Dua
malam sudah aku pergi dari rumah. Saat ini aku tinggal di kontrakan para musisi
jalanan. Aku sebut para, karena memang bukan satu orang yang mengkontrak rumah
ini. Aku sebut musisi jalanan bukan karena mereka para musisi, lebih
karena sungkan untuk menyebut rumah para orang-orang buangan sepertiku. Rumah ini dikontrak
secara swadaya oleh para musisi jalanan dibayar pakai “ancaman kekerasan”
kepada pemilik rumah. Pembayarannya pun selalu cash setiap bulannya di awal
bulan. Pemilik rumah tak bisa berbuat apa-apa menghadapinya, polisi saja tidak
bisa.
Matahari
sudah tinggi saat aku bangun.
Di bagian rumah ini, aku bisa tidur dimanapun aku suka. Terserah.
Cuma
masalahnya adalah tidak banyak tempat yang bisa digunakan. Krat-krat botol
minuman keras mulai cap cina sampai anggur eropa bergelatakan dimana-mana.
Perabotan elektronik dalam jumlah banyak berserakan di setiap sudut rumah, teronggok begitu saja menanti pemilik sejati untuk
menggunakannya. Alat musik
selengkap studio ada di kamar paling belakang, selalu gaduh party sepanjang
malam. Di rumah
ini hanya mengenal dua aturan, aturan pertama adalah tidak ada aturan. Aturan
kedua adalah ….
“Ahmad!!
Sini kamu!!”
Panggil
seseorang dengan rambut tipis mendekati gundul dan kaos kucel tak jelas. Wajahnya sudah tak
tentu bentuknya, banyak codet disana-sini. Namun matanya memancarkan semangat,
semangat yang membuat orang di sekitarnya mau tak mau ikut menjadi semangat.
“Iya
Tuk!!”
Aku
tidak tahu siapa nama aslinya, tapi semua anak memanggil dia Datuk. Pemuda yang
sangat dihormati di wilayah ini. Iya
benar,
aturan kedua adalah aturan pertama tidak berlaku jika Datuk sudah berkata. Semuanya
patuh kepadanya.
“Namamu
tu nggak sangar sekali, mana bisa kamu disegani kalau namamu cupu gitu. Nggak
pantas untuk hidup di jalanan.”
Katanya
sambil nyengir dan ketawa-ketawa. Aku juga mengakuinya kalau namaku memang
nggak banget, kalau kata anak muda zaman sekarang namanya gag gaul.
“Oke,
mulai sekarang namamu aku ganti Petol, ngerti?”
“Iya,
terimakasih,” jawabku ngangguk-ngangguk saja. Aku dibuat heran karenanya, Ibu pernah bercerita bahwa untuk memberiku nama Ahmad harus tirakat dua bulan
dan bertanya kepada banyak orang. Sedang dia mengganti namaku nggak pakai mikir
lebih dari setengah detik dengan kekuatan otak yang baru bangun setengah jam
yang lalu. Dan herannya aku patuh-patuh saja.
“Mulai
sekarang kamu kerja dibawah
manajemenku, nggak kerja, nggak bisa pesta..” Datuk terkekeh. “Kamu
mulai kerjaan terbawah, ngerti??” Sejenak dia menoleh sekitar seperti berusaha
untuk mencari seseorang.“Trung!! Sini kamu”
Anak
tinggi dengan potongan biak kiri dan poni tergopoh-gopoh berlari mendekat
kemari. “Siap Tuk!!” Gayanya bagaikan seorang tamtama menghadap komandannya.
“Kamu
jaga parkir dimana hari ini??”
“Indomaret
depan SMA Tuk, sepi disana, pendapatanku nggak banyak.”
“Halah,
protes mulu kamu, ni ada anak baru, kamu bawa dan kamu ajari dia. Dia
sepertinya punya potensi untuk terjun ke industri kita.” Diiringi kekehnya yang khas.
“Siap
Tuk!!” Dia menoleh ke arahku. “Ayo sini ikut”
Tak
banyak yang harus dipelajari sebagai tukang parkir. Kentrung
hanya memberi contoh dua kali cara memarkir mobil, setelah itu ia asyik duduk
di kursi panjang ditemani segelas kopi dan sebungkus rokok. Agak jengkel dengan
sikapnya yang bossy.
Seharian
tidak banyak yang aku kerjakan, jujur pekerjaan tukang parkir itu membosankan
sekali.
Entah karena tempat ini sepi atau karena
aku yang paling anti kemonotonan. Bagaimana tidak, cuma modal peluit dan ditiup
setiap kali motor datang, kemudian nagih uang saat akan pergi. Kalau terlihat
kerja itu mungkin saat mobil datang, bunyi peluit lebih banyak yang berarti
biaya parkir juga lebih banyak. Korelasi yang aneh.
Waktu
banyak berlalu diisi mengobrol bersama Kentrung. Ngalor ngidul tanpa
juntrungannya. Dia sudah enam bulan hidup di jalanan, jelas secara pengalaman
dia lebih banyak daripadaku.Ia ngoceh tanpa henti, aku lebih serih menimpali dengan
‘Ooo..” atau ‘Gitu ya?” atau
“Masak sih?” atau “Baru tau aku”. Ia senang sekali bercerita kepadaku, berada
di posisi memiliki lebih banyak pengetahuan seperti membuat tingkat kepercayaan
dirinya meningkat. Dia semakin besar kepala, sombong dan ngoceh tanpa henti.
Senja
datang, sebentar lagi pergantian shift jaga parkir. Sudah saatnya shift jaga
siang berakhir dan berganti shift jaga malam. Sesuatu yang kutunggu-tunggu
sedari tadi. Bukan karena capek, lebih karena bosan. Lebih lama disini kurasa bisa membuatku mati bosan. Dari pagi
meniup peluit, bersama Kentrung yang tak henti-hentinya ngoceh tak jelas
membuatku jengah. Berulang kali aku menahan keinginan untuk menyumpal mulutnya
yang tak bisa diam itu dengan sandal.
Yang menahan keinginanku hanyalah rasa seganku pada Datuk yang telah berbaik
hati memberikan anak gag seberguna Kentrung untuk mengajari dan menemaniku
seharian.
Sebuah
mobil mazda putih
menepi, mau
parkir. Ogah-ogahan aku
bergerak memandu proses parkir, jenuh telah melakukannya puluhan kali seharian
inil.
Aku terlalu bersemangat mengantisipasi pergantian shift, tanpa memperhatikan
kuteriakkan “Terus!! Terus!! Terus!!” Sampai terdengar bunyi brak lumayan keras, bumper belakang mobil menabrak dinding. Saat aku
melihatnya sudah nampak bekas-bekas cat terkelupas.
Pemiliknya
keluar, pria perut buncit dengan kemeja kekecilan. Ia segera melabrakku,
berteriak memaki-maki. Segala hewan keluar dari mulutnya. Kentrung yang
melihatnya berlari ke arahku. Dia dan aku berulang kali minta maaf.
Tapi
orang itu tak berhenti juga teriak-teriak. Kutatap wajahnya, matanya menatapku
dengan penuh rasa jijik, seolah aku ini bukan manusia. Ia menunjuk-nunjukku diiringi teriakan yang semakin
menjadi-jadi. Aku muak dengan teriakannya. Setiap hari aku
mendengar teriakan dan teriakan. Aku tak mau lagi mendengar orang lain teriak
kepadaku. Aku benci dia. Aku ingin membuatnya diam.
DIAAM!!
Spontan, tangan kananku memukul rahang kirinya sekuat tenaga. Ia mundur
sempoyongan. Ada perasaan aneh menjalar dari tangan kananku, ke pundak, bahu
dan sampai ke kepala.
Ada rasa puas, lega, senang dan ingin lagi kurasakan secara serentak.
Akhirnya diam juga, tak lagi berteriak kepadaku.
Aku melihat orang itu, wajah bundar tertegun dan terlihat ketakutan padaku.
Ini belum cukup. Aku
dekati dia, kuhantam rahang kiri dan kanannya bergantian. Ia jatuh terlentang.
Setiap teriakanmu akan aku balas padamu. Aku duduki perut buncitnya. Kupukul
terus kepalanya lagi, lagi, lagi.Dan lagi. Tak dapat kuhitung berapa banyak aku
memukulnya.
Aku
baru sadar saat Kentrung berteriak-teriak dan menarik badanku.
“STOP!!
STOP!! Kamu mau membunuhnya!!”
Aku berhenti. Wajah orang itu sudah tidak sama dengan beberapa menit yang lalu.
Berlumuran darah. Tanganku juga. Wajah bundarnya bengkak, dan penuh sobekan,
matanya terkatup tak mampu terbuka, istrinya pun mungkin tak akan mampu
mengenalinya lagi.
Aku
terengah-engah. Aku merasa seperti kerasukan sesuatu, tak dapat mengendalikan
diri. Orang itu sudah tak sadarkan diri sekarang. Aku tak tahu apa yang harus
kulakukan.
“Ayo
pergi dari sini!!” Ajak Kentrung. “Sebelum semua orang mendekat”
Kentrung
berlari pergi meninggalkanku. Sejenak aku berdiri mematung menatap orang yang
sekarang tergeletak tak berdaya. Kemudian aku berpaling meninggalkannya disitu, terbaring di celah antara dua
mobil yang terparkir.
Aku
berlari melewati keramaian orang yang terlihat mulai mendekat ke parkiran.
Sangat jelas apa yang barusan aku lakukan. Aku menghajar orang itu. Aku
berhasil membuatnya diam. Ia tak lagi berteriak kepadaku. Aku tidak pasif, aku
di pihak aktif untuk membuat orang lain diam. Aku senang dengan pengalaman yang
kudapat barusan. Aku punya
kemampuan, kekuatan dan kekuasaan.
Sepanjang perjalanan sembari berlari aku terus
tertawa sendiri. Puas terhadap apa yang barusan kukerjakan. Tak mempedulikan
orang lain yang mungkin menganggapku gila saat melihatku tertawa sendiri.
No comments:
Post a Comment