Did you know? That rain is actually never stop.
I use umbrella just so that I wouldn't hate it.
I walk through it, life with it, and give thanks for every little bit drop of rain.

Saturday, 4 January 2014

Aku Ingin Hujan


Langit mendung. Semilir udara berhembus dingin mengigit kulit. Suara-suara orang bicara layaknya background musik di mall, tak kugubris dan tak seorang pun perdulikan karena terlalu asyik merunuti tujuannya berada di mall.
Aku duduk di atas sebuah kursi kayu berplitur, berukir dan bersandaran. Seseorang yang sejak kecil kukenal sebagai ayahku duduk di sebelah. Ia duduk dekatku, tangannya merangkul pundakku. Orang normal pasti akan merasa nyaman dan aman duduk bersama ayah dan dalam dekapannya. Tapi tidak dengan diriku saat ini, aku justru merasa tertekan dan terancam. Tak jelas alasannya apa.
Kakiku terus bergoyang-goyang tak sabaran. Entah tak sabaran atau ingin semua segera berakhir. Sentuhan tangannya di bahuku semakin mengerat, terasa menekan. Biasanya aku sangat senang menunggu, menunggu waktu libur, menunggu senja datang, menunggu malam tiba menyelimuti sesak sampai pada menunggu fajar datang mengaburkan sesak. Bahkan aku sering datang lebih awal dari waktu yang ditentukan, bukan karena tidak ingin seseorang menungguku, melainkan karena aku ingin di posisi sebagai penunggu. Melihat wajah bersalah, aneh, ganjil seseorang yang membuat orang lain menunggu itu seumpama hiburan bagiku. Namun tidak untuk saat ini. Proses menunggu saat ini benar-benar menjengkelkan. Aku rapuh dan aku letih.
Detik seolah berjalan lebih lambat dari biasanya. Berulang kali kulihat jam di HP yang sepertinya tak kunjung berubah. Kumainkan game di HP dan entah mengapa selalu kalah dan kalah. Aku tak mampu fokus. Pikiranku melayang ke masa lalu dan masa depan silih berganti, menyiksa. Akhirnya kuhentikan semua kegiatanku, tak kupedulikan sekitarku, aku duduk berjongkok di kursi, melipat kedua kakiku dan meringkuk menutup mata. Sudah pasrah membiarkan pikiran berkelana kemana saja ia mau. Ikhlas.
Baru saja pikiranku akan terbang, pria di sebelahku berkata sudah saatnya. Yeah, anda benar-benar tau bagaimana membuat aku nyaman.
Aku paksa diri ini untuk sadar. Tak kusadari jumlah pria di yang berdiri di dekatku bertambah. Seorang yang baru kukenal beberapa menit yang lalu. Pria itu berpotongan klimis, janggut baru dicukur, memakai kemeja dan dasi. Jasnya terlihat kekecilan di tubuhnya yang besar, untung saja koper di tangannya yang besar pas dengan tubuhnya yang besar.
“Kamu siap?”
Ia berkata seperti bos, aku malas menanggapinya jadi aku hanya menganggukkan kepala saja.
“Kamu sudah mengerti apa yang harus kamu lakukan?”
Aku mengangguk sekali lagi.
“Okey. Ayo kita masuk dan menghadapinya.”
Ucapnya benar-benar mudah seolah telah berulang kali dia melakukan seperti ini. Wajahnya sedatar bakul mlinjo di sebelah rumah, tak peduli selama kamu bayar.
Aku masuk ke dalam, tempat pertama yang kucari adalah kursi.. Beruntung tak sampai dua langkah kaki dari pintu masuk ada kursi, langsung saja aku duduk disitu walau ada barisan kursi berderet-deret memanjang dibelakangnya. Padahal biasanya aku sebisa mungkin duduk di paling belakang. Sederhana saja, karena aku suka mengawasi orang-orang lain di depanku, tingkah laku, ekspresi dan apa yang dikerjakan mereka. Duduk di belakang membuatku punya kesempatan untuk melihat lebih banyak, dan aku suka itu. Sedang sekarang aku memilih duduk di depan. Satu alasan saja, terlalu letih.
