Did you know? That rain is actually never stop.
I use umbrella just so that I wouldn't hate it.
I walk through it, life with it, and give thanks for every little bit drop of rain.

Sunday, 12 January 2014

Di Persimpangan Halte

Kendaraan berlalu lalang di jalan raya, penuh sesak tanpa meninggalkan celah. Berulang kali sudah metromini berhenti di halte. Berulang kali juga dibiarkan lalu begitu saja. Dia tetap paku di duduknya, tak bergeming meski orang datang silih berganti. Tak terhitung berapa kali dia telah melirik jam tangannya. Apa yang dia nanti? Semuanya berawal dari satu minggu yang lalu.
###

Andra duduk di kursi halte. Ia melirik jam tangan. Jam 06.40. Ia sadar kalau lebih molor dari rutinnya. Biasanya pukul 06.30 ia telah di atas metromini dalam perjalanan menuju sekolah. Sudah sangat tak sabaran.

Hari senin, persis setelah ia melirik jam tangannya. Jam 06.45. Ia baru saja duduk dalam metromini saat terdengar suara dari sampingnya. “Kosong?”

“Iya..” Andra menoleh. Seorang gadis disitu. Berdiri tepat di sampingnya. Dadanya naik turun cepat. Nafasnya terengah-engah seolah habis berlari jauh. Keringat nampak di wajahnya, siap bergulir jatuh setiap saat. Namun kesemuanya itu tak mengurangi keayuan paras wajahnya. 
 “Mbak..” Lanjut Andra terbata-bata segera menyadarkan diri.

“Syukurlah.” Cewek itu segera duduk di samping Andra. “Bisa mati kecapekan gue kalo harus terus berdiri sampai sekolah.”

“Nggak akan, kalau nggak ada tempat duduk kosong… Gue akan dengan senang hati memberikan tempat duduk gue buat elo.” Ujar Andra spontan.

“Ah elo, belum kenal udah berani godain gue. Tapi gue pegang omongan loe.” Jawab cewek itu sembari cekikikan.

Tak lama kemudian cewek itu mengeluarkan perlengkapan make up dari dalam tasnya. Andra melirik pada cewek. Seolah sadar atas lirikan itu, cewek itu menatap Andra. “Apa loe lihat-lihat? Gag pernah lihat cewek dandan di tempat umum ya?”

“Udah sih, ceweknya lagi nikah. Kalo yang di atas bus. Ya, gue belum pernah”

“Gag ada larangannya kan?”

“Gag ada sih, Cuma gue suka lihat elo tanpa make up.” Andra terkejut dengan kata-katanya sendiri.

“Haaa… Loe lucu ya? Baru pertama kali ada cowok ngomong gitu ke Gue. Biasanya mereka langsung bilang gue ini freak” Cewek itu tertawa.

Seperti sahabat lama yang baru bertemu, mereka berdua langsung akrab dan nyambung. Metromini terasa milik mereka berdua. Waktu hanya milik mereka berdua. Hanya saja waktu kali ini berjalan sangat cepat.

“Udah dulu ya, Gue udah sampai” Cewek itu berdiri dan bergegas pergi.

“Iya, hati-hati ya!!” Kata Andra. Sekejap ketika Andra melihat punggung cewek itu barulah ia sadar ada sesuatu yang terlupakan. Sesuatu yang penting. Ia lupa menanyakan nama cewek itu.

###

Esoknya, ia telah berjanji kepada diri sendiri untuk sengaja telat. Tentunya dengan maksud supaya dapat bertemu dengan cewek itu. Cewek kemarin pagi yang belum ia ketahui namanya.

Dari kejauhan ia melihat seorang cewek berlari-larian Rambutnya berkibar kiri kanan kiri kanan. Derap kakinya pendek-pendek dihalangi rok abu-abu selutut. Sepatu sporty warna pink dengan kaos kaki putih setinggi lutut. Penampilan lain yang lolos dari perhatiannya kemarin.
Ia berhenti tepat di depan rambu halte. Sedikit bungkuk terengah-engah kehabisan nafas. Ia mengeluarkan tissu dari sakunya, melap keringat di wajah.

“Ngapain lari-lari gitu loe?” Sapa Andra.

“Ha.. elo lagi? Ngapain elo disini?”

“Menurut loe ini tempat apa? Ya jelas gue nunggu metromini lah.” Jawab Andra “Duduk dulu, belum datang metromininya.”

Ia nurut. Duduk di sebelah Andra. “Ngapain sih elo lari-lari gitu?” Tanya Andra saat merasa cewek itu sudah berhasil mengatur nafas.

“Takut telat lah, mang apa lagi kalau bukan itu? Loe pikir Gue pedagang kaki lima yang dikejar-kejar Pol PP”

“Gag gitu? Kenapa gag berangkat pagi kalau Loe takut telat? Biar Elo gag perlu lari-lari gitu”

“Gue ogah berangkat pagi. Mending siang dan mepet-mepet. Efisiensi waktu, gag perlu nunggu metromini lama-lama.” Cewek itu melihat ke kiri. “Tuh yang kita tunggu dah datang. Tepat waktu.”

###

Seminggu berturut-turut percakapan Andra dengan cewek itu terjadi. Di singkatnya halte. Bertempat halte hingga halte selanjutnya. Di antara keramaian pagi hari yang senatiasa hadir menyertai.

Sekarang hari Sabtu. Kalau ia dapat bertemu cewek itu lagi hari ini, ia berkeyakinan kalau ia dan cewek itu berjodoh. Meski nama cewek itu belum ia ketahui, Andra bertekad akan mengajaknya keluar nanti malam. Malam mingguan. Malam yang panjang dan sangat tepat untuk melakukan tindakan romantis.

Pagi-pagi sekali ia berangkat dari rumah. Wangi parfum menyengat dari seragam sekolah. Rambut mengkilap karena minyak rambut. Dandanan maksimal sebatas anak sekolah.
Wajahnya terus menerus menyungging senyum selama perjalanan dari rumah menuju halte. Sumringah dan semangat. Seumur hidup ia belum pernah sesemangat ini hanya pergi ke halte saja.

Setengah jam menunggu cewek itu tak kunjung datang. Setengah jam kemudian senyum di wajah sudah benar-benar sirna. Cewek itu tak datang. Sampai-sampai Andra berhasil mencetak rekor terlambat paling lama sesekolahnya. Telat dua jam dari jam masuk sekolah.

###

“Kok pagi??” Tanya Andra segera keesokan harinya..

“Kan Loe yang bilangin Gue kalau mau gag telat kudu brangkat pagi.”


“Iya, tapi kemarin Gue kira Elo brangkat seperti biasanya, jadi Gue nungguin Elo sampai telat lama banget.” Andra mengutarakan semua rasa yang ia rasa saat menunggu cewek itu kemarin.

Muka cewek itu memerah. “Ngapain Elo nunggu Gue? Gue lho nggak minta Elo tungguin.”

“Iya, Gue tahu. Tapi Gue gag ngelakuin karna Elo mintak kok, ini karena Gue pingin nungguin Elo aja.”

Bising-bising suara keramaian halte perlahan menghilang, seolah hanya tinggal mereka berdua.

Cewek itu menghela nafas panjang. “Elo lho nggak tau nama Gue, Jadi ngapain juga Elo nungguin Gue?”

“Ya, itu malah jadi salah satu alasan Gue nungguin Elo, Gue pingin tahu nama Elo.”

“Kalau nggak Gue kasih tahu, Elo mau apa?”

“Gue akan tetap nunggu sampai Elo kasih tahu. Karena, menunggumu itu menyenangkan, ada perasaan antisipasi kejutan apa lagi yang akan Loe beri ke Gue. Tak pernah bisa Gue duga.”
Cewek itu tersenyum. “Loe emang aneh? Apa asyiknya sih nungguin orang itu?”

“Asyiknya adalah dalam menunggu itu ada harapan. Gue kira satu-satunya cara Gue bisa menujumu adalah dengan menunggumu. Hanya dengan itu, Gue menunggu, bertemu, bersua dan mungkin suatu saat bisa menyatu denganmu.”

“Sampai kapan?” Tanya Cewek itu dengan binar-binar mata ceria.

“Sampai suatu saat Elo gag bisa hidup tanpa Gue yang selalu menunggumu. Selalu. Selamanya Gue bagaikan Halte ini, dan Elo bagaikan Metromini. Gue akan selalu menunggu Elo datang, selalu tak pernah berubah. Karena Keberadaan Halte baru berarti saat ia menunggu Metromininya datang.”

Pernyataan Andra tak berbuah jawaban, tapi ia sangat tahu. Seperti metromini yang baru saja tiba dan berhenti di depan halte. Jawaban itu akan tiba seperti itu juga, sesuai waktu yang ditentukan, karena orang yang telah sabar menunggu tak akan dikecewakan.

Dan, metromini pun berhenti di depan halte.

TamaT

--Progress in learning a new style--

No comments: