Langit mendung. Semilir
udara berhembus dingin mengigit kulit. Suara-suara orang bicara layaknya background musik di
mall, tak kugubris dan tak seorang pun perdulikan karena terlalu asyik merunuti
tujuannya berada di mall.
Aku duduk di atas
sebuah kursi kayu berplitur, berukir dan bersandaran. Seseorang yang sejak
kecil kukenal sebagai ayahku duduk di sebelah. Ia duduk dekatku, tangannya merangkul
pundakku. Orang normal pasti akan merasa nyaman dan aman duduk bersama ayah dan
dalam dekapannya. Tapi tidak dengan diriku saat ini, aku justru merasa tertekan
dan terancam. Tak jelas alasannya apa.
Kakiku terus
bergoyang-goyang tak sabaran. Entah tak sabaran atau ingin semua segera
berakhir. Sentuhan tangannya di bahuku semakin mengerat, terasa menekan. Biasanya
aku sangat senang menunggu, menunggu waktu libur, menunggu senja datang, menunggu
malam tiba menyelimuti sesak sampai pada menunggu fajar datang mengaburkan
sesak. Bahkan aku sering datang lebih awal dari waktu yang ditentukan, bukan
karena tidak ingin seseorang menungguku, melainkan karena aku ingin di posisi
sebagai penunggu. Melihat wajah bersalah, aneh, ganjil seseorang yang membuat
orang lain menunggu itu seumpama hiburan bagiku. Namun tidak untuk saat ini.
Proses menunggu saat ini benar-benar menjengkelkan. Aku rapuh dan aku letih.
Detik seolah berjalan
lebih lambat dari biasanya. Berulang kali kulihat jam di HP yang sepertinya tak
kunjung berubah. Kumainkan game di HP dan entah mengapa selalu kalah dan kalah.
Aku tak mampu fokus. Pikiranku melayang ke masa lalu dan masa depan silih
berganti, menyiksa. Akhirnya kuhentikan semua kegiatanku, tak kupedulikan
sekitarku, aku duduk berjongkok di kursi, melipat kedua kakiku dan meringkuk
menutup mata. Sudah pasrah membiarkan pikiran berkelana kemana saja ia mau.
Ikhlas.
Baru saja pikiranku
akan terbang, pria di sebelahku berkata sudah saatnya. Yeah, anda benar-benar
tau bagaimana membuat aku nyaman.
Aku paksa diri ini
untuk sadar. Tak kusadari jumlah pria di yang berdiri di dekatku bertambah.
Seorang yang baru kukenal beberapa menit yang lalu. Pria itu berpotongan
klimis, janggut baru dicukur, memakai kemeja dan dasi. Jasnya terlihat
kekecilan di tubuhnya yang besar, untung saja koper di tangannya yang besar pas
dengan tubuhnya yang besar.
“Kamu siap?”
Ia berkata seperti bos,
aku malas menanggapinya jadi aku hanya menganggukkan kepala saja.
“Kamu sudah mengerti
apa yang harus kamu lakukan?”
Aku mengangguk sekali
lagi.
“Okey. Ayo kita masuk
dan menghadapinya.”
Ucapnya benar-benar
mudah seolah telah berulang kali dia melakukan seperti ini. Wajahnya sedatar
bakul mlinjo di sebelah rumah, tak peduli selama kamu bayar.
Aku masuk ke dalam,
tempat pertama yang kucari adalah kursi.. Beruntung tak sampai dua langkah kaki
dari pintu masuk ada kursi, langsung saja aku duduk disitu walau ada barisan
kursi berderet-deret memanjang dibelakangnya. Padahal biasanya aku sebisa
mungkin duduk di paling belakang. Sederhana saja, karena aku suka mengawasi
orang-orang lain di depanku, tingkah laku, ekspresi dan apa yang dikerjakan mereka.
Duduk di belakang membuatku punya kesempatan untuk melihat lebih banyak, dan
aku suka itu. Sedang sekarang aku memilih duduk di depan. Satu alasan saja, terlalu
letih.