Aku menatap ke bagian depan, ada satu orang berdiri di samping pintu. Di hadapannya satu orang duduk menghadapi laptop, sibuk mencatat sesuatu. Di depanku berdiri menjulang meja kayu tinggi. Tiga orang pria berjubah hitam dengan selendang merah terkalung di lehernya duduk di balik meja itu. Potongannya benar-benar rapi dan klimis dengan model kumis berbeda-beda, tipis, sedengan dan tebal.
Tak lama menyusul masuk wanita memakai baju terusan merah tua yang sedari kecil kukenali sebagai mamaku. Ia berjalan bersama dengan perempuan memakai blouse hitam dan rok hitam selutut. Bedaknya begitu tebal seolah mengusahakan untuk terlihat lebih tua daripada umurnya. Mataku beradu dengan wanita itu, ia tersenyum padaku. Tak ada pilihan selain membalas senyumnya, tapi otot wajahku kaku, tak mau bergerak. Aku paksakan diri untuk tersenyum tapi masih tak aku ketahui apakah saat ini aku tersenyum.
Pintu ditutup, setengah jiwaku menjerit ingin kabur dari tempat ini. Setengah jiwa saja kurasa cukup kalau hanya untuk mengangguk dan menggelengkan kepala saja. Aku tak ingin berada disini, aku ingin pergi.
Ketokan suara palu menggema memenuhi ruangan. Terlambat sudah. Sudah tak mungkin untuk kabur.
“Sidang keempat untuk mendengarkan pendapat dari pihak anak akan dimulai, apakah pihak anak sudah ada di tempat?”
Tiga orang di depan menatap padaku. Orang yang duduk di tengah memerintahkanku  maju duduk di depan. Di sebuah kursi satu-satunya yang berada di tengah. kursi empuk dengan sandaran empuk dan pegangan tangan juga untuk membuat nyaman senyaman-nyamannya. Tapi tetap bukan nyaman yang kudapat, tapi mencekam. Kursi pesakitan untuk terdakwa di pengadilan. Getir rasanya, seperti minum obat pahit tanpa madu yang pahitnya tak kunjung menghilang, malah semakin lama semakin memahit.
Seperti yang sudah disepakati dengan pria tadi sebelum kami masuk Aku cukup menjawab dengan menganggukan kepala kalau benar dan sesuai mauku atau menggelengkan kepala kalau salah dan tidak sesuai mauku. Dan juga untuk berkata tidak tahu kalau pertanyaannya abu-abu. Tidak jujur-jujur dikit tidak apa-apa demi meraih apa maumu, begitu katanya. Ia bahkan menekankan untuk memihak kepada ayahku.
Aku salah, tanpa kabur dan dengan berada di dalam pun jiwaku sudah terbelah dua, untuk ayahku dan mamaku. Mana bisa aku memihak salah satunya. Aku telah komitmen untuk berkata jujur apa adanya, karena kejujuran pasti tidak memihak, ia hanya memihak pada kenyataan.
Pertanyaan awal masih mudah, tanpa perlu berpikir aku menganggukkan kepala. Tapi semakin lama semakin sulit dan absurd untuk kujawab. Anggukan kepala dan kata-kata “tidak tahu” keluar silih berganti. Bukan karena aku tidak tahu kenyataannya, tapi aku bingung harus menjawab apa. Banyak pertanyaan dan pernyataan tidak bisa dijawab sederhana hanya dengan iya atau tidak. 50% kebohongan dan 50% kenyataan. Tak ada pilihan lain selain kujawab tidak tahu.
“Apakah ayahmu sering keluar meninggalkan ibumu saat adekmu baru saja lahir?”
What the?!!! Apa-apan ini, janjinya aku hanya cukup jawab angguk, geleng dan tidak tahu, bukan seperti ini. Ini tidak sesuai kesepakatan. “Iya, keluar untuk kerja dan urusan gereja” apa yang bisa kuperbuat memang itu kenyataannya.
“Jadi beliau tidak memperhatikanmu?”
Ini tidak boleh dibiarkan aku harus menambahkan sesuatu untuk memperbaiki keadaan. “Dulu iya, tapi sekarang telah berubah dan memperhatikanku. Telah jadi ayah yang lebih baik”
