Kutatap bulan malam ini. Tepat
persis berada diatas kepala. Darinya Aku memperkirakan kalau sekarang sudah
lebih dari jam 10 malam. Sudah melewati jam malam. Asyik nongkrong sampai lupa
waktu. Setengah ragu antara pulang atau tidak. Namun aku sudah berdiri tepat di
depan rumah, kutepis keraguan bersamaan dengan membuka pagar rumah.
Samar-samar terdengar suara dari
dalam rumah. Tanda masih ada kehidupan. Hati ini langsung mempersiapkan diri
untuk dimarahi. Sudah biasa. Sudah jadi bagian rutinitas kalau pulang terlalu
malam. Aku raih daun pintu dan kubukanya.
Hanya lampu ruang tamu yang telah
padam, lainnya belum. Semua lampu ruangan lain masih menyala terang benderang.
Percuma mempersiapkan diri, tak kudapati marah yang biasa. Aku malah mendapati
hal lain yang paling tak kusukai, kubenci dan hadirnya paling tak aku harapkan
walau tetap saja tak bisa kuhindari.
Suara samar berubah menjadi
teriakan menebas udara. Teriak berbalas teriak. Makian berbalas makian. Jeritan
berbalas jeritan. Tak henti-henti saling sahut menyahut. Aku melihat Ibuku
berdiri di samping Ayahku. Wajahnya merah padam siap memberangus siapa saja
yang mendekat. Sedang Ayahku duduk di sofa di ruang keluarga melihat TV.
Bersikap acuh tak acuh terhadap keberadaan ibuku yang setiap saat siap untuk
meledak.
“Kamu itu kerjaannya ngurusin
orang luar? Nggak pernah ngerti apa yang aku kerjakan di rumah? Nggak peduli,
aku mati pun kamu tak akan tahu”
Ibuku berteriak teriak.
“Aku kerja. Aku capek, kamu kan
Cuma di rumah tidak bekerja apa-apa.”
Ayah seperti tak peduli dan
berkata lagaknya robot, tak menoleh sedikitpun pada Ibu. Ibu smakin menjadi,
berkata lebih kencang. Ayah tak mau kalah, ia mematikan TV dan meladeni Ibu.
Aku setengah yakin kalau suara pertengkaran mereka terdengar sampai jarak tiga
rumah dari sini. Saat ini, aku setengah berharap kalau aku dilahirkan tuli
saja.
Cukup!! Aku muak dengan semua
ini, tiap hari selalu seperti ini. Mengapa juga mereka menikah kalau kerjaannya
setiap hari bertengkar?
Pilihanku setiap hari adalah
tidur awal memakai penutup telinga sambil berharap tidak terbangun. Jarang
berhasil, hampir selalu terbangun. Pilihank kedua adalah berdoa supaya adikku
yang masih bayi menangis. Tangisannya sangat mujarab, selalu berhasil
menghentikan pertengkaran, tak peduli sedahsyat apa pertengkaran itu. Hanya
masalahnya adalah aku tak tahu secara pasti kapan adikku menangis, hanya Tuhan
dan dot miliknya yang tahu.
Cukup dengan harapan palsu itu,
aku lebih suka pilihan ketiga. Pilihan ketiga adalah aku pulang larut malam.
Kalau beruntung mereka sudah capek bertengkar dan tidur masing-masing. Kalau
tidak beruntung, mereka masih bertengkar tapi pertengkaran itu akan berhenti karena
kehadiranku. Berhenti dan mengalihkannya jadi marah-marah dan nasehat tak
kunjung habis. Seenggaknya itu masih lebih baik daripada pertengkaran yang tak
jelas asal muasal dan pangkal ujungnya.
Tapi mengapa itu tak terjadi
kali ini, mereka tak memarahiku, mereka masih bertengkar seolah aku ini tidak
ada. Mereka anggap aku ini apa. Apa sudah tidak peduli lagi. Aku benar-benar
marah, rasa muakku dengan keadaan ini sudah mencapai titik nadir yang dapat
kukontrol.
Aku berjalan ke arah mereka.
Melihatku, teriakan Ibu berhenti. Teriakan Ayah juga berhenti dan menoleh
kepadaku. “Dari mana saja kamu?? Bla bla bla”
Terlambat Ma, Pa. Kubiarkan
mereka ngoceh dahulu sebelum aku meluapkan semua unek-unek yang sudah kupendam
sedari dulu. Mereka berhenti, kehabisan nafas. Tak kubiarkan mereka melanjutkan
memarahiku. Sekarang giliranku.
“Ma, Pa, aku sudah muak dengan
ini semua. Aku capek dengar pertengkaran kalian. Aku lelah..” kuucapkan
lambat-lambat agar mereka dapat mendengar setiap kata dengan jelas. Mereka
terdiam seakan tak mengerti apa yang aku ucapkan.
Tak kubiarkan mereka menjawab.
Dalam satu tarikan nafas. Dipenuhi emosi kuutarakan rencana yang telah kupendam
sejak beberapa hari yang lalu “Pa, Ma, aku sudah tak bisa bertahan lagi. Aku
pergi dari rumah ini.”
Mereka tercenung. Aku
membalikkan badan, cepat kumenuju kamar. Kumasukkan baju-baju secukupnya tas
ransel. Kulewati seragam SMA, buat apa toh aku tak akan sekolah. Sejujurnya aku
belum siap untuk pergi saat ini, tapi aku tak peduli, aku sudah tak tahan
berada di rumah ini. Ibuku menggedor-gedor pintu kamar. Berteriak-teriak ingin
masuk. Tak kugubris, di pikiranku saat ini hanya segera berkemas dan pergi dari
rumah ini.
Setelah semua siap menurutku, aku
buka pintu kamar. Ibu tepat ada di depan pintu. Aku menatapnya, ia berlinangan
air mata. Aku tak iba sama sekali, aku malah semakin semangat untuk pergi dari
rumah.
“Jangan pergi Nak,jangan!!”
Tak kujawab, aku berlalu
melewatinya.
“Kamu mau hidup bagaimana? Kamu
mau makan apa, tidur dimana? Tolong jangan lakukan itu nak!!”
Terlambat Ma, pertimbangkan ini
sebelum kalian bertengkar setiap harinya. Semakin ibu memohon entah mengapa
semakin ada rasa puas dalam hati ini.
Ayah duduk di sofa. TV kembali
menyala. Tak terpikirkan olehku, situasi seperti ini dan ayah masih sempat
untuk menyalakan TV lagi.
“Mau kemana kamu?”
Ayah bertanya tanpa menoleh
padaku. Aku berhenti berjalan, kujawab sekenanya “Apa pedulimu Pa, pokoknya
tidak berada di rumah ini.”
Mendadak ia bangkit dari
duduknya, berjalan ke arahku. Aku tak gentar, tak terbersit sedikit pun untuk
membatalkan kata yang telah kuucap. Ia berdiri tepat di seuluran tangan dariku.
Tangannya mengepal menahan marah.
“Kamu pikir kamu bisa hidup
tanpaku??”
“Aku pikir malah aku tak bisa
hidup lebih lama lagi disini,” Jawabku berbalas.
PLAK. Tamparan mendarat di pipi
kiriku. Denyut nyeri kurasakan. Selalu seperti ini, setiap jawabku selalu
berakhir seperti ini. Aku muak.
“Siapa suruh kamu jawab
pertanyaanku?” wajahnya merah padam diwarnai amarah.
“A-” PLAK… tamparan kedua
mendarat di pipiku. "-ku.." Aku meringis merasakan sakit yang lebih.
“Kamu nantang sekarang!!”
“Enggak,, Aku mu-ak” Aku telah
menduga tamparan itu akan datang lagi. Sekarang aku tak ikhlas menerimanya. Aku
tangkap tangannya. Kupegang erat dan kutatap matanya. “Akupergi.” Diikuti
dengan kubanting sekuat tenaga tangan itu. Perlakuannya barusan menjadi energi
yang semakin melecutku untuk pergi dari rumah.
Ibu melongo dan terpakudi
dekatku. Genggamannya di lengan kiriku melemah, begitu bergerak segera
terlepas.
Begitu keluar dari rumah, aku
berlari bersama kegelapan malam dibawah remang cahaya lampu jalan. Kuambil
jalan pintas, dan gang-gang kecil yang tak pernah dilewati orangtuaku. Aku baru
berhenti ketika hatiku telah merasa aman. Kuhirup udara malam. Segar sekali.
Apakah ini udara kebebasan, tanyaku.
Tak ada siapa-siapa di
sekitarku. Aku berada di tengah gang yang diapit dinding rumah di kiri
kanannya. Di belakangku ada remang lampu jalan dan di depan hanya ada kegelapan
malam. Barulah kusadari betapa besar keputusan yang telah aku ambil. Aku
bersandar ke dinding dan bahuku merosot. Aku berjongkok dan menatap langit
malam, kuyakinkan diri ini kalau keputusan yang aku ambil adalah tepat. Aku
telah berhasil kabur dari situasi yang paling aku benci.
Bersambung . . . . .
No comments:
Post a Comment