Did you know? That rain is actually never stop.
I use umbrella just so that I wouldn't hate it.
I walk through it, life with it, and give thanks for every little bit drop of rain.

Sunday, 5 January 2014

Dirty Escape - part 1

Kutatap bulan malam ini. Tepat persis berada diatas kepala. Darinya Aku memperkirakan kalau sekarang sudah lebih dari jam 10 malam. Sudah melewati jam malam. Asyik nongkrong sampai lupa waktu. Setengah ragu antara pulang atau tidak. Namun aku sudah berdiri tepat di depan rumah, kutepis keraguan bersamaan dengan membuka pagar rumah.
Samar-samar terdengar suara dari dalam rumah. Tanda masih ada kehidupan. Hati ini langsung mempersiapkan diri untuk dimarahi. Sudah biasa. Sudah jadi bagian rutinitas kalau pulang terlalu malam. Aku raih daun pintu dan kubukanya.
Hanya lampu ruang tamu yang telah padam, lainnya belum. Semua lampu ruangan lain masih menyala terang benderang. Percuma mempersiapkan diri, tak kudapati marah yang biasa. Aku malah mendapati hal lain yang paling tak kusukai, kubenci dan hadirnya paling tak aku harapkan walau tetap saja tak bisa kuhindari.
Suara samar berubah menjadi teriakan menebas udara. Teriak berbalas teriak. Makian berbalas makian. Jeritan berbalas jeritan. Tak henti-henti saling sahut menyahut. Aku melihat Ibuku berdiri di samping Ayahku. Wajahnya merah padam siap memberangus siapa saja yang mendekat. Sedang Ayahku duduk di sofa di ruang keluarga melihat TV. Bersikap acuh tak acuh terhadap keberadaan ibuku yang setiap saat siap untuk meledak.
“Kamu itu kerjaannya ngurusin orang luar? Nggak pernah ngerti apa yang aku kerjakan di rumah? Nggak peduli, aku mati pun kamu tak akan tahu”
Ibuku berteriak teriak.
“Aku kerja. Aku capek, kamu kan Cuma di rumah tidak bekerja apa-apa.”
Ayah seperti tak peduli dan berkata lagaknya robot, tak menoleh sedikitpun pada Ibu. Ibu smakin menjadi, berkata lebih kencang. Ayah tak mau kalah, ia mematikan TV dan meladeni Ibu. Aku setengah yakin kalau suara pertengkaran mereka terdengar sampai jarak tiga rumah dari sini. Saat ini, aku setengah berharap kalau aku dilahirkan tuli saja.
Cukup!! Aku muak dengan semua ini, tiap hari selalu seperti ini. Mengapa juga mereka menikah kalau kerjaannya setiap hari bertengkar?
Pilihanku setiap hari adalah tidur awal memakai penutup telinga sambil berharap tidak terbangun. Jarang berhasil, hampir selalu terbangun. Pilihank kedua adalah berdoa supaya adikku yang masih bayi menangis. Tangisannya sangat mujarab, selalu berhasil menghentikan pertengkaran, tak peduli sedahsyat apa pertengkaran itu. Hanya masalahnya adalah aku tak tahu secara pasti kapan adikku menangis, hanya Tuhan dan dot miliknya yang tahu.
Cukup dengan harapan palsu itu, aku lebih suka pilihan ketiga. Pilihan ketiga adalah aku pulang larut malam. Kalau beruntung mereka sudah capek bertengkar dan tidur masing-masing. Kalau tidak beruntung, mereka masih bertengkar tapi pertengkaran itu akan berhenti karena kehadiranku. Berhenti dan mengalihkannya jadi marah-marah dan nasehat tak kunjung habis. Seenggaknya itu masih lebih baik daripada pertengkaran yang tak jelas asal muasal dan pangkal ujungnya.
Tapi mengapa itu tak terjadi kali ini, mereka tak memarahiku, mereka masih bertengkar seolah aku ini tidak ada. Mereka anggap aku ini apa. Apa sudah tidak peduli lagi. Aku benar-benar marah, rasa muakku dengan keadaan ini sudah mencapai titik nadir yang dapat kukontrol.
Aku berjalan ke arah mereka. Melihatku, teriakan Ibu berhenti. Teriakan Ayah juga berhenti dan menoleh kepadaku. “Dari mana saja kamu?? Bla bla bla”
Terlambat Ma, Pa. Kubiarkan mereka ngoceh dahulu sebelum aku meluapkan semua unek-unek yang sudah kupendam sedari dulu. Mereka berhenti, kehabisan nafas. Tak kubiarkan mereka melanjutkan memarahiku. Sekarang giliranku.
“Ma, Pa, aku sudah muak dengan ini semua. Aku capek dengar pertengkaran kalian. Aku lelah..” kuucapkan lambat-lambat agar mereka dapat mendengar setiap kata dengan jelas. Mereka terdiam seakan tak mengerti apa yang aku ucapkan.
Tak kubiarkan mereka menjawab. Dalam satu tarikan nafas. Dipenuhi emosi kuutarakan rencana yang telah kupendam sejak beberapa hari yang lalu “Pa, Ma, aku sudah tak bisa bertahan lagi. Aku pergi dari rumah ini.”
Mereka tercenung. Aku membalikkan badan, cepat kumenuju kamar. Kumasukkan baju-baju secukupnya tas ransel. Kulewati seragam SMA, buat apa toh aku tak akan sekolah. Sejujurnya aku belum siap untuk pergi saat ini, tapi aku tak peduli, aku sudah tak tahan berada di rumah ini. Ibuku menggedor-gedor pintu kamar. Berteriak-teriak ingin masuk. Tak kugubris, di pikiranku saat ini hanya segera berkemas dan pergi dari rumah ini.
Setelah semua siap menurutku, aku buka pintu kamar. Ibu tepat ada di depan pintu. Aku menatapnya, ia berlinangan air mata. Aku tak iba sama sekali, aku malah semakin semangat untuk pergi dari rumah.
“Jangan pergi Nak,jangan!!”
Tak kujawab, aku berlalu melewatinya.
“Kamu mau hidup bagaimana? Kamu mau makan apa, tidur dimana? Tolong jangan lakukan itu nak!!”
Terlambat Ma, pertimbangkan ini sebelum kalian bertengkar setiap harinya. Semakin ibu memohon entah mengapa semakin ada rasa puas dalam hati ini.
Ayah duduk di sofa. TV kembali menyala. Tak terpikirkan olehku, situasi seperti ini dan ayah masih sempat untuk menyalakan TV lagi.
“Mau kemana kamu?”

Ayah bertanya tanpa menoleh padaku. Aku berhenti berjalan, kujawab sekenanya “Apa pedulimu Pa, pokoknya tidak berada di rumah ini.”
Mendadak ia bangkit dari duduknya, berjalan ke arahku. Aku tak gentar, tak terbersit sedikit pun untuk membatalkan kata yang telah kuucap. Ia berdiri tepat di seuluran tangan dariku. Tangannya mengepal menahan marah.
“Kamu pikir kamu bisa hidup tanpaku??”
“Aku pikir malah aku tak bisa hidup lebih lama lagi disini,” Jawabku berbalas.
PLAK. Tamparan mendarat di pipi kiriku. Denyut nyeri kurasakan. Selalu seperti ini, setiap jawabku selalu berakhir seperti ini. Aku muak.
“Siapa suruh kamu jawab pertanyaanku?” wajahnya merah padam diwarnai amarah.
“A-” PLAK… tamparan kedua mendarat di pipiku. "-ku.." Aku meringis merasakan sakit yang lebih. 
“Kamu nantang sekarang!!”
“Enggak,, Aku mu-ak” Aku telah menduga tamparan itu akan datang lagi. Sekarang aku tak ikhlas menerimanya. Aku tangkap tangannya. Kupegang erat dan kutatap matanya. “Akupergi.” Diikuti dengan kubanting sekuat tenaga tangan itu. Perlakuannya barusan menjadi energi yang semakin melecutku untuk pergi dari rumah.
Ibu melongo dan terpakudi dekatku. Genggamannya di lengan kiriku melemah, begitu bergerak segera terlepas.
Begitu keluar dari rumah, aku berlari bersama kegelapan malam dibawah remang cahaya lampu jalan. Kuambil jalan pintas, dan gang-gang kecil yang tak pernah dilewati orangtuaku. Aku baru berhenti ketika hatiku telah merasa aman. Kuhirup udara malam. Segar sekali. Apakah ini udara kebebasan, tanyaku.
Tak ada siapa-siapa di sekitarku. Aku berada di tengah gang yang diapit dinding rumah di kiri kanannya. Di belakangku ada remang lampu jalan dan di depan hanya ada kegelapan malam. Barulah kusadari betapa besar keputusan yang telah aku ambil. Aku bersandar ke dinding dan bahuku merosot. Aku berjongkok dan menatap langit malam, kuyakinkan diri ini kalau keputusan yang aku ambil adalah tepat. Aku telah berhasil kabur dari situasi yang paling aku benci.

Bersambung . . . . .

No comments: