Kendaraan
berlalu lalang di jalan raya, penuh sesak tanpa meninggalkan celah.
Berulang kali sudah metromini berhenti di halte. Berulang kali juga
dibiarkan lalu begitu saja. Dia tetap paku di duduknya, tak bergeming
meski orang datang silih berganti. Tak terhitung berapa kali dia
telah melirik jam tangannya. Apa yang dia nanti? Semuanya berawal
dari satu minggu yang lalu.
###
Andra
duduk di kursi halte. Ia melirik jam tangan. Jam 06.40. Ia sadar
kalau lebih molor dari rutinnya. Biasanya pukul 06.30 ia telah di
atas metromini dalam perjalanan menuju sekolah. Sudah sangat tak
sabaran.
Hari
senin, persis setelah ia melirik jam tangannya. Jam 06.45. Ia baru
saja duduk dalam metromini saat terdengar suara dari sampingnya.
“Kosong?”
“Iya..”
Andra menoleh. Seorang gadis disitu. Berdiri tepat di sampingnya.
Dadanya naik turun cepat. Nafasnya terengah-engah seolah habis
berlari jauh. Keringat nampak di wajahnya, siap bergulir jatuh setiap
saat. Namun kesemuanya itu tak mengurangi keayuan paras wajahnya.
“Mbak..” Lanjut Andra terbata-bata segera menyadarkan diri.
“Syukurlah.”
Cewek itu segera duduk di samping Andra. “Bisa mati kecapekan gue
kalo harus terus berdiri sampai sekolah.”
“Nggak
akan, kalau nggak ada tempat duduk kosong… Gue akan dengan senang
hati memberikan tempat duduk gue buat elo.” Ujar Andra spontan.
“Ah
elo, belum kenal udah berani godain gue. Tapi gue pegang omongan
loe.” Jawab cewek itu sembari cekikikan.
Tak
lama kemudian cewek itu mengeluarkan perlengkapan make up dari dalam
tasnya. Andra melirik pada cewek. Seolah sadar atas lirikan itu,
cewek itu menatap Andra. “Apa loe lihat-lihat? Gag pernah lihat
cewek dandan di tempat umum ya?”
“Udah
sih, ceweknya lagi nikah. Kalo yang di atas bus. Ya, gue belum
pernah”
“Gag
ada larangannya kan?”
“Gag
ada sih, Cuma gue suka lihat elo tanpa make up.” Andra terkejut
dengan kata-katanya sendiri.
“Haaa…
Loe lucu ya? Baru pertama kali ada cowok ngomong gitu ke Gue.
Biasanya mereka langsung bilang gue ini freak” Cewek itu tertawa.
Seperti
sahabat lama yang baru bertemu, mereka berdua langsung akrab dan
nyambung. Metromini terasa milik mereka berdua. Waktu hanya milik
mereka berdua. Hanya saja waktu kali ini berjalan sangat cepat.
“Udah
dulu ya, Gue udah sampai” Cewek itu berdiri dan bergegas pergi.
“Iya,
hati-hati ya!!” Kata Andra. Sekejap ketika Andra melihat punggung
cewek itu barulah ia sadar ada sesuatu yang terlupakan. Sesuatu yang
penting. Ia lupa menanyakan nama cewek itu.
###
Esoknya,
ia telah berjanji kepada diri sendiri untuk sengaja telat. Tentunya
dengan maksud supaya dapat bertemu dengan cewek itu. Cewek kemarin
pagi yang belum ia ketahui namanya.
Dari
kejauhan ia melihat seorang cewek berlari-larian Rambutnya berkibar
kiri kanan kiri kanan. Derap kakinya pendek-pendek dihalangi rok
abu-abu selutut. Sepatu sporty warna pink dengan kaos kaki putih
setinggi lutut. Penampilan lain yang lolos dari perhatiannya kemarin.
Ia
berhenti tepat di depan rambu halte. Sedikit bungkuk terengah-engah
kehabisan nafas. Ia mengeluarkan tissu dari sakunya, melap keringat
di wajah.
“Ngapain
lari-lari gitu loe?” Sapa Andra.
“Ha..
elo lagi? Ngapain elo disini?”
“Menurut
loe ini tempat apa? Ya jelas gue nunggu metromini lah.” Jawab Andra
“Duduk dulu, belum datang metromininya.”
Ia
nurut. Duduk di sebelah Andra. “Ngapain sih elo lari-lari gitu?”
Tanya Andra saat merasa cewek itu sudah berhasil mengatur nafas.