Aku menatap ke bagian
depan, ada satu orang berdiri di samping pintu. Di hadapannya satu orang duduk
menghadapi laptop, sibuk mencatat sesuatu. Di depanku berdiri menjulang meja
kayu tinggi. Tiga orang pria berjubah hitam dengan selendang merah terkalung di
lehernya duduk di balik meja itu. Potongannya benar-benar rapi dan klimis
dengan model kumis berbeda-beda, tipis, sedengan dan tebal.
Tak lama menyusul masuk
wanita memakai baju terusan merah tua yang sedari kecil kukenali sebagai
mamaku. Ia berjalan bersama dengan perempuan memakai blouse hitam dan rok hitam
selutut. Bedaknya begitu tebal seolah mengusahakan untuk terlihat lebih tua
daripada umurnya. Mataku beradu dengan wanita itu, ia tersenyum padaku. Tak ada
pilihan selain membalas senyumnya, tapi otot wajahku kaku, tak mau bergerak.
Aku paksakan diri untuk tersenyum tapi masih tak aku ketahui apakah saat ini
aku tersenyum.
Pintu ditutup, setengah
jiwaku menjerit ingin kabur dari tempat ini. Setengah jiwa saja kurasa cukup
kalau hanya untuk mengangguk dan menggelengkan kepala saja. Aku tak ingin
berada disini, aku ingin pergi.
Ketokan suara palu
menggema memenuhi ruangan. Terlambat sudah. Sudah tak mungkin untuk kabur.
“Sidang keempat untuk
mendengarkan pendapat dari pihak anak akan dimulai, apakah pihak anak sudah ada
di tempat?”
Tiga orang di depan
menatap padaku. Orang yang duduk di tengah memerintahkanku maju duduk di depan. Di sebuah kursi
satu-satunya yang berada di tengah. kursi empuk dengan sandaran empuk dan
pegangan tangan juga untuk membuat nyaman senyaman-nyamannya. Tapi tetap bukan
nyaman yang kudapat, tapi mencekam. Kursi pesakitan untuk terdakwa di
pengadilan. Getir rasanya, seperti minum obat pahit tanpa madu yang pahitnya
tak kunjung menghilang, malah semakin lama semakin memahit.
Seperti yang sudah
disepakati dengan pria tadi sebelum kami masuk Aku cukup menjawab dengan
menganggukan kepala kalau benar dan sesuai mauku atau menggelengkan kepala
kalau salah dan tidak sesuai mauku. Dan juga untuk berkata tidak tahu kalau
pertanyaannya abu-abu. Tidak jujur-jujur dikit tidak apa-apa demi meraih apa
maumu, begitu katanya. Ia bahkan menekankan untuk memihak kepada ayahku.
Aku salah, tanpa kabur
dan dengan berada di dalam pun jiwaku sudah terbelah dua, untuk ayahku dan
mamaku. Mana bisa aku memihak salah satunya. Aku telah komitmen untuk berkata
jujur apa adanya, karena kejujuran pasti tidak memihak, ia hanya memihak pada
kenyataan.
Pertanyaan awal masih
mudah, tanpa perlu berpikir aku menganggukkan kepala. Tapi semakin lama semakin
sulit dan absurd untuk kujawab. Anggukan kepala dan kata-kata “tidak tahu”
keluar silih berganti. Bukan karena aku tidak tahu kenyataannya, tapi aku
bingung harus menjawab apa. Banyak pertanyaan dan pernyataan tidak bisa dijawab
sederhana hanya dengan iya atau tidak. 50% kebohongan dan 50% kenyataan. Tak
ada pilihan lain selain kujawab tidak tahu.
“Apakah ayahmu sering
keluar meninggalkan ibumu saat adekmu baru saja lahir?”
What the?!!! Apa-apan
ini, janjinya aku hanya cukup jawab angguk, geleng dan tidak tahu, bukan
seperti ini. Ini tidak sesuai kesepakatan. “Iya, keluar untuk kerja dan urusan
gereja” apa yang bisa kuperbuat memang itu kenyataannya.
“Jadi beliau tidak
memperhatikanmu?”
Ini tidak boleh
dibiarkan aku harus menambahkan sesuatu untuk memperbaiki keadaan. “Dulu iya,
tapi sekarang telah berubah dan memperhatikanku. Telah jadi ayah yang lebih
baik”
“Yang saya tanyakan
adalah dulu, terimakasih untuk jawabannya”
Shit!! Past is past,
now is now. Kenapa harus diungkit-ungkit?.
