Engkau melipat tangan di dada. Dadamu terasa begitu sesak kala bersama dia. Dia yang sangat engkau cinta, setiap hadirnya sukses membuat hidupmu bergairah. Engkau selalu mengawasinya dengan tatap mengingini. Engkau yang selalu siap ada, sanggup melakukan apapun dan rela mengorbankan segalanya bagi dia. Namun engkau memilih mengatup mulut rapat bersembunyi dalam bayang ketidaktahuan dan ketidakpastian. Engkau yang takut mengekspresikan cinta karena akan mengubah sikap dia kepadamu.
Engkau yang tulus dan pengecut.
Engkau begitu takut kehilangan perhatian dari dia. Engkau hanya berani berada di belakang dan mendukung dia. Mendukung dia memperoleh segala sesuatu yang dia mau. Dia berkata kepada engkau bahwa dia mencinta ia yang adalah temanmu. Engkau membisu membeku tak menduga. Engkau tak sanggup menolak dia. Engkau membantu dia untuk jadian dengan ia. Engkau masih mengingat cemerlang senyumnya saat berhasil jadian. Lalu engkau hanya tersenyum dalam ratapan doa memohon kebahagiaan bagi dia.
Dia yang lugu dan kau cinta.
Ia yang berkharisma telah menaklukkan hati Dia. Setiap senyum yang engkau keluarkan dihadapannya adalah kebohongan. Engkau tak bisa berbuat apa-apa. Engkau yang tahu segalanya tentang ia tapi tak bisa mengatakan senilapun kepada dia. Engkau menimbun semuanya seorang diri. Ia adalah buaya jantan yang menipu dia. Tapi engkau tak melakukan apapun selain berjanji pada diri sendiri akan selalu ada untuk dia. Selalu ada di saat apapun.
Ia yang mencintai dalam kepalsuan.
Semuanya terlambat. Engkau menerima undangan pernikahannya. Engkau membisu dan membantu setiap jengkal proses. Engkau yang dikenali sebagai mempelai pria dan dengan segala nalar mengharap itu kenyataan. Engkau tak pernah melihat dia sebahagia itu. Dia di atas pelaminan bersama ia. Engkau bahagia demi dia, sampai engkau tahu alasan kenapa menikah. Hanya karena sebuah kecelakaan proses ritual itu terjadi. Engkau tak tahu, dia tak mau membebanimu dengan pengetahuan yang akan menyakitimu.
Dia menemuimu dengan uraian air mata. Dia menjerit minta pertolonganmu. Dia mengetahui semuanya. Dia membandingkan engkau dengan ia. Dia yang tertipu. Engkau meyakinkan kalau semua akan baik-baik saja. Dia menangis, engkau kapar karenanya. Dia ingin meminta waktu diulang. Dia tak ingin mengenalmu seperti ini, sebagai sahabat. Dia ingin sedari awal memulainya dengan tujuan sebagai pasangan hidup. Engkau terdiam. Engkau menyalahkan diri sendiri. Engkau yang dengan kepengecutanmu malah melakukan tindakan terkejam untuk dia yang kau cintai. Engkaulah yang merenggut bahagianya. Diammu yang menjadikan dia seperti ini.
Engkau yang kecewa dan menyesal.
--Kecewa adalah bagian dari life-experience--
1 comment:
who is "dia"??
Post a Comment