“Takut
telat lah, mang apa lagi kalau bukan itu? Loe pikir Gue pedagang kaki
lima yang dikejar-kejar Pol PP”
“Gag
gitu? Kenapa gag berangkat pagi kalau Loe takut telat? Biar Elo gag
perlu lari-lari gitu”
“Gue
ogah berangkat pagi. Mending siang dan mepet-mepet. Efisiensi waktu,
gag perlu nunggu metromini lama-lama.” Cewek itu melihat ke kiri.
“Tuh yang kita tunggu dah datang. Tepat waktu.”
###
Seminggu
berturut-turut percakapan Andra dengan cewek itu terjadi. Di
singkatnya halte. Bertempat halte hingga halte selanjutnya. Di antara
keramaian pagi hari yang senatiasa hadir menyertai.
Sekarang
hari Sabtu. Kalau ia dapat bertemu cewek itu lagi hari ini, ia
berkeyakinan kalau ia dan cewek itu berjodoh. Meski nama cewek itu
belum ia ketahui, Andra bertekad akan mengajaknya keluar nanti malam.
Malam mingguan. Malam yang panjang dan sangat tepat untuk melakukan
tindakan romantis.
Pagi-pagi
sekali ia berangkat dari rumah. Wangi parfum menyengat dari seragam
sekolah. Rambut mengkilap karena minyak rambut. Dandanan maksimal
sebatas anak sekolah.
Wajahnya
terus menerus menyungging senyum selama perjalanan dari rumah menuju
halte. Sumringah dan semangat. Seumur hidup ia belum pernah
sesemangat ini hanya pergi ke halte saja.
Setengah
jam menunggu cewek itu tak kunjung datang. Setengah jam kemudian
senyum di wajah sudah benar-benar sirna. Cewek itu tak datang.
Sampai-sampai Andra berhasil mencetak rekor terlambat paling lama
sesekolahnya. Telat dua jam dari jam masuk sekolah.
###
“Kok
pagi??” Tanya Andra segera keesokan harinya..
“Kan
Loe yang bilangin Gue kalau mau gag telat kudu brangkat pagi.”
“Iya,
tapi kemarin Gue kira Elo brangkat seperti biasanya, jadi Gue
nungguin Elo sampai telat lama banget.” Andra mengutarakan semua
rasa yang ia rasa saat menunggu cewek itu kemarin.
Muka
cewek itu memerah. “Ngapain Elo nunggu Gue? Gue lho nggak minta Elo
tungguin.”
“Iya,
Gue tahu. Tapi Gue gag ngelakuin karna Elo mintak kok, ini karena Gue
pingin nungguin Elo aja.”
Bising-bising
suara keramaian halte perlahan menghilang, seolah hanya tinggal
mereka berdua.
Cewek
itu menghela nafas panjang. “Elo lho nggak tau nama Gue, Jadi
ngapain juga Elo nungguin Gue?”
“Ya,
itu malah jadi salah satu alasan Gue nungguin Elo, Gue pingin tahu
nama Elo.”
“Kalau
nggak Gue kasih tahu, Elo mau apa?”
“Gue
akan tetap nunggu sampai Elo kasih tahu. Karena, menunggumu itu
menyenangkan, ada perasaan antisipasi kejutan apa lagi yang akan Loe
beri ke Gue. Tak pernah bisa Gue duga.”
Cewek
itu tersenyum. “Loe emang aneh? Apa asyiknya sih nungguin orang
itu?”
“Asyiknya
adalah dalam menunggu itu ada harapan. Gue kira satu-satunya cara Gue
bisa menujumu adalah dengan menunggumu. Hanya dengan itu, Gue
menunggu, bertemu, bersua dan mungkin suatu saat bisa menyatu
denganmu.”
“Sampai
kapan?” Tanya Cewek itu dengan binar-binar mata ceria.
“Sampai
suatu saat Elo gag bisa hidup tanpa Gue yang selalu menunggumu.
Selalu. Selamanya Gue bagaikan Halte ini, dan Elo bagaikan Metromini.
Gue akan selalu menunggu Elo datang, selalu tak pernah berubah.
Karena Keberadaan Halte baru berarti saat ia menunggu Metromininya
datang.”
Pernyataan
Andra tak berbuah jawaban, tapi ia sangat tahu. Seperti metromini
yang baru saja tiba dan berhenti di depan halte. Jawaban itu akan
tiba seperti itu juga, sesuai waktu yang ditentukan, karena orang
yang telah sabar menunggu tak akan dikecewakan.
Dan, metromini pun berhenti di depan halte.
Dan, metromini pun berhenti di depan halte.
TamaT
--Progress in learning a new style--
No comments:
Post a Comment