“Mulai
hari ini, Kakak gag boleh pergi jauh-jauh dari aku sampai aku ijinin.”
Katanya
begitu dia melihat mukaku, mukaku yang masih bermake-up air liur. Ia datang
pagi sekali ke rumah dengan muka kombinasi berlebihan dari panik, cemas dan khawatir.
Belum pernah aku lihat dia seperti itu.
Aku
yang masih setengah sadar hanya bisa tercengang tak mampu mengerti. Separuh
nyawaku masih tertinggal di alam mimpi, sedang Ia sudah sepanik ini. Melihat
keseriusannya, apa lagi yang bisa kuperbuat selain mengiyakannya. Sederhana
saja, karena yang berkata seperti itu adalah dia. Dia yang bisa mengetahui apa
yang tak aku ketahui. Dia yang mengetahui apa yang tak seharusnya diketahui
orang. Orang bilang itu berkah, beberapa bilang itu sebuah kutukan, tapi aku
suka bilang kalau itu anugerah yang tak diinginkan. Firasat. Sesuatu yang
dimiliki sedikit orang terpilih.
Semuanya
bermula dari lima tahun yang lalu. Tanpa permisi dan undangan, Ibu tiba-tiba
jatuh sakit dan harus masuk rumah sakit. Dokter bilang Ibu terserang stroke,
ada penyumbatan pembuluh darah di otak. Tak satupun anggota keluarga yang
menerimanya begitu saja. Kami sekeluarga berjuang dan melakukan semua yang kami
bisa demi kesembuhan Ibu. Rumah sakit paling terkenal di daerah kami, perawatan
terbaik, fasilitas terbagus, obat termahal dan semua yang serba ter-, bahkan
kalau bunga terindah bisa berpengaruh ke kesembuhan Ibu mungkin juga akan kami
cari. Semua yang teristimewa kami lakukan.
Tapi,
hanya dia yang berbeda. Dia tidak melakukan apa yang kami sekeluarga lakukan,
pikirkan dan kerjaan. Dia bertindak berbeda dari kami. Dia hanya duduk diam
menemani Ibu yang terbaring koma di atas tempat tidur. Ia berhenti pergi ke
sekolah selama Ibu sakit. Ia tak bermain dengan teman sebayanya. Bahkan
sepengetahuanku ia tidak melakukan aktivitas lain selain menemani Ibu.
Sehari-harinya ia mengajak omong Ibu, Ibu yang hanya diam tak sadarkan diri.
Setiap hari ia bercerita kepada Ibu tentang mimpinya, keinginannya, dan apa
yang mungkin akan ia raih di masa depan.
Aku
pernah menegurnya dan bertanya kenapa ia bertindak seperti itu. Ia hanya
menjawab, dia tidak ingin menyesal. Kenapa kamu tak mau menyesal? Dia tak mau
menjawabnya, dia hanya berkata dia baru bisa cerita kalau waktu sudah
mengijinkannya. Semenjak itu aku tak bertanya lagi kepadanya. Aku membiarkan
melakukan apa yang ia mau. Mungkin itu adalah sesuatu yang ter- menurutnya demi
kesembuhan Ibu.
Sampai
suatu sore ia berlari menjemputku. Ia menangis meraung-raung. Aku tak mengerti.
Ia berkata bahwa Ibu akan pergi. Tak mungkin, aku marah dan memukulnya, tak
mungkin Ibu akan pergi, dan juga bagaimana ia tahu. Semuanya tak mungkin. Tapi
ia terus berkata seperti itu. Aku panik dan pergi ke rumah sakit dimana Ibu
terbaring.
Sampai
disana, aku mendapati semua anggota keluarga, lengkap yang menimbulkan keanehan.
Paman berkata kondisi Ibu kritis. Tak mungkin batinku saat itu, bagaimana bisa,
karena sepengetahuanku kemarin kondisi Ibu sudah mulai membaik. Ia semakin
menangis menjerit, semua orang berusaha menenangkannya tapi tak ada yang bisa.
Apakah dia benar-benar tahu? Aku mulai meragu.
Tak
lama, giliranku yang harus menangis meraung-raung tak kuasa menahan kesedihan.
Apa yang ia katakan benar-benar tepat. Ibu pergi untuk selamanya. Ia tak lagi
menangis, saat itu ia lah yang menghiburku.
“Ibu
sudah pergi Kak, jangan menangis lagi! Ibu bisa bersedih disana” ujarnya.
“Aku
tahu, aku tahu.. Tapi aku belum siap” jawabku sesegukan. “Dan bagaimana kamu
bisa tahu? Atau jangan-jangan kamu sudah tahu sedari awal kalau Ibu akan pergi?
