Did you know? That rain is actually never stop.
I use umbrella just so that I wouldn't hate it.
I walk through it, life with it, and give thanks for every little bit drop of rain.

Tuesday, 7 January 2014

Dirty Escape - Part 2


            Dua malam sudah aku pergi dari rumah. Saat ini aku tinggal di kontrakan para musisi jalanan. Aku sebut para, karena memang bukan satu orang yang mengkontrak rumah ini. Aku sebut musisi jalanan bukan karena mereka para musisi, lebih karena sungkan untuk menyebut rumah para orang-orang buangan sepertiku. Rumah ini dikontrak secara swadaya oleh para musisi jalanan dibayar pakai “ancaman kekerasan” kepada pemilik rumah. Pembayarannya pun selalu cash setiap bulannya di awal bulan. Pemilik rumah tak bisa berbuat apa-apa menghadapinya, polisi saja tidak bisa.
            Matahari sudah tinggi saat aku bangun. Di bagian rumah ini, aku bisa tidur dimanapun aku suka. Terserah. Cuma masalahnya adalah tidak banyak tempat yang bisa digunakan. Krat-krat botol minuman keras mulai cap cina sampai anggur eropa bergelatakan dimana-mana. Perabotan elektronik dalam jumlah banyak berserakan di setiap sudut rumah, teronggok begitu saja menanti pemilik sejati untuk menggunakannya. Alat musik selengkap studio ada di kamar paling belakang, selalu gaduh party sepanjang malam. Di rumah ini hanya mengenal dua aturan, aturan pertama adalah tidak ada aturan. Aturan kedua adalah ….
            “Ahmad!! Sini kamu!!”
            Panggil seseorang dengan rambut tipis mendekati gundul dan kaos kucel tak jelas. Wajahnya sudah tak tentu bentuknya, banyak codet disana-sini. Namun matanya memancarkan semangat, semangat yang membuat orang di sekitarnya mau tak mau ikut menjadi semangat.
            “Iya Tuk!!”
            Aku tidak tahu siapa nama aslinya, tapi semua anak memanggil dia Datuk. Pemuda yang sangat dihormati di wilayah ini. Iya benar, aturan kedua adalah aturan pertama tidak berlaku jika Datuk sudah berkata. Semuanya patuh kepadanya.
            “Namamu tu nggak sangar sekali, mana bisa kamu disegani kalau namamu cupu gitu. Nggak pantas untuk hidup di jalanan.”
            Katanya sambil nyengir dan ketawa-ketawa. Aku juga mengakuinya kalau namaku memang nggak banget, kalau kata anak muda zaman sekarang namanya gag gaul.
            “Oke, mulai sekarang namamu aku ganti Petol, ngerti?”
       “Iya, terimakasih,” jawabku ngangguk-ngangguk saja. Aku dibuat heran karenanya, Ibu pernah bercerita bahwa untuk memberiku nama Ahmad harus tirakat dua bulan dan bertanya kepada banyak orang. Sedang dia mengganti namaku nggak pakai mikir lebih dari setengah detik dengan kekuatan otak yang baru bangun setengah jam yang lalu. Dan herannya aku patuh-patuh saja.
            “Mulai sekarang kamu kerja dibawah manajemenku, nggak kerja, nggak bisa pesta..” Datuk terkekeh. “Kamu mulai kerjaan terbawah, ngerti??” Sejenak dia menoleh sekitar seperti berusaha untuk mencari seseorang.“Trung!! Sini kamu”
            Anak tinggi dengan potongan biak kiri dan poni tergopoh-gopoh berlari mendekat kemari. “Siap Tuk!!” Gayanya bagaikan seorang tamtama menghadap komandannya.
            “Kamu jaga parkir dimana hari ini??”
            “Indomaret depan SMA Tuk, sepi disana, pendapatanku nggak banyak.”
            “Halah, protes mulu kamu, ni ada anak baru, kamu bawa dan kamu ajari dia. Dia sepertinya punya potensi untuk terjun ke industri kita.” Diiringi kekehnya yang khas.
            “Siap Tuk!!” Dia menoleh ke arahku. “Ayo sini ikut”
            Tak banyak yang harus dipelajari sebagai tukang parkir. Kentrung hanya memberi contoh dua kali cara memarkir mobil, setelah itu ia asyik duduk di kursi panjang ditemani segelas kopi dan sebungkus rokok. Agak jengkel dengan sikapnya yang bossy.
            Seharian tidak banyak yang aku kerjakan, jujur pekerjaan tukang parkir itu membosankan sekali. Entah karena tempat ini sepi atau karena aku yang paling anti kemonotonan. Bagaimana tidak, cuma modal peluit dan ditiup setiap kali motor datang, kemudian nagih uang saat akan pergi. Kalau terlihat kerja itu mungkin saat mobil datang, bunyi peluit lebih banyak yang berarti biaya parkir juga lebih banyak. Korelasi yang aneh.