Aku semakin menjerit
dan terkapar, setiap pernyataan dari masa lalu menyudutkan ayah. Tak ada yang
bisa aku lakukan selain berkata tidak tahu. Tapi orang-orang tua di depan malah
mengangguk-anggukkan kepala setiap aku bilang tidak tahu. Seolah tidak tahu itu
berarti iya benar.
“Pertanyaan terakhir..
Ayahmu mati-matian untuk mempertahankan pernikahannya, sedangkan mamamu juga
mati-matian mempertahankan ingin cerai. Kamu sebagai pihak anak apa yang kamu
inginkan?”
Aku menduga hati orang
tua berjubah hitam di depanku ini pasti sudah beku, atau sudah hilang karena
terlalu sering mengurusi perkara seperti ini. Ia tak bertele-tele dan tanpa
simpati langsung bertanya ke inti permasalahan yang paling menyakitkan.
Aku menarik nafas
panjang. Ribuan kali telah kupikirkan jawaban yang tepat untuk menjawab
pertanyaan ini. Tak terhitung sudah aku merenung karenanya. Dan apa yang
terjadi adalah bajingan. Jawaban itu hilang hanya sedetik setelah pertanyaan
itu terucap. aku hanya diam dan menggigit bibir bawahku.
Aku adalah kalkulasi,
setiap jawaban dan perkataan biasanya selalu kupikirkan, jarang aku berkata
hanya berlandaskan perasaan belaka. Tapi kini tak ada pilihan selain menjawab
memakai perasaan. Pikiranku telah mengkhianatiku. Aku berdiri untuk bicara.
“Ini adalah pertanyaan
tersulit dan telah kupikirkan ribuan kali untuk menemukan jawabannya. Orang tua
pasti memikirkan kebahagiaan anaknya, dan sudah wajar anak memikirkan
kebahagiaan orang tua sebagai balasannya…”
Aku berhenti berkata., Sekelebat
kenangan indah masa lalu silih berganti masuk ke dalam kepala. Kenangan indah
yang tak mungkin terulang. Aku teringat adikku yang bahkan belum sempat
merasakan kenangan indahku. Hatiku hancur. Air mata mengambang di pelupuk
mataku, kata-kata bergetar.
“Mama memilih mengejar
kebahagiaan dengan cerai, Bapak memilih dengan mempertahankannya. Dan kami anak
berada di tengah-tengahnya, tak tahu
harus apa.”
Sekuat tenaga aku
mempertahankan airmataku untuk tak terjatuh. Doktrin sedari kecil kalau cowok
tak boleh menangis menjadi pedomanku. Aku tak pernah menangis, setidaknya tidak
di hadapan orang lain. Ini adalah pertamakalinya bagiku. Pandanganku mengabur,
kata-kataku semakin bergetar dan terbata-bata. Aku semakin tidak tahu dan
limbung, lututku lemas seakan sentuhan jari orang lain cukup untuk
merobohkanku.
“Jujur aku tak tahu,
tapi kalau aku disuruh memilih tentu aku tak ingin perceraian. Kalau aku bisa
egois aku tak mau ada itu perceraian. Tidak ada seorang pun anak di dunia ini
yang ingin orang tuanya bercerai. Tidak ada. Dan pertanyaan yang bapak ajukan
adalah pertanyaan bodoh menurutku.”
Aku mengakiri dengan
makian ringan. Aku tak ingin melanjutkan perkataanku. Aku sudah tak sanggup
berkata dan memilih merosot di tempat duduk. Sedikit lebih lama pasti airmataku
sudah meluber dan jatuh menghambur.
“Ya terimakasih. Kamu
bisa kembali ke tempat duduk”
Sekilas aku melihat
wajah orang itu. Wajah datar itu lagi, wajah yang sama dengan tukang mlinjo di
sebelah rumah.
Dia kemudian
melanjutkan bertanya kepada ayah dan mamaku kalau mungkin ada lagi yang ingin ditambahkan. Ayah
sudah pasrah menggeleng dengan merundukkan kepala. Ia bahkan tak berani menoleh
kepadaku.
Berbeda dengan mamaku,
ia berkata panjang lebar alasannya untuk tetap bercerai. Sebagian kuakui memang
benar. Tapi aku tak mengacuhkannya, karena semua yang dikatakannya aku yakin juga
terjadi di keluarga lain, dan keluarga lain masih bisa bertahan dengan semua
itu. Kemudian ia mulai berkata menjelekkan ayah.
Shit, aku tak suka,
karena mama juga ada jeleknya, tentang hubungannya dengan pria itu. Hentikan
Ma, jangan berbohong lagi.
Mama mulai berkata
dengan sesegukan dan tangisan air mata. Mau tak mau aku iba sedikit. Perkataan
panjang lebar itu diakhiri dengan derai air mata saat meminta maaf kepadaku. Ia
berkata maaf tak bisa jadi mama yang baik, maaf untuk semuanya dan maaf tidak
bisa menuruti kemauanku untuk tak bercerai, perceraian harus tetap berlanjut.
Kalau sudah tahu salah,
mengapa tak memperbaikinya dan membatalkannya. Hanya mengucapkan maaf dan tetap
melanjutkan kesalahan. Logika macam apa ini?
Aku benci ini. Aku tak
suka. Kukerahkan segala energiku untuk berdiri dan beranjak dari ruangan ini.
Dadaku sesak, tak bisa bernafas harus pergi enyah dari sini. Semua mata
memandangku, seolah aku ingin berkata sesuatu. Kuacuhkan dan berlari menuju
pintu, kudorong paksa dan aku pergi dari tempat itu. Tak menoleh sama sekali.
Aku cepat keluar dari
tempat ini. Aku butuh udara. Aku lupa kalau tak membawa kendaraan karena
berangkat bersama Ayah. Aku juga tak ingin naik angkutan umum, sekali lagi
doktrin bahwa tangisan cowok tak boleh diketahui orang lain menjadi alasan. Aku
putuskan untuk berjalan, berjalan dan berjalan.
Aku tak tahu sudah
berjalan berapa meter. Kurasa belum begitu jauh sampai sebuah mobil menepi di
sebelahku. Mobil yang kutahu, wanita yang kukenal dan hadirnya sangat ingin
kuhindari untuk saat ini.
“Kok jalan kaki. Ayo
bareng mama saja”
Sudah tak kulihat
bekas-bekas air mata, sepertinya telah dihilangkan make up. “Nggak,” aku
menggelengkan kepala.
“Mau kemana?”
“nggak tahu,” jawabku
sejudes yang aku bisa. Aku ingin sendiri, tolong biarkan aku sendiri.
“Ya sudah mama nggak
akan Tanya lagi, ini buat kamu”
Ia menyodorkan uang, 4
lembar pecahan lima puluh ribuan. What the?!! Apa-apaan ini. Kali ini aku benar-benar
marah. Aku muak. Aku jijik dengan uang itu. Aku meragu apakah ini mama yang
sama yang sangat kusayangi dulu.
Kuterima uang itu.
Kugenggam. Kuremas. Dan kukembalikan lagi uang itu. “Aku nggak butuh.”
Ia melongo heran tak
percaya. “Maksudmu?”
“Aku nggak butuh uang
Mama, aku hanya butuh Mama mengertiku”
Tak kubiarkan ia punya
kesempatan untuk menjawab. Aku melompati parit di sebelah, berlari di sawah.
Terus berlari berlari dan berlari tanpa henti. Sampai kakiku meronta kecapekan
dan aku duduk tersungkur di tengah sawah.
Aku tau mama terluka.
Aku tau Ayah terluka. Aku sama, aku juga terluka. Tapi bukankah tugas orangtua
untuk menjaga anaknya supaya tak terluka, bukan malah melukainya. Mereka saling
melukai tanpa ada yang jadi korban, karena akulah korbannya.
Kutatap langit mendung “Tuhan,
aku ingin hujan!!" Kutundukkan kepala seraya berbisik, "Dan hujan, tolong buat aku menangis!!”
Kupersembahkan untuk diriku
sendiri.
Yang telah berani membuka masa lalu,
menghadapinya.
Dan akhirnya membiarkannya tetap
berada di masa lalu.
Past is past, now is now.
2 comments:
Good story...:-)
tp, ini beneran atau fiktif belaka??
Menurutmu Jay?? Kubiarkan imaginasimu jadi liar.. hahay..
Post a Comment