Dan kamu lebih memilih tidak memberi tahuku?”
“Iya
Kak, Aku tahu. Aku tahu setiap usaha tidak akan ada gunanya. Aku tidak tahu
secara persis Kak, aku hanya melihatnya dari mimpi, awalnya hanya samar-samar
saja, semakin hari berjalan semakin jelas. Awalnya aku terbangun hanya tahu
kalau itu Ibu, semakin mendekati hari Ibu pergi aku semakin tahu lebih banyak,
bahkan setiap detailnya.” Dia berhenti
berkata, dan mengatur nafas. “Setiap kali terbangun aku selalu menangis, meski
semua orang berjuang dengan keras, tapi aku tahu itu semua tidak ada gunanya.
Karenanya Aku selalu menemani Ibu, berbicara tentang masa depan Kakak dan Aku,
berkata bahwa Ibu tak perlu kuatir. Bahwa kami berdua akan baik-baik saja.”
Aku
semakin menangis sejadi-jadinya. “Dan kenapa kamu tak memberitahuku?”
“Aku
mencoba Kak, aku mencobanya,,” Ia terlihat sangat sedih walau tak sampai
menangis. “Setiap hari aku mencobanya Kak, tapi aku tak pernah bisa. Semuanya
terhenti di bibir. Kata-kataku tak sanggup keluar. Mungkin sang waktu tak ingin
aku membagikan rahasia kehidupan ini kepada Kakak. Ia ingin Kakak tahu pada
saat yang tepat, tahu dengan sendirinya.”
Saat
itu aku tak bisa marah kepadanya, karena aku tahu ini semua bukan salahnya.
Bukan salah dia yang tahu apa yang seharusnya tak diketahuinya, atau dia yang
tak bisa membagikan apa yang ia ketahui. Karena aku pernah merasakannya,
Pengetahuan yang tak bisa dibagikan terasa getir, pahit di lidah dan perih di
hati.
Sejak
itu, Ia semakin aneh. Ia mampu mengetahui kepergian orang-orang di dekat kami.
Mulai dari sahabat kami waktu SD, sampai bakul mlinjo sebelah rumah yang tidak
terlalu akrab dengan kami. Bukan dengan tanda-tanda aneh gelas pecah, kejatuhan
cecak atau mimpi dipatuk ular. Ia hanya bermimpi tentang wajah seseorang yang
ia kenal, wajah orang yang waktunya telah habis di dunia ini. Mukanya semakin
pucat dan kantung matanya tebal. Ia jadi kurang tidur dan sering menangis
tengah malam saat mimpi-mimpi itu datang.
Perbedaan
paling mencolok sebelum dan sesudah adalah ia jadi melakukan yang terbaik
kepada orang-orang yang akan pergi. Ia berusaha memberikan hidup yang terbaik
untuk mereka. Akhir hidup terindah. Kadang-kadang aku membantunya.
Kadang-kadang aku memarahinya. Karena seringkali ia terlalu memperhatikan orang
lain sampai lupa dirinya sendiri. Dia yang baik tapi tak baik untuk dirinya
sendiri.
“Sudahlah
Dek!!” Kataku sedikit membentak. “Ini sudah seminggu dan tak terjadi apa-apa.”
“Tapi
Kak, Aku tahu itu akan terjadi, Aku gag pernah salah. Tapi kali ini Aku gag
terima, Aku gag akan biarkan itu terjadi, Aku akan lakukan semua yang Aku
bisa!!” katanya berbantah.
“Mungkin
Kamu salah Dek!!” teriakku. “Aku gag akan pergi, tapi kalau harus pergi, kita
semua tak akan punya kuasa untuk mencegah waktu datang. Kita semua, termasuk
kamu dan juga aku” Kataku keceplosan.
“Kak,
tolong jangan berkata seperti itu.” Ia mulai meneteskan air mata. “Tolong Kak!!
Aku gag mau Kakak pergi… Aku gag mau sendirian.”
“Maaf,
maaf” Aku merasa bersalah. “Aku gag pergi, aku akan selalu disini, menemanimu.”
“Trimakasih
Kak..” Air mata masih menetes tapi ia berusaha mampu tersenyum.
“Tapi,
Aku gag bisa di rumah terus-terusan seperti ini. Aku harus kerja. Sudah
seminggu Aku gag kerja. Bisa dipecat kalau terus gag masuk seperti ini.”
“Please
Kak, seminggu lagi jangan pergi.. Please!!” Ia memohon padaku.
Aku
tak bisa menolak permohonannya, tak pernah bisa. Aku menganggukkan kepala
mengiyakan.