            Waktu banyak berlalu diisi mengobrol bersama Kentrung. Ngalor ngidul tanpa juntrungannya. Dia sudah enam bulan hidup di jalanan, jelas secara pengalaman dia lebih banyak daripadaku.Ia ngoceh tanpa henti, aku lebih serih menimpali dengan ‘Ooo..” atau ‘Gitu ya?” atau “Masak sih?” atau “Baru tau aku”. Ia senang sekali bercerita kepadaku, berada di posisi memiliki lebih banyak pengetahuan seperti membuat tingkat kepercayaan dirinya meningkat. Dia semakin besar kepala, sombong dan ngoceh tanpa henti.
            Senja datang, sebentar lagi pergantian shift jaga parkir. Sudah saatnya shift jaga siang berakhir dan berganti shift jaga malam. Sesuatu yang kutunggu-tunggu sedari tadi. Bukan karena capek, lebih karena bosan. Lebih lama disini kurasa bisa membuatku mati bosan. Dari pagi meniup peluit, bersama Kentrung yang tak henti-hentinya ngoceh tak jelas membuatku jengah. Berulang kali aku menahan keinginan untuk menyumpal mulutnya yang tak bisa diam itu dengan sandal. Yang menahan keinginanku hanyalah rasa seganku pada Datuk yang telah berbaik hati memberikan anak gag seberguna Kentrung untuk mengajari dan menemaniku seharian.
            Sebuah mobil mazda putih menepi, mau parkir. Ogah-ogahan aku bergerak memandu proses parkir, jenuh telah melakukannya puluhan kali seharian inil. Aku terlalu bersemangat mengantisipasi pergantian shift, tanpa memperhatikan kuteriakkan “Terus!! Terus!! Terus!!” Sampai terdengar bunyi brak lumayan keras, bumper belakang mobil menabrak dinding. Saat aku melihatnya sudah nampak bekas-bekas cat terkelupas.
            Pemiliknya keluar, pria perut buncit dengan kemeja kekecilan. Ia segera melabrakku, berteriak memaki-maki. Segala hewan keluar dari mulutnya. Kentrung yang melihatnya berlari ke arahku. Dia dan aku berulang kali minta maaf.
            Tapi orang itu tak berhenti juga teriak-teriak. Kutatap wajahnya, matanya menatapku dengan penuh rasa jijik, seolah aku ini bukan manusia. Ia menunjuk-nunjukku diiringi teriakan yang semakin menjadi-jadi. Aku muak dengan teriakannya. Setiap hari aku mendengar teriakan dan teriakan. Aku tak mau lagi mendengar orang lain teriak kepadaku. Aku benci dia. Aku ingin membuatnya diam.
          DIAAM!! Spontan, tangan kananku memukul rahang kirinya sekuat tenaga. Ia mundur sempoyongan. Ada perasaan aneh menjalar dari tangan kananku, ke pundak, bahu dan sampai ke kepala. Ada rasa puas, lega, senang dan ingin lagi kurasakan secara serentak.
Akhirnya diam juga, tak lagi berteriak kepadaku. Aku melihat orang itu, wajah bundar tertegun dan terlihat ketakutan padaku.
Ini belum cukup. Aku dekati dia, kuhantam rahang kiri dan kanannya bergantian. Ia jatuh terlentang. Setiap teriakanmu akan aku balas padamu. Aku duduki perut buncitnya. Kupukul terus kepalanya lagi, lagi, lagi.Dan lagi. Tak dapat kuhitung berapa banyak aku memukulnya.
            Aku baru sadar saat Kentrung berteriak-teriak dan menarik badanku.
            “STOP!! STOP!! Kamu mau membunuhnya!!”
            Aku berhenti. Wajah orang itu sudah tidak sama dengan beberapa menit yang lalu. Berlumuran darah. Tanganku juga. Wajah bundarnya bengkak, dan penuh sobekan, matanya terkatup tak mampu terbuka, istrinya pun mungkin tak akan mampu mengenalinya lagi.
            Aku terengah-engah. Aku merasa seperti kerasukan sesuatu, tak dapat mengendalikan diri. Orang itu sudah tak sadarkan diri sekarang. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan.
            “Ayo pergi dari sini!!” Ajak Kentrung. “Sebelum semua orang mendekat
          Kentrung berlari pergi meninggalkanku. Sejenak aku berdiri mematung menatap orang yang sekarang tergeletak tak berdaya. Kemudian aku berpaling meninggalkannya disitu, terbaring di celah antara dua mobil yang terparkir.
            Aku berlari melewati keramaian orang yang terlihat mulai mendekat ke parkiran. Sangat jelas apa yang barusan aku lakukan. Aku menghajar orang itu. Aku berhasil membuatnya diam. Ia tak lagi berteriak kepadaku. Aku tidak pasif, aku di pihak aktif untuk membuat orang lain diam. Aku senang dengan pengalaman yang kudapat barusan. Aku punya kemampuan, kekuatan dan kekuasaan
          Sepanjang perjalanan sembari berlari aku terus tertawa sendiri. Puas terhadap apa yang barusan kukerjakan. Tak mempedulikan orang lain yang mungkin menganggapku gila saat melihatku tertawa sendiri.

No comments: