Did you know? That rain is actually never stop.
I use umbrella just so that I wouldn't hate it.
I walk through it, life with it, and give thanks for every little bit drop of rain.

Tuesday, 14 January 2014

Pangeran Senja dan Putri Fajar - part 2

  Wahai nona yang manis disana... Hamba telah kembali.. Ijinkanlah untuk melanjutkan dongeng yang sempat tertunda. Nona duduklah tenang dan nikmati kisahnya. 


  Putri Fajar berada di Negeri yang terletak di ujung timur. Negeri Timur namanya. Negeri itu terkenal akan keindahan seninya. Karya-karya besar berada di sana. Semua rakyatnya adalah seniman yang diakui di seluruh dunia. Mulai dari musik, lukisan, patung, hingga bangunan-bangunan indah tersebar di seluruh negeri. Negeri tersebut adalah surga bagi mereka pecinta Seni.
  Tepat di pusat Negerinya, terdapat sebuah istana yang keindahan yang tak ada tandingan di seantero dunia. Istana itu memiliki taman bunga yang selalu mekar sepanjangan tahun serta dikelilingi danau yang indah. Istana itu adalah mimpi dari semua orang yang mencintai seni. Surga dari karya manusia.
   Di dalam istana itulah Putri Fajar tinggal. Putri dengan rambut pirang layaknya emas. Paras elok nan cantik jelita, seperti karya seni Tuhan di dunia. Kecantikan parasnya tak ada tandingan. Seperti semua anugerahitu  belum cukup, Ia adalah penari dan penyanyi yang sangat mempesona. Kala menari, kupu-kupu pun iri atas atas tariannya. Kala menyanyi, burung-burung pun berhenti berkicau. Banyak orang rela berjalan ribuan kilometer hanya untuk mendengar nyanyian dan tariannya. Bisa di bilang mereka yang pernah menyaksikan pertunjukannya telah menyaksikan sesuatu yang terindah di dunia ini. Mati pun rela.
   “Putri Fajar.. Ada satu orang di gerbang yang datang dari negeri seberang ingin menyaksikan penampilan Putri.” Ujar pengawal kepada Putri Fajar.
   “Siapakah ia gerangan?” jawab Putri Fajar.
   “Ia hanyalah seorang tua sebatang kara yang ingin tahu apakah benar bahwa dunia ini adalah indah”
   Putri tersenyum. “Baiklah, antarkan aku kepada orang itu”
  Pria yang menemuinya jauh dari kata rupawan. Tubuhnya kurus kering dimakan nestapa. Matanya sayu tak ada semangat hidup.
   “Wahai engkau pengembara.. Apakah yang dapat saya perbuat untukmu” Kata Putri Fajar ketika menemui orang itu.
  “Oh, Engkau Putri yang kecantikannya terdengar sampai ke pelosok dunia. Hamba hanyalah seorang pengelana yang telah sakit hati atas dunia ini. Dunia ini sangatlah jahat, tidak ada sesuatu pun yang baik. Namun sebelum Hamba mengakhiri hidup hamba, perbolehkanlah Hamba melihat pertunjukan Putri Fajar yang katanya terindah di dunia ini, yang kata orang-orang itu adalah pertunjukan terbaik di negeri ini.”
  “Kalau itu menjadi keinginanmu, aku Putri Fajar akan mengabulkannya.”
   Seolah angin mengabarkan kalau Putri Fajar akan tampil, semua orang mendadak berkumpul di gerbang istana. Mereka semua ingin menyaksikan penampilan dari Putri Fajar, Putri Fajar hanya bersedia tampil jika ada alasan khusus. Penampilan yang tak terbeli dengan uang.
  Putri Fajar mulai menari. Gaunnya berkibar di setiap gerakannya. Lembut tariannya. Anggun geraknya.  Ritmenya menenangkan. Rangkaian tari itu membangkitkan semangat. Kupu-kupu tertarik dan ikut serta menjadi penari latar. Bunga-bunga bergerak seirama. Semua orang menahan nafas. Tak ada satupun orang yang berbicara. Tak seorang pun mengedipkan mata, seakan hanya satu kedipan mata akan membuatnya kehilangan sesuatu yang berharga. Sorak sorai riuh redam terdengar begitu Putri Fajar selesai menari. Semua orang tak terkecuali.
  “Wahai Putri Fajar, sungguh indah tarianmu, tak ada satupun yang mengalahkannya” Ujar pengembara itu.
   “Trimakasih Tuan. Dan apakah dunia ini masih sama seperti menurut Tuan? Bahwa dunia ini jahat?”
   “Oh, tidak Putri. Bagaimana hamba bisa berkata seperti itu setelah melihat tarian Putri.”
   Putri Fajar menyunggingkan senyum. “Oh, bagus. Dan apakah engkau masih menginginkan kematian setelah ini?”
   “Tidak Putri. Melihat tarian Putri Fajar membuatku semangat. Membuatku memiliki harapan bahwa di hari esok pasti ada kebaikan untukku juga. Tarian Putri tidak hanya indah, namun lebih dari itu, ia mampu membuatku memandang bahwa hidup ini indah begini adanya.”