Aku
berganti baju santai, kuambil kaos you
can see dan jaket jins. “Ya sudah, kalau begitu Aku ke minimarket dulu aja,
beli peralatan mandi.”
“Jangan!!”
teriaknya. Jujur seminggu ini ia sangat paranoid, tapi hari ini aku merasa ia
berlebihan sekali.
“Hey,
aku cuma ke jalan raya di sana, beli alat mandi yang udah habis..” aku mulai
gregetan. “Gitu aja gag kamu bolehin, aku belum keluar sama sekali seharian
ini. Kalau kamu khawatir, lebih baik kamu ikut aja ke minimarket.” Jawabku
cepat.
Ia
tak mampu berdebat. Ia berganti pakaian dan ikut denganku. Lenganku
digenggamnya erat, hampir mirip mencengkeram tak ingin kehilangan. Aku akan
menyeberang jalan raya sampai tangannya menahanku. Ia tak bergerak yang
memaksaku untuk berhenti melangkah juga.
“Apa
lagi?” tanyaku.
“Aku
melihat ini Kak, di mimpiku kemarin malam. Kakak menyebarang dan itu semua
terjadi.” Tubuhnya menggigil ketakutan. Nada bicaranya bergetar.
“Sudahlah!!
Jangan se-paranoid ini, aku akan baik-baik saja.” Aku sudah akan melintasi
jalan raya, tapi tangannya tak jua melepasku supaya bisa bergerak.
“Jangan
Kak, biar aku saja yang membelikan peralatan mandi itu buatmu.”
“Tapi??”
“Please!!”
pintanya padaku
“Ya
sudah kalau itu kemauanmu, kalau itu yang membuatmu puas.”
Ia
tersenyum. Senyum yang akan terkenang di kepalaku untuk selamanya. Semuanya
terjadi begitu tak terduga. Ia berjalan hati-hati, melihat ke kiri dan kanan,
memastikan sepi dan aman untuk diseberangi. Separuh perjalanan, ia berhenti di
tengah perjalanan. Semuanya terjadi begitu cepat. Ia menoleh kepadaku dan
melambaikan tangan, mungkin memastikan aku baik-baik saja. Aku membalasnya
dengan lambaian tangan juga. Tiba-tiba sebuak truk pasir oleng dan
menghempaskan tubuhnya. Semuanya terasa berjalan lambat sekali. Aku bisa
melihat dengan jelas senyum, wajah, tubuhnya, sampai kepada tabrakan itu,
tubuhnya terpental, terbang, berguling-guling, jatuh terkapar melintang, darah
mengalir. Waktu mendadak terhenti, segalanya runtuh sekedipan mata.
Aku
berlari menujunya. Wajahnya berlumuran darah. Aku ingin menjerit, tapi suara
tak keluar. Aku ingin memeluknya, mendekapnya, tapi aku tak berani, aku hanya
paku menatap wajahnya yang merintih pilu.
“Kak..”
katanya bergetar.
Aku
segera mendekat, mendekat sekali sampai embusan nafasnya dapat dirasa telingaku.
Percuma, embusan nafasnya tak terasa “Syukurlah, ternyata itu bukan Kakak, tapi
aku” Kata terakhirnya padaku.
Tangisku
pecah membuncah. Airmata meluap, meluber, membajir deras. Aku tak kuasa menahan
semua ini. Ia sangat bodoh, Aku sangat bodoh. Aku mendekapnya kuat-kuat. Tubuhnya
semakin mendingin di pelukku. Hangat telah pergi mengkhianati raganya.
Ia
selalu begitu, selalu memikirkan orang lain lebih dulu. Tak pernah memikirkan
dirinya lebih dahulu. Tak pernah kah kau sadar kalau mimpi itu mungkin untukmu
bukan untukku.Tak sadar kah kalau Kita ini kembar. Mira dan Mila, nama yang Ibu
berikan pada kita.
Semuanya terlambat, kenapa aku tak sadar lebih
dulu? Aku hanya mampu memarahi diri sendiri. Aku hanya mampu menatap masa depan
dan berusaha mewujudkan impian yang kita bicarakan seminggu ini. Aku meratap,
ia pergi dengan senyum. Ia yang selalu mendapat firasat tentang orang lain
sampai melupakan kalau mungkin firasat itu bisa jadi untuk dirinya sendiri. Ia
yang super bodoh pergi meninggalkan aku yang teramat bodoh.
THE END
**Terinspirasi dari Firasat - Dee**
3 comments:
super sekali kamu nak ... :D
Thanks Ka.. Aku masih perlu belajar banyak..
aku sudah baca yang ini... sunggug tak terduga... dan pada akhirnya itu yang terjadi..
Post a Comment