“Yang saya tanyakan adalah dulu, terimakasih untuk jawabannya”
Shit!! Past is past, now is now. Kenapa harus diungkit-ungkit?.
Aku semakin menjerit dan terkapar, setiap pernyataan dari masa lalu menyudutkan ayah. Tak ada yang bisa aku lakukan selain berkata tidak tahu. Tapi orang-orang tua di depan malah mengangguk-anggukkan kepala setiap aku bilang tidak tahu. Seolah tidak tahu itu berarti iya benar.
“Pertanyaan terakhir.. Ayahmu mati-matian untuk mempertahankan pernikahannya, sedangkan mamamu juga mati-matian mempertahankan ingin cerai. Kamu sebagai pihak anak apa yang kamu inginkan?”
Aku menduga hati orang tua berjubah hitam di depanku ini pasti sudah beku, atau sudah hilang karena terlalu sering mengurusi perkara seperti ini. Ia tak bertele-tele dan tanpa simpati langsung bertanya ke inti permasalahan yang paling menyakitkan.
Aku menarik nafas panjang. Ribuan kali telah kupikirkan jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan ini. Tak terhitung sudah aku merenung karenanya. Dan apa yang terjadi adalah bajingan. Jawaban itu hilang hanya sedetik setelah pertanyaan itu terucap. aku hanya diam dan menggigit bibir bawahku.
Aku adalah kalkulasi, setiap jawaban dan perkataan biasanya selalu kupikirkan, jarang aku berkata hanya berlandaskan perasaan belaka. Tapi kini tak ada pilihan selain menjawab memakai perasaan. Pikiranku telah mengkhianatiku. Aku berdiri untuk bicara.
“Ini adalah pertanyaan tersulit dan telah kupikirkan ribuan kali untuk menemukan jawabannya. Orang tua pasti memikirkan kebahagiaan anaknya, dan sudah wajar anak memikirkan kebahagiaan orang tua sebagai balasannya…”
Aku berhenti berkata., Sekelebat kenangan indah masa lalu silih berganti masuk ke dalam kepala. Kenangan indah yang tak mungkin terulang. Aku teringat adikku yang bahkan belum sempat merasakan kenangan indahku. Hatiku hancur. Air mata mengambang di pelupuk mataku, kata-kata bergetar.
“Mama memilih mengejar kebahagiaan dengan cerai, Bapak memilih dengan mempertahankannya. Dan kami anak berada di tengah-tengahnya, tak tahu  harus apa.”
Sekuat tenaga aku mempertahankan airmataku untuk tak terjatuh. Doktrin sedari kecil kalau cowok tak boleh menangis menjadi pedomanku. Aku tak pernah menangis, setidaknya tidak di hadapan orang lain. Ini adalah pertamakalinya bagiku. Pandanganku mengabur, kata-kataku semakin bergetar dan terbata-bata. Aku semakin tidak tahu dan limbung, lututku lemas seakan sentuhan jari orang lain cukup untuk merobohkanku.
“Jujur aku tak tahu, tapi kalau aku disuruh memilih tentu aku tak ingin perceraian. Kalau aku bisa egois aku tak mau ada itu perceraian. Tidak ada seorang pun anak di dunia ini yang ingin orang tuanya bercerai. Tidak ada. Dan pertanyaan yang bapak ajukan adalah pertanyaan bodoh menurutku.”
Aku mengakiri dengan makian ringan. Aku tak ingin melanjutkan perkataanku. Aku sudah tak sanggup berkata dan memilih merosot di tempat duduk. Sedikit lebih lama pasti airmataku sudah meluber dan jatuh menghambur.
“Ya terimakasih. Kamu bisa kembali ke tempat duduk”
Sekilas aku melihat wajah orang itu. Wajah datar itu lagi, wajah yang sama dengan tukang mlinjo di sebelah rumah.
Dia kemudian melanjutkan bertanya kepada ayah dan mamaku kalau  mungkin ada lagi yang ingin ditambahkan. Ayah sudah pasrah menggeleng dengan merundukkan kepala. Ia bahkan tak berani menoleh kepadaku.
