Did you know? That rain is actually never stop.
I use umbrella just so that I wouldn't hate it.
I walk through it, life with it, and give thanks for every little bit drop of rain.

Tuesday, 14 January 2014

Karena Firasat

            “Mulai hari ini, Kakak gag boleh pergi jauh-jauh dari aku sampai aku ijinin.”
            Katanya begitu dia melihat mukaku, mukaku yang masih bermake-up air liur. Ia datang pagi sekali ke rumah dengan muka kombinasi berlebihan dari panik, cemas dan khawatir. Belum pernah aku lihat dia seperti itu.
            Aku yang masih setengah sadar hanya bisa tercengang tak mampu mengerti. Separuh nyawaku masih tertinggal di alam mimpi, sedang Ia sudah sepanik ini. Melihat keseriusannya, apa lagi yang bisa kuperbuat selain mengiyakannya. Sederhana saja, karena yang berkata seperti itu adalah dia. Dia yang bisa mengetahui apa yang tak aku ketahui. Dia yang mengetahui apa yang tak seharusnya diketahui orang. Orang bilang itu berkah, beberapa bilang itu sebuah kutukan, tapi aku suka bilang kalau itu anugerah yang tak diinginkan. Firasat. Sesuatu yang dimiliki sedikit orang terpilih.
            Semuanya bermula dari lima tahun yang lalu. Tanpa permisi dan undangan, Ibu tiba-tiba jatuh sakit dan harus masuk rumah sakit. Dokter bilang Ibu terserang stroke, ada penyumbatan pembuluh darah di otak. Tak satupun anggota keluarga yang menerimanya begitu saja. Kami sekeluarga berjuang dan melakukan semua yang kami bisa demi kesembuhan Ibu. Rumah sakit paling terkenal di daerah kami, perawatan terbaik, fasilitas terbagus, obat termahal dan semua yang serba ter-, bahkan kalau bunga terindah bisa berpengaruh ke kesembuhan Ibu mungkin juga akan kami cari. Semua yang teristimewa kami lakukan.
            Tapi, hanya dia yang berbeda. Dia tidak melakukan apa yang kami sekeluarga lakukan, pikirkan dan kerjaan. Dia bertindak berbeda dari kami. Dia hanya duduk diam menemani Ibu yang terbaring koma di atas tempat tidur. Ia berhenti pergi ke sekolah selama Ibu sakit. Ia tak bermain dengan teman sebayanya. Bahkan sepengetahuanku ia tidak melakukan aktivitas lain selain menemani Ibu. Sehari-harinya ia mengajak omong Ibu, Ibu yang hanya diam tak sadarkan diri. Setiap hari ia bercerita kepada Ibu tentang mimpinya, keinginannya, dan apa yang mungkin akan ia raih di masa depan.
            Aku pernah menegurnya dan bertanya kenapa ia bertindak seperti itu. Ia hanya menjawab, dia tidak ingin menyesal. Kenapa kamu tak mau menyesal? Dia tak mau menjawabnya, dia hanya berkata dia baru bisa cerita kalau waktu sudah mengijinkannya. Semenjak itu aku tak bertanya lagi kepadanya. Aku membiarkan melakukan apa yang ia mau. Mungkin itu adalah sesuatu yang ter- menurutnya demi kesembuhan Ibu.
            Sampai suatu sore ia berlari menjemputku. Ia menangis meraung-raung. Aku tak mengerti. Ia berkata bahwa Ibu akan pergi. Tak mungkin, aku marah dan memukulnya, tak mungkin Ibu akan pergi, dan juga bagaimana ia tahu. Semuanya tak mungkin. Tapi ia terus berkata seperti itu. Aku panik dan pergi ke rumah sakit dimana Ibu terbaring.
            Sampai disana, aku mendapati semua anggota keluarga, lengkap yang menimbulkan keanehan. Paman berkata kondisi Ibu kritis. Tak mungkin batinku saat itu, bagaimana bisa, karena sepengetahuanku kemarin kondisi Ibu sudah mulai membaik. Ia semakin menangis menjerit, semua orang berusaha menenangkannya tapi tak ada yang bisa. Apakah dia benar-benar tahu? Aku mulai meragu.
            Tak lama, giliranku yang harus menangis meraung-raung tak kuasa menahan kesedihan. Apa yang ia katakan benar-benar tepat. Ibu pergi untuk selamanya. Ia tak lagi menangis, saat itu ia lah yang menghiburku.
            “Ibu sudah pergi Kak, jangan menangis lagi! Ibu bisa bersedih disana” ujarnya.
            “Aku tahu, aku tahu.. Tapi aku belum siap” jawabku sesegukan. “Dan bagaimana kamu bisa tahu? Atau jangan-jangan kamu sudah tahu sedari awal kalau Ibu akan pergi? Dan kamu lebih memilih tidak memberi tahuku?”
            “Iya Kak, Aku tahu. Aku tahu setiap usaha tidak akan ada gunanya. Aku tidak tahu secara persis Kak, aku hanya melihatnya dari mimpi, awalnya hanya samar-samar saja, semakin hari berjalan semakin jelas. Awalnya aku terbangun hanya tahu kalau itu Ibu, semakin mendekati hari Ibu pergi aku semakin tahu lebih banyak, bahkan setiap detailnya.”  Dia berhenti berkata, dan mengatur nafas. “Setiap kali terbangun aku selalu menangis, meski semua orang berjuang dengan keras, tapi aku tahu itu semua tidak ada gunanya. Karenanya Aku selalu menemani Ibu, berbicara tentang masa depan Kakak dan Aku, berkata bahwa Ibu tak perlu kuatir. Bahwa kami berdua akan baik-baik saja.”
            Aku semakin menangis sejadi-jadinya. “Dan kenapa kamu tak memberitahuku?”
            “Aku mencoba Kak, aku mencobanya,,” Ia terlihat sangat sedih walau tak sampai menangis. “Setiap hari aku mencobanya Kak, tapi aku tak pernah bisa. Semuanya terhenti di bibir. Kata-kataku tak sanggup keluar. Mungkin sang waktu tak ingin aku membagikan rahasia kehidupan ini kepada Kakak. Ia ingin Kakak tahu pada saat yang tepat, tahu dengan sendirinya.”
            Saat itu aku tak bisa marah kepadanya, karena aku tahu ini semua bukan salahnya. Bukan salah dia yang tahu apa yang seharusnya tak diketahuinya, atau dia yang tak bisa membagikan apa yang ia ketahui. Karena aku pernah merasakannya, Pengetahuan yang tak bisa dibagikan terasa getir, pahit di lidah dan perih di hati.
            Sejak itu, Ia semakin aneh. Ia mampu mengetahui kepergian orang-orang di dekat kami. Mulai dari sahabat kami waktu SD, sampai bakul mlinjo sebelah rumah yang tidak terlalu akrab dengan kami. Bukan dengan tanda-tanda aneh gelas pecah, kejatuhan cecak atau mimpi dipatuk ular. Ia hanya bermimpi tentang wajah seseorang yang ia kenal, wajah orang yang waktunya telah habis di dunia ini. Mukanya semakin pucat dan kantung matanya tebal. Ia jadi kurang tidur dan sering menangis tengah malam saat mimpi-mimpi itu datang.
            Perbedaan paling mencolok sebelum dan sesudah adalah ia jadi melakukan yang terbaik kepada orang-orang yang akan pergi. Ia berusaha memberikan hidup yang terbaik untuk mereka. Akhir hidup terindah. Kadang-kadang aku membantunya. Kadang-kadang aku memarahinya. Karena seringkali ia terlalu memperhatikan orang lain sampai lupa dirinya sendiri. Dia yang baik tapi tak baik untuk dirinya sendiri.
            “Sudahlah Dek!!” Kataku sedikit membentak. “Ini sudah seminggu dan tak terjadi apa-apa.”
            “Tapi Kak, Aku tahu itu akan terjadi, Aku gag pernah salah. Tapi kali ini Aku gag terima, Aku gag akan biarkan itu terjadi, Aku akan lakukan semua yang Aku bisa!!” katanya berbantah.
            “Mungkin Kamu salah Dek!!” teriakku. “Aku gag akan pergi, tapi kalau harus pergi, kita semua tak akan punya kuasa untuk mencegah waktu datang. Kita semua, termasuk kamu dan juga aku” Kataku keceplosan.
            “Kak, tolong jangan berkata seperti itu.” Ia mulai meneteskan air mata. “Tolong Kak!! Aku gag mau Kakak pergi… Aku gag mau sendirian.”
            “Maaf, maaf” Aku merasa bersalah. “Aku gag pergi, aku akan selalu disini, menemanimu.”
            “Trimakasih Kak..” Air mata masih menetes tapi ia berusaha mampu tersenyum.
            “Tapi, Aku gag bisa di rumah terus-terusan seperti ini. Aku harus kerja. Sudah seminggu Aku gag kerja. Bisa dipecat kalau terus gag masuk seperti ini.”
            “Please Kak, seminggu lagi jangan pergi.. Please!!” Ia memohon padaku.
            Aku tak bisa menolak permohonannya, tak pernah bisa. Aku menganggukkan kepala mengiyakan.
            Aku berganti baju santai, kuambil kaos you can see dan jaket jins. “Ya sudah, kalau begitu Aku ke minimarket dulu aja, beli peralatan mandi.”
            “Jangan!!” teriaknya. Jujur seminggu ini ia sangat paranoid, tapi hari ini aku merasa ia berlebihan sekali.
            “Hey, aku cuma ke jalan raya di sana, beli alat mandi yang udah habis..” aku mulai gregetan. “Gitu aja gag kamu bolehin, aku belum keluar sama sekali seharian ini. Kalau kamu khawatir, lebih baik kamu ikut aja ke minimarket.” Jawabku cepat.
            Ia tak mampu berdebat. Ia berganti pakaian dan ikut denganku. Lenganku digenggamnya erat, hampir mirip mencengkeram tak ingin kehilangan. Aku akan menyeberang jalan raya sampai tangannya menahanku. Ia tak bergerak yang memaksaku untuk berhenti melangkah juga.
            “Apa lagi?” tanyaku.
            “Aku melihat ini Kak, di mimpiku kemarin malam. Kakak menyebarang dan itu semua terjadi.” Tubuhnya menggigil ketakutan. Nada bicaranya bergetar.
            “Sudahlah!! Jangan se-paranoid ini, aku akan baik-baik saja.” Aku sudah akan melintasi jalan raya, tapi tangannya tak jua melepasku supaya bisa bergerak.
            “Jangan Kak, biar aku saja yang membelikan peralatan mandi itu buatmu.”
            “Tapi??”
            “Please!!” pintanya padaku
            “Ya sudah kalau itu kemauanmu, kalau itu yang membuatmu puas.”
            Ia tersenyum. Senyum yang akan terkenang di kepalaku untuk selamanya. Semuanya terjadi begitu tak terduga. Ia berjalan hati-hati, melihat ke kiri dan kanan, memastikan sepi dan aman untuk diseberangi. Separuh perjalanan, ia berhenti di tengah perjalanan. Semuanya terjadi begitu cepat. Ia menoleh kepadaku dan melambaikan tangan, mungkin memastikan aku baik-baik saja. Aku membalasnya dengan lambaian tangan juga. Tiba-tiba sebuak truk pasir oleng dan menghempaskan tubuhnya. Semuanya terasa berjalan lambat sekali. Aku bisa melihat dengan jelas senyum, wajah, tubuhnya, sampai kepada tabrakan itu, tubuhnya terpental, terbang, berguling-guling, jatuh terkapar melintang, darah mengalir. Waktu mendadak terhenti, segalanya runtuh sekedipan mata.
            Aku berlari menujunya. Wajahnya berlumuran darah. Aku ingin menjerit, tapi suara tak keluar. Aku ingin memeluknya, mendekapnya, tapi aku tak berani, aku hanya paku menatap wajahnya yang merintih pilu.
            “Kak..” katanya bergetar.
            Aku segera mendekat, mendekat sekali sampai embusan nafasnya dapat dirasa telingaku. Percuma, embusan nafasnya tak terasa “Syukurlah, ternyata itu bukan Kakak, tapi aku” Kata terakhirnya padaku.
            Tangisku pecah membuncah. Airmata meluap, meluber, membajir deras. Aku tak kuasa menahan semua ini. Ia sangat bodoh, Aku sangat bodoh. Aku mendekapnya kuat-kuat. Tubuhnya semakin mendingin di pelukku. Hangat telah pergi mengkhianati raganya.
            Ia selalu begitu, selalu memikirkan orang lain lebih dulu. Tak pernah memikirkan dirinya lebih dahulu. Tak pernah kah kau sadar kalau mimpi itu mungkin untukmu bukan untukku.Tak sadar kah kalau Kita ini kembar. Mira dan Mila, nama yang Ibu berikan pada kita.

 Semuanya terlambat, kenapa aku tak sadar lebih dulu? Aku hanya mampu memarahi diri sendiri. Aku hanya mampu menatap masa depan dan berusaha mewujudkan impian yang kita bicarakan seminggu ini. Aku meratap, ia pergi dengan senyum. Ia yang selalu mendapat firasat tentang orang lain sampai melupakan kalau mungkin firasat itu bisa jadi untuk dirinya sendiri. Ia yang super bodoh pergi meninggalkan aku yang teramat bodoh.

THE END

**Terinspirasi dari Firasat - Dee**

3 comments:

inka said...

super sekali kamu nak ... :D

roniisama said...

Thanks Ka.. Aku masih perlu belajar banyak..

Unknown said...

aku sudah baca yang ini... sunggug tak terduga... dan pada akhirnya itu yang terjadi..