ingin melihat senyum Nona
1 comment:
lanjut kakak
Post a Comment