Berbeda dengan mamaku, ia berkata panjang lebar alasannya untuk tetap bercerai. Sebagian kuakui memang benar. Tapi aku tak mengacuhkannya, karena semua yang dikatakannya aku yakin juga terjadi di keluarga lain, dan keluarga lain masih bisa bertahan dengan semua itu. Kemudian ia mulai berkata menjelekkan ayah.
Shit, aku tak suka, karena mama juga ada jeleknya, tentang hubungannya dengan pria itu. Hentikan Ma, jangan berbohong lagi.
Mama mulai berkata dengan sesegukan dan tangisan air mata. Mau tak mau aku iba sedikit. Perkataan panjang lebar itu diakhiri dengan derai air mata saat meminta maaf kepadaku. Ia berkata maaf tak bisa jadi mama yang baik, maaf untuk semuanya dan maaf tidak bisa menuruti kemauanku untuk tak bercerai, perceraian harus tetap berlanjut.
Kalau sudah tahu salah, mengapa tak memperbaikinya dan membatalkannya. Hanya mengucapkan maaf dan tetap melanjutkan kesalahan. Logika macam apa ini?
Aku benci ini. Aku tak suka. Kukerahkan segala energiku untuk berdiri dan beranjak dari ruangan ini. Dadaku sesak, tak bisa bernafas harus pergi enyah dari sini. Semua mata memandangku, seolah aku ingin berkata sesuatu. Kuacuhkan dan berlari menuju pintu, kudorong paksa dan aku pergi dari tempat itu. Tak menoleh sama sekali.
Aku cepat keluar dari tempat ini. Aku butuh udara. Aku lupa kalau tak membawa kendaraan karena berangkat bersama Ayah. Aku juga tak ingin naik angkutan umum, sekali lagi doktrin bahwa tangisan cowok tak boleh diketahui orang lain menjadi alasan. Aku putuskan untuk berjalan, berjalan dan berjalan.
Aku tak tahu sudah berjalan berapa meter. Kurasa belum begitu jauh sampai sebuah mobil menepi di sebelahku. Mobil yang kutahu, wanita yang kukenal dan hadirnya sangat ingin kuhindari untuk saat ini.
“Kok jalan kaki. Ayo bareng mama saja”
Sudah tak kulihat bekas-bekas air mata, sepertinya telah dihilangkan make up. “Nggak,” aku menggelengkan kepala.
“Mau kemana?”
“nggak tahu,” jawabku sejudes yang aku bisa. Aku ingin sendiri, tolong biarkan aku sendiri.
“Ya sudah mama nggak akan Tanya lagi, ini buat kamu”
Ia menyodorkan uang, 4 lembar pecahan lima puluh ribuan. What the?!! Apa-apaan ini. Kali ini aku benar-benar marah. Aku muak. Aku jijik dengan uang itu. Aku meragu apakah ini mama yang sama yang sangat kusayangi dulu.
Kuterima uang itu. Kugenggam. Kuremas. Dan kukembalikan lagi uang itu. “Aku nggak butuh.”
Ia melongo heran tak percaya. “Maksudmu?”
“Aku nggak butuh uang Mama, aku hanya butuh Mama mengertiku”
Tak kubiarkan ia punya kesempatan untuk menjawab. Aku melompati parit di sebelah, berlari di sawah. Terus berlari berlari dan berlari tanpa henti. Sampai kakiku meronta kecapekan dan aku duduk tersungkur di tengah sawah.
Aku tau mama terluka. Aku tau Ayah terluka. Aku sama, aku juga terluka. Tapi bukankah tugas orangtua untuk menjaga anaknya supaya tak terluka, bukan malah melukainya. Mereka saling melukai tanpa ada yang jadi korban, karena akulah korbannya.
Kutatap langit mendung “Tuhan, aku ingin hujan!!" Kutundukkan kepala seraya berbisik, "Dan hujan, tolong buat aku menangis!!”


Kupersembahkan untuk diriku sendiri.
Yang telah berani membuka masa lalu, menghadapinya.
Dan akhirnya membiarkannya tetap berada di masa lalu.
Past is past, now is now.

2 comments:

Unknown said...

Good story...:-)
tp, ini beneran atau fiktif belaka??

roniisama said...

Menurutmu Jay?? Kubiarkan imaginasimu jadi liar.. hahay..