   “Oh. Syukurlah kalau begitu. Aku senang mendengarnya. Aku bahagia jika karena tarianku ada satu orang yang berubah menjadi lebih baik.”
  “Oh Putri, engkau tidak hanya rupawan, namun hatimu juga seindah berlian. Hamba benar-benar tersanjung mengetahui Putri Fajar menampilkan tariannya menuruti permohonanku, seorang pengembara yang bukan siapa-siapa.”
   “Trimakasih untuk sanjungannya.”
   Dengan diikuti pengawalnya, Putri Senja mohon untuk undur dan kembali ke istana. Meski Putri Fajar telah undur, namun tariannya tetap tinggal di benak setiap pasang mata yang menyaksikan, tinggal dan memberi semangat baru.
   Di beranda, Pangeran Senja menghela nafas panjang setelah sekali lagi selesai membaca kisah tentang Putri Fajar. Ada rasa ingin tahu dan meragu sekaligus akan kebenaran kisah itu. Hampir setiap hari ia memimpikannya. Pangeran Senja dibuat penasaran oleh kisah Putri Fajar. Pangeran Senja memutuskan untuk menemui orang yang serba tahu atas dunia ini untuk mencari tahu kebenaran dari kisah itu.
   Orang tua yang mahatahu berada di rumah sederhana di atas bukit. Orang tua ini memiliki julukan Sang Awan, karena ia mampu mendengar suara dari awan. Dan dari awan juga lah ia mendapatkan segala informasi di dunia ini. Tidak mudah untuk mencapainya. Pangeran Fajar harus melewati hutan, memanjat lembah, menyusuri tebing, hingga mendaki pegunungan sampai akhirnya ia mendapat bukit datar di atas puncak. Bukit itu senantiasa ditutupi awan sepanjang tahun.
   “Wahai Tuanku Pangeran Senja, Ada apakah gerangan sampai Tuanku pergi jauh-jauh untuk menemui hamba?” Sambut orang Tua dengan kumis putih panjang menggantung.
   “Oh, Janganlah Tuanku Sang Awan merendah seperti itu. Tuan pemiliki segala informasi di dunia ini. Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan pada Tuan?” Jawab Pangeran Senja.
   “Silahkan Tuan, Kalau hamba tahu pasti akan hamba beritahukan kepada Tuan.”
   “Beberapa hari yang lalu, hamba diberi sebuah buku oleh saudagar kaya dari negeri seberang. Buku yang baru aku ketahui saat itu. Buku itu mengisahkan cerita tentang Putri Fajar. Aku ingin tahu apakah benar Putri Fajar itu ada di dunia ini?”
   “Iya benar Tuan. Putri Fajar benar-benar ada.”
  “Mengapa aku baru tahu sekarang?” Tanya Pangeran Fajar setangah tak percaya.
  “Oh, mungkin karena Tuan hanya mengurung diri di dalam kastil saja. Tuan hanya mendedikasikan diri untuk mencari kebijaksanaan belaka. Tuan mengabaikan sesuatu yang penting. Sesuatu yang keberadaannya sama dengan kebijaksanaan itu sendiri.”
   “Apa itu? Bersediakah engkau Sang Awan memberitahuku?”
  “Tentu Tuan. Itu adalah keindahan. Keindahan estetika karya seni manusia.”
   “Bukankah kebijaksanaan adalah karya seni?”
   “Benar Tuan. Tapi ada yang lain. Keindahan ini tak ada benar atau salah, baik atau buruk, bagus atau tidak. Keindahan adalah sesuatu yang menyangkut estetika dan dipancarkan oleh jiwa seseorang.”
   Pangeran Senja mulai mengerti apa yang selama ini terasa membuat kosong hatinya. “Dan apakah Putri Fajar bisa mengajariku tentang keindahan yang kau maksud?”
  “Mungkin Tuan, kalau mungkin ada yang bisa mengajarimu, maka dia adalah Putri Fajar.”
   “Oh, Terimakasih Sang Awan. Terimakasih untuk jawabanmu.”
  “Tentu Tuan, Hamba hanyalah penyedia informasi belaka, sedang Tuan penuh kebijaksanaan untuk memanfaatkan informasi yang hamba berikan. Sudah sepatutnya informasi ini diberikan pada Tuan” Jawab Sang ditemani senyuman. “Jadi apa yang akan Tuan lakukan selanjutnya?”
   “Aku ingin menemui Putri Fajar ini. Aku ingin tahu apakah ia dapat mengisi kekosongan hatiku.” Kata Pangeran Fajar mantab.
   “Aku harap Tuan bertindak bijaksana untuk hal ini”
   “Tentu, kurasa ini yang terbaik menurutku, bertemu dengan Putri Fajar” Senyum mengembang dari bibir Pangeran Fajar. Ia membayangkan bagaimana Putri Fajar ini dari kisah yang telah berulang kali ia baca. Ada perasaan aneh menyeruak dari dalam dada.

               Wahai Nona yang manis. Maafkanlah Hamba karena akan beristirahat sejenak. Tolong Sabarlah Nona menanti. Percayalah sebelum Nona sadar, Hamba akan melanjutkan dongeng ini lagi. Karena Hamba ingin melihat senyum pada diri  Nona.

No comments: